BMKG: Aktivitas Gempa di Indonesia Meningkat Sejak Awal Januari

Kompas.com - 25/01/2021, 17:00 WIB
Ilustrasi gempa bumi. AFPIlustrasi gempa bumi.

KOMPAS.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) menyebut bahwa aktivitas kegempaaan  di seluruh Indonesia meningkat sejak awal Januari 2021.

Berdasarkan analisis BMKG, selama periode 1-22 Januari 2021, tercatat ada 59 kali gempa yang dirasakan oleh masyarakat. Jumlah ini tergolong sangat banyak.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly mengatakan bahwa hampir setiap hari terjadi gempa yang getarannya dirasakan masyarakat dan berdampak pada warga.

Bahkan, pada 14 Januari 2021 lalu, dalam sehari terjadi gempa dirasakan sebanyak 8 kali.

Baca juga: BMKG Ungkap 59 Kali Gempa Dirasakan Masyarakat sejak Awal Januari 2021

Waspada kawasan seismic gap

"Jika kita ingin mewaspadai titik-titik rawan bencana gempa dapat didasarkan pada kawasan yang diduga menjadi seismic gap, yaitu zona gempa potensial tetapi sudah sangat lama tidak terjadi gempa yang patut diwaspadai," kata Sadly dalam konferensi pers secara daring, Sabtu (23/1/2021).

Adapun, wilayah yang termasuk dalam kawasan seismic gap di zona sumber gempa megathrust yaitu Kepulauan Mentawai Sumbar, Selat Sunda, Selatan Bali, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Utara Papua dan Laut Banda.

Sementara itu, untuk wilayah seismic gap di zona sumber gempa sesar aktif adalah Sesar  Lembang (Jawa Barat), Sesar Matano (Sulawesi Tengah), Sesar Sorong (Papua Barat) dan Sesar Segemen Aceh.

Waspada terjadinya gempa susulan

Sadly menegaskan, berdasarkan beberapa hal tersebut, BMKG merekomendasikan agar masyarakat mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan signifikan.

Pasalnya, berdasarkan data gempa susulan dan analisis energi peluruhan maka diperkirakan kejadian gempa susulan akan berlangsung kurang lebih 3-4 minggu sejak kejadian gempa yang pertama. 

"BMKG akan tetap memonitor dan mengupdate perkembangan gempabumi tersebut. Masyarakat yang tempat tinggalnya sudah rusak atau rusak sebagian, diimbau untuk tidak menempati lagi karena jika terjadi gempa susulan signifikan dapat mengalami kerusakan yang lebih berat bahkan dapat roboh," ujar Sadly.

Baca juga: Sensor BMKG Tangkap Suara Dentuman di Bali, tapi Bukan Aktivitas Gempa

Masyarakat perlu waspada dengan kawasan perbukitan dengan tebing curam karena gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran dan runtuhan batu. 

"Apalagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labi," tegasnya.

Sedangkan, jika masyarakat berada di wilayah pesisir pantai, upayakan untuk tidak ragu segera menjauhi pantai jika merasakan gempa kuat agar terhindari dari kemungkinan potensi tsunami.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang tetapi waspada, serta mengikuti informasi yang bersumber dari lembaga resmi sepeti BMKG dan arahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X