Unair Klaim Temukan Kombinasi Obat untuk Pasien Corona, Obat Apa Itu?

Kompas.com - 14/06/2020, 17:35 WIB
Ilustrasi obat, obat-obatan ShutterstockIlustrasi obat, obat-obatan

KOMPAS.com - Tim peneliti Universitas Airlangga Surabaya mengklaim telah menemukan kombinasi obat unuk penanganan pasien Covid-19.

"Kelima kombinasi obat tersebut adalah loprinavir-ritonavir-azitromisin, loprinavir-ritonavir-doksisiklin, loprinavir-ritonavir-klaritomisin, hidroksiklorokuin-azitromisin, dan hidroksiklorokuin-doksisiklin," kata Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih di Surabaya, Jumat (12/6/2020).

Penemuan lima kombinasi itu merupakan komitmen Unair dalam mencari obat untuk mengobati Covid-19.

Unair tak hanya fokus membuat obat baru, tetapi juga mencari solusi dari obat yang telah ada.

Penggunaan lima kombinasi itu, kata Nasih, terjamin keamanannya. Obat-obat tersebut sudah ada di pasaran dan telah lulus uji klinis.

Selain itu, obat-obat tersebut juga telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga aman dikonsumsi.

Baca juga: Cegah Virus Corona, China Akhirnya Hapus Trenggiling dari Daftar Obat Tradisional

Lantas, obat apakah itu?

Menjawab pertanyaan ini, Kompas.com menghubungi Pakar Farmakologi & Clinical Research Supporting Unit dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Nafrialdi, PhD, SpPD.

Nafrialdi mengatakan, seharusnya untuk penemuan seperti ini dilandasi oleh publikasi dari jurnal ilmiah terlebih dahulu.

"Mestinya ada publikasi di jurnal ilmiah dulu, biar diperiksa metodenya, hasil penelitiannya, dan penarikan kesimpulannya. Baru publikasi umum," kata Nafrialdi menanggapi klaim tersebut dihubungi Kompas.com, Minggu (14/6/2020).

"Namun saya belum tahu apakah sudah dipublikasi atau belum," imbuhnya.

Dokter Nafrialdi membenarkan, obat yang disebutkan oleh Unair tersebut merupakan obat yang ada di pasaran.

" Klorokuin, hidroksiklorokuin, azitromisin, sudah lazim dipakai. Sebenarnya, publikasi Internasional belum membuktikan obat tersebut efektif (mengobati Covid-19)," kata Nafrialdi.

"Lopinavir/ritonavir juga sering dipakai di beberapa negara. Doxicycline dan claritromisin merupakan antibiotik yang kedudukannya sama dengan azitromisin," imbuhnya.

pil Hydroxychloroquine diletakkan di atas meja di Rock Canyon Pharmacy di Provo, Utah, pada 20 Mei 2020. Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 18 Mei 2020, ia telah menggunakan hydroxychloroquine selama hampir dua minggu sebagai tindakan pencegahan terhadap Covid-19. Menurut kajian terbaru yang terbit di jurnal Lancet, obat ini justru meningkatkan risiko kematian pada pasien Covid-19. (Foto oleh GEORGE FREY / AFP)GEORGE FREY pil Hydroxychloroquine diletakkan di atas meja di Rock Canyon Pharmacy di Provo, Utah, pada 20 Mei 2020. Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 18 Mei 2020, ia telah menggunakan hydroxychloroquine selama hampir dua minggu sebagai tindakan pencegahan terhadap Covid-19. Menurut kajian terbaru yang terbit di jurnal Lancet, obat ini justru meningkatkan risiko kematian pada pasien Covid-19. (Foto oleh GEORGE FREY / AFP)

Berikut penjelasan masing-masing obat dan kegunaannya:

1. Hidroksiklorokuin

Untuk diketahui, hidroksiklorokuin merupakan obat untuk mencegah dan menangani penyakit malaria. Hal ini sama dengan obat klorokuin.

Berkaitan dengan hidroksiklorokuin, sebuah studi baru menemukan bahwa obat anti malaria ini tidak efektif mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19. Studi ini telah dipubikasikan dalam jurnal New England Journal of Medicine.

