Kompas.com - 17/11/2021, 20:30 WIB
Ilustrasi pasien dengue shock syndrome ShutterstockIlustrasi pasien dengue shock syndrome

KOMPAS.comDengue Shock Syndrome (DSS) adalah komplikasi infeksi demam berdarah dengue (DBD) yang memiliki tingkat kematian yang tinggi. DSS juga dikenal dengan istilah dengue hemorrhagic fever (DHF). Munculnya komplikasi ini bisa tiba-tiba dan sangat progresif.

Penyebab dengue shock syndrome

Penyebab dengue shock syndrome sama dengan demam berdarah dan demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini disebabkan dengan virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Baca juga: Virus Dengue DBD Juga Berevolusi, Apa Bedanya Sekarang dan Dulu?

Proses terjadinya dengue shock syndrome

Demam pada DBD umumnya terjadi selama 2 sampai 7 hari dan menurun setelahnya. Namun, hati-hati, justru komplikasi biasanya terjadi pada fase ini. Komplikasi paling banyak terjadi pada hari ke 3 dan 4 sejak hari pertama sakit. Jika tidak segera ditangani, maka komplikasi ini akan mengakibatkan syok yang berisiko kematian.

Temuan utama yang menunjukkan progresif DBD menuju DSS adalah trombositopenia yang diikuti dengan meningkatnya hematokrit. Trombositopenia adalah menurunnya trombosit hingga di bawah 100.000 per milimeter kubik.

Kondisi tersebut akan memicu kebocoran plasma yang mengakibatkan syok hipovolemik yang berujung DSS. Di Indonesia, walaupun angka kematian akibat DBD menurun, namun kematian akibat DBD yang disertai syok masih tinggi.

Gejala dengue shock syndrome

Berikut adalah gejala DSS menurut World Health Organization (WHO):

  • Demam atau riwayat demam 2 sampai 7 hari terakhir.
  • Tanda-tanda perdarahan yang ditandai dengan tes tourniquet positif, titik-titik kemerahan di kulit (petechiae, ecchymoses, atau purpura), atau perdarahan dari mukosa, saluran pencernaan, atau lokasi suntikan.
  • Denyut nadi cepat dan lemah
  • Hipotensi
  • Keringat dingin dan mudah lelah

Selain itu, perlu diketahui bahwa pasien yang berisiko tinggi terkena DSS adalah bayi dan orang tua. Infeksi yang menyerang wanita juga ditemukan lebih parah daripada pria.

Penanganan dengue shock syndrome

Pasien dengan DSS bisa memburuk dengan cepat. Oleh karena itu, pasien mungkin perlu dibawa ke intesive care unit (ICU). Saat ini, penanganan DSS yang sudah terbukti efektif hanya mengembalikan cairan tubuh secara intensif. Rekomendasi cairan dimasukkan melalui intravena sebanyak 10-20 mililiter per kilogram berat badan. Kasus berat mungkin membutuhkan dua jalur intravena sekaligus.

Terdapat beberapa pilihan penanganan tambahan untuk mengatasi syok pada dengue, seperti transfusi trombosit penggunaan kortikosteroid, dan penggunaan imunoglobulin. Sayangnya, belum ada bukti ilmiah yang bisa membuktikan keefektifan tindakan tambahan ini.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Bisa Sembuh, Kenali Gejala Penyakit Lupus dan Hal yang Harus Dihindari

Tak Bisa Sembuh, Kenali Gejala Penyakit Lupus dan Hal yang Harus Dihindari

Oh Begitu
Dugaan Hepatitis Akut Misterius di Indonesia Jadi 14 Kasus, Ini Laporan Kemenkes

Dugaan Hepatitis Akut Misterius di Indonesia Jadi 14 Kasus, Ini Laporan Kemenkes

Kita
4 Kebiasaan Bikin Miss V Berbau Tidak Sedap, Salah Satunya Jarang Mandi

4 Kebiasaan Bikin Miss V Berbau Tidak Sedap, Salah Satunya Jarang Mandi

Oh Begitu
Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Kita
Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Oh Begitu
6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

Kita
Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Oh Begitu
Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Fenomena
Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Oh Begitu
Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Oh Begitu
Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Kita
[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Oh Begitu
Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Kita
Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Kita
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.