Studi: Partikulat Polusi Udara Turunkan 2 Tahun Harapan Hidup Manusia

Kompas.com - 30/07/2020, 07:32 WIB
Kendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGKendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

KOMPAS.com - Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa partikulat polusi udara telah memotong harapan hidup masyarakat dunia hingga dua tahun.

Dua tahun angka harapan hidup yang terpotong itu, sudah dibandingkan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang harus dipenuhi oleh negara-negara di dunia.

Pedoman WHO terkait meningkatkan harapan hidup ialah dengan memerhatikan tingkat paparan yang aman, standar kualitas udara nasional yang ada, atau tingkat kualitas udara.

Hasil penelitian ini telah dimuat dalam laporan tahunan 2020 mengenai Indeks Kehidupan Berdasarkan Kualitas Udara (Air Quality Life Index atau AQLI).

Baca juga: Polusi Udara Tahun 2020 Tewaskan Hampir 100.000 Orang di Dunia

Untuk diketahui, AQLI yaitu indeks pencemaran udara yang menerjemahkan partikulat polusi udara menjadi metrik paling penting yang berpengaruh terhadap harapan hidup.

AQLI ini dikembangkan oleh Profesor Layanan Terkemuka Milton Friedman dari Universitas Chicago, Michael Greenstone beserta timnya di Institut Kebijakan Energi di Universitas Chicago (EPIC).

AQLI menemukan bahwa partikulat udara terus memangkas harapan hidup masyarakat dunia selama hampir dua tahun.

Sementara di tempat lain, beberapa negara terus berupaya mengimbangi kualitas udara yang memburuk.

Michael dalam keterangan tertulisnya menjelaskan, data terbaru AQLI yang mengonversi partiekl polusi udara terhadap harapan hidup manusia ini, mengungkapkan bahwa partikel polusi berisiko besar bagi kesehatan manusia sebelum Covid-19 dan masih bisa mengancam setelah pandemi Covid-19.

Kondisi partikulat polusi ini menjadi masalah penting selama dua dekade terakhir, dengan rata-rata global penurunan harapan hidup akibat polusi udara mencapai dua tahun.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X