Selama masa pandemi ini, obat ini dilirik banyak ilmuwan sebagai obat potensial untuk corona karena diduga dapat mengganggu kemampuan virus untuk menginfeksi sel. Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah mengaku telah menggunakan hidroksiklorokuin selama hampir dua minggu sebagai tindakan pencegahan terhadap Covid-19.

Akan tetapi, tampaknya kita tidak boleh mengikuti langkah Trump.

Baca juga: Studi: Hidroksiklorokuin Tidak Mencegah Penularan Corona Covid-19

2. Lopinavir dan ritonavir

Sementara itu, lopinavir/ritonavir merupakan kombinasi dosis untuk pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS.

Obat lopinovir dan ritonavir diberikan dalam dosis rendah dan dikonsumsi berbarengan dengan obat ARV.

Ilustrasi Hidroksiklorokuin dan azitromisin. Kedua obat ini disebut dapat digunakan untuk mengobati virus corona penyebab Covid-19 SHUTTERSTOCK/SOMEMEANS Ilustrasi Hidroksiklorokuin dan azitromisin. Kedua obat ini disebut dapat digunakan untuk mengobati virus corona penyebab Covid-19

3. Azitromisin

Azitromisin merupakan antibiotik yang digunakan untuk pengobatan sejumlah infeksi akibat bakteri.

Obat ini sering diresepkan dalam mengobati infeksi di paru-paru, hidung dan tenggorokan, sendi dan tulang, kulit, darah, hingga infeksi menular seksual, seperti infeksi klamidia dan gonore.

Azitromisin adalah obat antibiotik makrolida. Obat ini bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan dan mencegah penyebaran bakteri agar tidak meluas ke bagian tubuh lainnya.

4. Doxicycline dan claritromisin

Seperti disebutkan Nafrialdi, doxicycline dan claritromisin juga merupakan antibiotik yang kedudukannya sama dengan azitomisin.

Dilansir Hello Sehat, doxycycline adalah obat golongan antibiotik tetracycline (tetrasiklin), yang memiliki kegunaan untuk mengatasi berbagai macam infeksi bakteri, termasuk bakteri penyebab jerawat. Doxycycline juga digunakan untuk mencegah malaria dan mengobati kondisi kulit rosacea.

Cara kerja doxyxycline adalah dengan menghentikan pertumbuhan bakteri. Antibiotik ini hanya mengobati infeksi bakteri. Obat ini tidak bekerja untuk infeksi virus (seperti pilek, flu).

Clarithromisin adalah obat antibiotik dalam golongan makrolide. Obat ini juga digunakan bersama dengan obat antiulkus untuk mengobati beberapa jenis tukak lambung dan mencegah infeksi bakteri tertentu.

Obat claritromisin juga bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri. Obat ini tidak bekerja untuk infeksi virus (seperti pilek dan flu).

Baca juga: Obat untuk Corona Tak Semua Sama, Ini 3 Jenis Obat Covid-19

Baca tentang

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA Juno Ungkap Hujan Es Kaya Amonia, Petunjuk Baru Cuaca Planet Jupiter

NASA Juno Ungkap Hujan Es Kaya Amonia, Petunjuk Baru Cuaca Planet Jupiter

Fenomena
AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

Oh Begitu
Kekuatan Kotoran, Ungkap Keberadaan Koloni Penguin Kaisar yang Tersembunyi

Kekuatan Kotoran, Ungkap Keberadaan Koloni Penguin Kaisar yang Tersembunyi

Fenomena
Ilmuwan Temukan Bukti Bagian dari Sistem Kekebalan dapat Memperparah Covid-19

Ilmuwan Temukan Bukti Bagian dari Sistem Kekebalan dapat Memperparah Covid-19

Fenomena
Susah Cari Pasangan, Anglerfish Rela Bucin Seumur Hidup

Susah Cari Pasangan, Anglerfish Rela Bucin Seumur Hidup

Oh Begitu
BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

Kita
Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Oh Begitu
Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Kita
Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Oh Begitu
Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Fenomena
Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Oh Begitu
Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Fenomena
Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Fenomena
komentar
Close Ads X