Kompas.com - 27/12/2020, 13:38 WIB
GeNose pendeteksi Covid-19 karya ahli UGM siap dipasarkan setelah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. (Foto Dokumentasi Humas UGM) KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMAGeNose pendeteksi Covid-19 karya ahli UGM siap dipasarkan setelah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. (Foto Dokumentasi Humas UGM)

KOMPAS.com - Alat pendeteksi virus corona SARS-CoV-2 bernama GeNose buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapat izin edar Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Menurut laman resmi UGM, izin edar tersebut diberikan Kemenkes pada Kamis, 24 Desember 2020.

"Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan luar biasa dari banyak pihak GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar (KEMENKES RI AKD 20401022883) untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kemenkes, dalam membantu penanganan Covid-19 melalui skrining cepat," kata Ketua tim pengembang GeNose, Prof. Kuwat Triyana.

Setelah mengantongi izin edar, Kuwat menegaskan akan segera memproduksi massal GeNose.

Baca juga: Faktor Berikut Dapat Memengaruhi Hasil Tes Covid-19, Apa Saja?

Sementara itu, biaya tes GeNose dipatok harga Rp 15-25 ribu dengan hasil tes yang dapat diketahui hanya dalam 2 menit dan tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pengambilan sampel tes berupa embusan nafas juga dirasakan lebih nyaman dibanding usap atau swab,” ujar Kuwat seperti dilansir Kompas TV, Sabtu (26/12/2020).

GeNose telah melalui uji profiling dengan menggunakan 600 sampel data valid di Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 Bambanglipuro, Yogyakarta.

Dari pengujian itu, diketahui tingkat akurasi GeNose mencapai 97 persen.

Bagaimana cara kerjanya?

Salah satu anggota Tim Pengembang GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra, mengungkapkan alat tersebut mengidentifikasi virus corona dengan cara mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC).

Dian mengatakan, VOC terbentuk lantaran adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama napas. Orang-orang yang akan diperiksa menggunakan GeNose, terlebih dahulu diminta mengembuskan napas ke tabung khusus.

Sensor-sensor dalam tabung itu lalu bekerja mendeteksi VOC. Kemudian, data yang diperoleh akan diolah dengan bantuan kecerdasan buatan hingga memunculkan hasil.

Dalam waktu kurang dari 2 menit, GeNose bisa mendeteksi apakah seseorang positif atau negatif Covid-19.

 

UGM Siap Luncurkan GeNose, Alat Deteksi Covid-19 Lewat Embusan NafasDok. UGM UGM Siap Luncurkan GeNose, Alat Deteksi Covid-19 Lewat Embusan Nafas

Pakar Biologi Molekuler Ahmad Utomo yang tidak terlibat dalam penelitian menerangkan kepada Kompas.com bahwa konsep yang diusung oleh GeNose sangat menarik.

Ahmad menjelaskan, konsep GeNose sebenarnya bukan konsep baru dan sudah banyak diteliti oleh negara lain, seperti Singapura.

"Namun inovasi GeNose mampu membuat alat yang portable. Itu yang menarik," kata Ahmad kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Minggu (27/12/2020).

"Tapi konsepnya tidak mendeteksi virusnya secara langsung. Yang mereka deteksi adalah metabolit gas ketika seseorang terinfeksi virus," jelasnya.

Dia menerangkan, saat manusia bernapas, ada banyak sekali embusan gas organik yang keluar.

"Jadi kalau kita cek dengan mesin, (saat bernapas) ada banyak banget macamnya dan jumlahnya (gas organik)," terangnya.

Nah, saat seseorang terinfeksi virus, virus ini akan menimbulkan kelainan metabolik.

"Kelainan metabolik ini yang mereka (tim peneliti UGM) coba rekam. Ada rekam jejak yang berbeda enggak," katanya.

Sebagai contoh, orang sehat memiliki presentasi komposisi gas yang berbeda dengan orang yang terinfeksi flu.

Baca juga: Tes Antigen Anies Baswedan Negatif tapi Swab PCR Positif, Apa Bedanya?

"Orang sehat misalnya memiliki komposisi gas A sekian persen, gas B sekian persen, dan gas C sekian persen. Nah, tapi kalau dia terkena penyakit, komposisi itu bisa berbeda," kata Ahmad.

Komposisi gas dalam napas manusia itu juga dapat membedakan satu penyakit dengan penyakit lain.

Untuk melacak komposisi ini, tim UGM menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) karena harus mengecek ribuan komposisi gas tersebut.

"Dari ribuan gas tersebut kemudian akan diskrining, kira-kira profil seperti apa yang paling mendekati orang yang terkenda Covid-19," ucap Ahmad.

"Jadi menarik sebetulnya. Anda tinggal hembuskan napas, nanti mesin akan melacak dan dibandingkan dengan database AI. Jadi kalau misal profilnya seperti ini, most likely adalah orang yang sudah terinfeksi Covid-19," terangnya.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.