Kompas.com - 19/11/2021, 14:00 WIB
Ilustrasi Dugong atau Duyung SHUTTERSTOCK/Shandarov ArkadiiIlustrasi Dugong atau Duyung

KOMPAS.comDugong adalah salah satu mamalia yang banyak hidup di perairan dangkal di Indonesia. Sayangnya, populasi dugong termasuk ke dalam kategori rentan terhadap kepunahan atau vulnerable berdasarkan IUCN Red List.

Selain itu, dugong termasuk hewan yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Hal ini tertuang dalam UU Nomor 7 Tahun 1999 dan Permen LHK Nomor 20 Tahun 2018. Rentannya dugong terhadap kepunahan disebabkan karena kerusakan lingkungan, perburuan liar, dan lambatnya reproduksi dugong.

Morfologi dugong

Dugong atau duyung adalah mamalia laut yang memiliki nama latin Dugong dugon. Spesies ini tidak hanya ditemukan di Indonesia, namun juga di perairan Indo Pasifik, Afrika Timur, dan Kepulauan Solomon.

Tubuh dugong memiliki panjang 2,4 sampai 3 meter dengan berat bervariasi dari 230 sampai 930 kilogram. Dugong memiliki sirip panjang yang terletak di bagian dada. Panjang siripnya berkisar 35 sampai 45 sentimeter. Sirip ini bersama dengan ekor berfungsi sebagai pendorong dan kemudi.

Ketika pertama kali dilahirkan, dugong berwarna krem pucat. Semakin dewasa, warna tubuhnya akan berubah menjadi abu-abu gelap. Dugong bisa hidup selama 40 sampai 70 tahun.

Baca juga: Jangan Tertukar Lagi, Ini Beda Dugong, Pesut dan Lumba-lumba

Pola makan dugong

Dugong termasuk ke dalam hewan herbivora. Dugong banyak menghabiskan waktunya untuk makan di padang lamun. Padang lamun adalah padang rumput di perairan dangkal atau pesisir.

Sayangnya, berdasarkan data LIPI, padang lamun di Indonesia berada dalam status terancam. Hanya sebesar 5 persen padang lamun di perairan Indonesia yang berstatus sehat. Sedangkan sisa 80 persennya kurang sehat dan 15 persen tidak sehat.

Dilansir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, dugong bisa menjadi indikator kondisi padang lamun. Dugong hanya bisa hidup di padang lamun dengan kondisi sehat.

Dalam sehari, seekor duyung bisa menghabiskan sebanyak 25 sampai 30 kilogram tanaman lamun. Hanya beberapa jenis tanaman lamun yang bisa dikonsumsi oleh dugong, yaitu halodule, halophila, dan cymodecea. Jenis lamun tersebut memiliki tekstur yang lunak dan bisa dicerna dengan mudah oleh mamalia laut ini.

Dugong memiliki sistem pencernaan yang sangat lambat, yaitu selama 146 sampai 166 jam. Pencernaan terjadi secara anaerobik oleh bakteri yang berada di bagian belakang usus besarnya.

Baca juga: 6 Manfaat Padang Lamun, Tumbuhan yang Sering Terlupakan

Cara dugong berkembang biak

Cara dugong berkembang biak adalah dengan cara vivipar atau melahirkan. Dugong akan siap berkembang biak setelah mencapai usia 10 tahun. Lama kehamilan dugong adalah 12 sampai 14 bulan. Setelah melahirkan, bayi dugong akan menyusu selama 1 sampai 2 tahun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.