Mengapa Korban Meninggal Covid-19 Indonesia Terbanyak di Asia Tenggara?

Kompas.com - 04/12/2020, 20:04 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat.

Oleh: Irwandy

DALAM sembilan bulan terakhir, lebih 17.000 orang di Indonesia telah kehilangan nyawa akibat pandemi Covid-19. Jumlah ini menempatkan Indonesia pada posisi teratas penyumbang kematian akibat virus corona di Asia Tenggara.

Jumlah kematian riil di masyarakat akibat virus ini diprediksi lebih banyak. Namun tidak semua kematian berhasil dideteksi oleh sistem kesehatan, salah satunya karena terbatasnya kapasitas laboratorium tes Covid-19 di negeri ini.

Sebuah riset terbaru dari Massachusetts Institute of Technology Amerika Serikat dengan menggunakan data panel 91 negara, termasuk Indonesia, memperkirakan kasus total dan kematian hingga 30 Oktober 2020 diperkirakan 1,4 kali lebih besar dari laporan resmi.

Secara teori, tingginya kejadian penyakit dan kematian, termasuk dalam kondisi pandemi saat ini tidak hanya disebabkan oleh adanya virus yang menginfeksi. Tingginya angka kematian juga disebabkan oleh beberapa faktor seperti sistem pelayanan kesehatan, perilaku, lingkungan, hingga genetik.

Untuk menekan jumlah kematian yang terus meningkat, empat faktor ini harus menjadi perhatian.

Sistem pelayanan kesehatan

The Lancet pada 2018 menerbitkan peringkat 195 negara berdasarkan akses dan kualitas layanan kesehatannya.

Hasil pemeringkatan menempatkan Indonesia pada urutan ke-138. Peringkat ini jauh di bawah peringkat Singapura (urutan ke-22), Thailand ke-76 dan Malaysia ke-84.

Dengan level sistem kesehatan seperti itu, saat ini angka kematian akibat Covid-19 di Singapura “hanya” 29 orang (dari sekitar 58.000 kasus terkonformasi). Thailand 60 orang (dari sekitar 4.000 kasus) dan Malaysia 363 orang (dari 68.000 kasus).

Bandingkan angka kasus serupa dengan Indonesia. Pada akhir November saja, angka kematian naik 35,6% atau dari 626 menjadi 835 kematian dalam satu minggu.

Masih rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ini berpengaruh pada tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia.

Beberapa hasil studi di berbagai negara menemukan pengaruh ini. Indikator seperti efisiensi pelayanan kesehatan, rasio jumlah tenaga kesehatan dengan penduduk, rasio tempat tidur rumah sakit hingga akses masyarakat terhadap rumah sakit memiliki pengaruh terhadap tingginya angka kematian akibat Covid-19.

Studi terbaru dari University of Canberra di 86 negara, termasuk Indonesia, juga menemukan bahwa negara-negara yang memiliki kapasitas pelayanan kesehatan yang baik memiliki angka kematian yang lebih rendah. Setiap kenaikan satu digit indeks kapasitas pelayanan kesehatan dapat menurunkan 42% kasus kematian.

Beberapa riset di atas telah memperlihatkan bahwa kualitas dan akses layanan kesehatan dapat menekan angka kematian. Namun, penting dipahami bahwa jika jumlah kasus terus bertambah dan terlalu membebani sistem kesehatan maka kualitas dan akses layanan kesehatan dalam menekan angka kematian tidak akan berarti.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X