Kompas.com - 04/11/2020, 20:30 WIB
Ilustrasi anjing ras penarik kereta salju. Sejak ribuan tahun, nenek moyang anjing ras seperti Husky dan Malamut telah membantu manusia menarik beban di atas daratan bersalju. SHUTTERSTOCK/Sergey KrasnoshchokovIlustrasi anjing ras penarik kereta salju. Sejak ribuan tahun, nenek moyang anjing ras seperti Husky dan Malamut telah membantu manusia menarik beban di atas daratan bersalju.


KOMPAS.com- Anjing adalah hewan peliharaan yang dianggap paling setia dan menjadi sahabat bagi manusia.

Studi DNA yang dilakukan sejumlah ilmuwan mengungkapkan bukti betapa lamanya hubungan anjing dan manusia ini telah terjalin.

Seperti dikutip dari BBC, Rabu (4/11/2020), sebuah studi DNA anjing menunjukkan bahwa hewan ini kemungkinan merupakan sahabat tertua manusa.

Dalam analisis dari studi yang telah dipublikasikan di jurnal Science tersebut mengungkapkan bahwa domestikasi anjing dapat ditelusuri ke 11.000 tahun yang lalu hingga akhir Zaman Es terakhir.

Baca juga: Langka, Anak Anjing Ini Lahir dengan Bulu Berwarna Hijau

 

Berdasarkan temuan ini menegaskan bahwa anjing adalah hewan yang telah dijadikan peliharaan sebelum spesies lainnya. Saat itu, anjing tersebar luas di belahan bumi utara dan telah terbagi menjadi lima jenis.

Terlepas dari ekspansi anjing Eropa selama era kolonial, jejak keturunan anjing kuno itu masih bertahan hingga saat ini di Amerika, Asia, Afrika, dan Oseania.

Dengan adanya penelitian ini, celah dalam sejarah anjing sebagai sahabat manusia perlahan mulai terisi.

Salah satu penulis studi, Dr Pontus Skoglund mengatakan bahwa anjing benar-benar unik.

Baca juga: Anjing Liar Afrika Punya Anatomi Unik yang Membantunya Bertahan Hidup

 

Pemimpin tim laboratorium Genomik Kuno di Institut Crick London itu mengatakan cukup aneh jika memikirkannya, ketika semua orang masih berburu dan mengumpulkan makanan untuk hidup, mereka menjinakkan karnivora liar.

Seperti kita tahu bahwa serigala cukup menakutkan di banyak bagian dunia.

"Pertanyaannya, mengapa orang melakukan itu? Bagaimana itu bisa terjadi? Itulah yang akhirnya membuat kami tertarik," kata Skoglund.

Pola genetik anjing sampai batas tertentu mencerminkan pola manusia, karena manusia membawa hewan pendampingnya saat mereka pindah.

Ilustrasi anjing dan pemiliknya. Anjing sahabat manusia Ilustrasi anjing dan pemiliknya. Anjing sahabat manusia

Misalnya, anjing Eropa awalnya beragam. Namun, tampaknya berasal dari dua populasi yang sangat berbeda, yakni anjing wilayah sekitaran Timur Tengah saat ini dan anjing Siberia.

Namun, pada beberapa titik, mungkin setelah permulaan Zaman Perunggu, satu garis keturunan anjing menyebar luas dan menggantikan semua populasi anjing lain di benua tersebut.

"Jika kita melihat ke belakang, ke lebih dari empat atau lima ribu tahun yang lalu, kita dapat melihat bahwa Eropa adalah tempat yang memiliki beragam jenis anjing," kata Anders Bergstrom, penulis utama dan peneliti pascadoktoral di Crick.

Bergstrom mengatakan meski anjing Eropa saat ini memiliki macam bentuk yang luar biasa, namun secara genetik mereka hanya berasal dari himpunan bagian gen yang sangat sempit dari keanekaragaman gen yang dulu.

Baca juga: 50 Tahun Menghilang, Anjing Penyanyi Papua Ditemukan Lagi di Alam Liar

 

Sebuah tim internasional menganalisis seluruh genom dari 27 sisa anjing purba, yang terkait dengan berbagai budaya arkeologi.

Tim peneliti selanjutnya membandingkan genom tersebut satu sama lain dengan anjing modern.

Hasilnya, ras seperti Rhodesian Ridgeback di Afrika Selatan serta Chihuahua dan Xoloitzcuintli di Meksiko dapat mempertahankan jejak genetik asli dari anjing kuno di wilayah tersebut.

Sementara itu, nenek moyang anjing di Asia Timur sangat kompleks. Seperti anjing di China yang tampaknya berasal dari nenek moyang seperti dingo Australia dan anjing bernyanyi New Guinea, sisanya berasal dari Eropa dan anjing dari stepa Rusia.

Ilustasi hewan peliharan di rumah, anjing dan kucing.SHUTTERSTOCK/New Africa Ilustasi hewan peliharan di rumah, anjing dan kucing.

