"Frankenstein" dan Teknologi Plasma

Kompas.com - 09/10/2020, 12:07 WIB
Poster film Frankenstein (1931) Wikimedia CommonsPoster film Frankenstein (1931)

Oleh Anto Tri Sugiarto dan Suherman

FRANKENSTEIN; or, The Modern Prometheus karya Mary Shelley, yang terbit pertama kali pada tahun 1818, adalah novel klasik fiksi ilmiah yang masih aktual sampai sekarang. Selain menginspirasi terbitnya novel yang se-genre seperti Vampire dan Drakula, ternyata novel ini pun hampir sama dengan sejarah lahirnya zat keempat yang disebut plasma.

Zat ini ditemukan oleh Irving Langmuir, ilmuwan Amerika pemenang hadiah Nobel bidang kimia pada tahun 1928, dalam eksperimennya melalui lampu tungsten filament. Kami tidak tahu apakah Langmuir pernah membaca novel itu atau tidak, tapi idenya hampir sama.

Dalam novel Frankenstein, diceritakan tentang obsesi seorang ilmuwan bernama Victor Frankenstein untuk membuat manusia dari potongan mayat-mayat yang berbeda. Potongan-potongan ini kemudian dijahit menjadi manusia kembali dengan wujud berupa monster yang menyeramkan tapi berwatak humanis.

Untuk menghidupkan kembali tubuh tersebut, diperlukan “nyawa” berupa energi yang sangat besar dengan cara disetrum memakai listrik bertegangan dari petir (lecutan elektron). Akhirnya, eksperimen Frankenstein ini berhasil menghidupkan kembali bahkan membuat manusia baru.

Begitulah imjinasi sang pengarang walaupun tidak banyak fakta ilmiah untuk menjelaskan mengapa itu bisa dilakuan, mungkin pada waktu itu ilmu biologi belum modern.

Ilmuwan (bioscientist) yang terang-terangan merasa terinspirasi oleh novel Frankenstein adalah Stanley Miller dan Harold Urey (1952), yang dengan percobaannya dapat menghasilkan senyawa asam amino melalui lecutan elektron terhadap beberapa senyawa organik. Asam amino dikenal sebagai bahan dasar penyusun protein dalam pembentukan sel mahkluk hidup.

Penjelasan sederhananya sebagai berikut: tubuh manusia terdiri dari asam amino; dan asam amino ini isinya adalah glycine yang terdiri dari amino, hidrokarbon, dan asam. Sebaliknya, untuk membuat glycine, kita tinggal kumpulkan saja metan, air, dan amoniak; lalu alirkan energi atau disetrum maka jadilah asam amino.

Dengan demikian, bisa jadi khayalan teknologi Mary Sheley ada benarnya, jadi kalau mau menghidupkan orang harus ada lecutan elektron, karena kalau tidak ada maka komponen-komponen pendukungnya tadi tidak akan bereaksi.

Belajar dari novel Frankenstein dan riset Stainley Miller seperti di atas, petir atau lecutan elektron atau dalam bahasa ilmiah disebut plasma menjadi suatu hal yang menarik untuk kita kaji lebih dalam.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X