10 Sebab Pengobatan Tidak Berhasil atau Tak Kunjung Bikin Sembuh

Kompas.com - 19/07/2021, 14:38 WIB
Ilustrasi perempuan hendak meminum obat. SHUTTERSTOCK/FIZKESIlustrasi perempuan hendak meminum obat.

MARI melipir sejenak dari topik khusus seputar pandemi. Kita bahas lagi hal-hal dasar soal kesehatan, salah satunya tentang pengobatan.

Kita mungkin pernah mengalami sendiri atau mendengar kisah tentang pengobatan yang tak mengembalikan kesehatan. Jangan bicara takdir ya. Ini di ranah usaha manusia saja. 

Sudah berganti-ganti dokter, pakai segala referensi, mungkin kita pernah mengalami atau mendengar kisah penyakit yang kambuh-kambuhan atau malah kondisi tak kunjung membaik. 

Mengulik arsip harian Kompas, ada sebuah tulisan menarik dari Nd Goen S tentang fenomena ini, dalam judul Beberapa Sebab Mengapa Pengobatan Tak Berhasil.

Tampilan tangkap layar artikel Beberapa Sebab Mengapa Pengobatan Tak Berhasil di harian Kompas edisi 1 Juli 1965ARSIP KOMPAS Tampilan tangkap layar artikel Beberapa Sebab Mengapa Pengobatan Tak Berhasil di harian Kompas edisi 1 Juli 1965

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tayang di harian Kompas edisi 1 Juli 1965, lugas sekali penulis ini meringkaskan hal-hal dasar yang bisa jadi merupakan sebab mendasar dari pengobatan yang tak memulihkan kesehatan.

Apakah masih relevan? Coba dilanjut dan dicek sendiri rincian Goen. 

Goen menyebut ada setidaknya sepuluh sebab pengobatan tak menyembuhkan. Berikut ini adalah intisarinya:

 1. Terlambat berobat

Goen menyebut, ini kerap jadi penyebab terbanyak dari pengobatan yang tak memberi hasil sesuai harapan. 

"Dapat karena kesibukan pekerjaan sehari-hari, dapat pula karena kurangnya pengertian akan nilai kesehatan," tulis Goen.

Dalam kasus begini, pengobatan menjadi langkah yang tak cepat atau tak mampu mengobati karena kondisi penyakit sudah terlanjur memburuk atau berat. 

"Setelah timbul penyulit-penyulit (komplikasi-komplikasi) atau meningkat pada kondisi menahun (kronis), pengobatan menjadi lebih sulit, sering butuh waktu lebih lama, dan cara perawatan lebih ruwet," ungkap dia.

2. Terlalu cepat menghentikan konsumsi obat

Goen menyodorkan kasus infeksi pernapasan, sebagai ilustrasi yang banyak terjadi untuk poin ini.

Banyak orang tampaknya cenderung merasa sudah membaik bahkan pulih setelah menjalani 40 jam pengobatan. Demam dan batuk berkurang atau malah hilang, misalnya.

"Merasa sudah sembuh, penderita menghentikan pengobatan. Tapi dalam waktu dekat penyakitnya akan timbul lagi karena sebenarnya belum sama sekali lenyap," tulis Goen.

3. Belum ketemu obat yang tepat

Pada prinsipnya, tidak ada obat yang bisa mengobati segala penyakit. Itu pesan utama Goen buat poin ini.

Bahkan antibiotik dengan spektrum luas—dapat mematikan sederet panjang jenis bakteri—tetap punya batasan keampuhan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X