"Anjing adalah mitra hewan tertua dan terdekat kita. DNA dari anjing purba menunjukkan kepada kita seberapa jauh sejarah bersama anjing dan manusia. Pada akhirnya membantu kita memahami kapan dan di mana hubungan ini dimulai," kata Greger Larson, rekan penulis dari Universitas Oxford.

Diperkirakan anjing telah berevolusi dari serigala yang berkelana ke permukiman manusia, mungkin karena mereka mengendus makanan.

Saat mereka dijinakkan, mereka kemudian bisa melayani manusia sebagai teman berburu atau penjaga. Hasil analisis menunjukkan semua anjing berasal dari satu populasi serigala yang punah.

Skoglund tidak yakin kapan atau di mana domestikasi anjing awalnya terjadi.

Baca juga: Peneliti Ungkap 14.000 Tahun Lalu Anak Anjing Purba Mangsa Badak Berbulu

 

"Sejarah anjing begitu dinamis, sehingga Anda tidak dapat benar-benar berharap untuk dapat menyelidiki dari DNA mereka. Kami benar-benar tidakk tahu, itulah yang menarik," jelas Skoglund.

Selain anjing, kucing juga telah dijadikan hewan peliharaan manusia sejak 6.000 tahun yang lalu.

Saat itu, kucing menjadi peliharaan ketika manusia mulai menetap untuk mulai bertani. Sebab, kucing dianggap mungkin berguna untuk mengendalikan hama seperti tikus, yang sering datang di permukiman.

Domestikasi kucing diperkirakan lahir di kawasan pertanian, seperti wilayah Timur Dekat, yang sekarang dikenal dengan Timur Tengah.

"Untuk anjing, (domestikasi) hampir bisa terjadi di mana saja. Siberia yang dingin, Timur Dekat yang hangat, Asia Tenggara, kesemuanya adalah kemungkinan," kata Skoglund.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Hari Ini, M 5,5 Guncang Nias di Zona Outer-rise Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini, M 5,5 Guncang Nias di Zona Outer-rise Tak Berpotensi Tsunami

Oh Begitu
Pasangan Pengantin Gay Thailand Dihujat Netizen Indonesia, Psikolog Sebut Ada Faktor Stres

Pasangan Pengantin Gay Thailand Dihujat Netizen Indonesia, Psikolog Sebut Ada Faktor Stres

Oh Begitu
Kutu Infeksi Anjing Peliharaan, Begini Cara Membasminya

Kutu Infeksi Anjing Peliharaan, Begini Cara Membasminya

Oh Begitu
Jejak Kaki Berumur 100.000 Tahun Ungkap Anak Neanderthal Bermain Pasir di Pantai

Jejak Kaki Berumur 100.000 Tahun Ungkap Anak Neanderthal Bermain Pasir di Pantai

Oh Begitu
Kotoran Kelelawar Berusia 4300 Bantu Ungkap Masa Lalu Bumi

Kotoran Kelelawar Berusia 4300 Bantu Ungkap Masa Lalu Bumi

Fenomena
Maia Estianty 2 Kali Positif Covid-19, Mengapa bisa Tertular Lagi?

Maia Estianty 2 Kali Positif Covid-19, Mengapa bisa Tertular Lagi?

Kita
Gempa Hari Ini: Selatan Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi M 5,1

Gempa Hari Ini: Selatan Jawa Barat Diguncang Gempa Bumi M 5,1

Fenomena
BMKG: Awas Siklon Tropis Surigae Bisa Berkembang Jadi Badai Topan

BMKG: Awas Siklon Tropis Surigae Bisa Berkembang Jadi Badai Topan

Fenomena
7 Polemik Vaksin Nusantara, Uji Klinis Lanjut Meski Tak Ada Izin BPOM

7 Polemik Vaksin Nusantara, Uji Klinis Lanjut Meski Tak Ada Izin BPOM

Oh Begitu
Vaksin Nusantara Belum Diuji pada Hewan, Ahli Sebut Tak Wajar Diuji Langsung ke DPR

Vaksin Nusantara Belum Diuji pada Hewan, Ahli Sebut Tak Wajar Diuji Langsung ke DPR

Oh Begitu
Kemacetan Terusan Suez Picu Lonjakan Polusi, Tampak dari Luar Angkasa

Kemacetan Terusan Suez Picu Lonjakan Polusi, Tampak dari Luar Angkasa

Fenomena
BMKG Ungkap 4 Penyebab Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa Malang

BMKG Ungkap 4 Penyebab Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa Malang

Fenomena
Bibit Siklon Tropis 94W Terdeteksi, BMKG Minta Jangan Anggap Sepele

Bibit Siklon Tropis 94W Terdeteksi, BMKG Minta Jangan Anggap Sepele

Oh Begitu
Demi Kesehatan Tubuh, Ini 4 Jenis Makanan Terbaik untuk Berbuka Puasa

Demi Kesehatan Tubuh, Ini 4 Jenis Makanan Terbaik untuk Berbuka Puasa

Oh Begitu
Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Kotamobagu Sulut, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Kotamobagu Sulut, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
komentar
Close Ads X