Waspada, Anak 5-14 Tahun Paling Banyak Terinfeksi DBD dan Meninggal Dunia

Kompas.com - 01/05/2020, 19:04 WIB
Foto dirilis Rabu (29/3/2020), memperlihatkan anggota medis dari TNI-AD turut ambil bagian merawat penderita DBD di puskesmas rawat inap Nita di Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT. Sebelumnya wabah DBD sudah terjadi berulang-ulang pada 2010, 2013 dan 2016 di Sikka, dan tahun ini dianggap paling buruk setelah sedikitnya merenggut 14 nyawa. ANTARA FOTO/KORNELIS KAHAFoto dirilis Rabu (29/3/2020), memperlihatkan anggota medis dari TNI-AD turut ambil bagian merawat penderita DBD di puskesmas rawat inap Nita di Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT. Sebelumnya wabah DBD sudah terjadi berulang-ulang pada 2010, 2013 dan 2016 di Sikka, dan tahun ini dianggap paling buruk setelah sedikitnya merenggut 14 nyawa.

KOMPAS.com - Anak usai 5 hingga 14 tahun menjadi rentang usia yang paling banyak terinfeksi penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD) dan meninggal dunia.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan, dari Januari hingga tanggal 30 April 2020, terdapat 49.931 jumlah kasus pasien DBD di seluruh willayah Indonesia.

Sementara itu, disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, rata-rata laporan distribusi kasus usia anak-anak memiliki porsi yang tinggi, termasuk tingkat kematian.

Angka kasus infeksi dan kematian yang tinggi pada anak-anak ini utamanya didasarkan pada kondisi anak-anak yang memang rentan terinfeksi virus dengue.

Baca juga: Pasien DBD Capai 49.941, Ini 5 Wilayah Indonesia dengan Kasus Terbanyak

"Mungkin karena sekarang banyak di rumah, dan memang DBD rentan pada usia anak-anak," kata Nadia kepada Kompas.com, Kamis (29/4/2020).

Berikut distribusi kasus infeksi dan kematian DBD per kelompok umur di Indonesia.

1. Usia di bawah satu tahun, jumlah kasusnya mencapai 5 persen dengan angka kematian mencapai 13 persen.

2. Usia 1-4 tahun, jumlah kasusnya mencapai 20 persen dengan angka kematian mencapai 27 persen.

3. Usia 5-14 tahun, jumlah kasus mencapai 29 persen dengan angka kematian mencapai 35 persen.

4. Usia 15-44 tahun, jumlah kasusnya mencapai 35 persen dengan angka kematian mencapai 14 persen.

5. Usia di atas 44 tahun, jumlah kasusnya mencapai 11 persen dengan angka kematian mencapai 11 persen.

Baca juga: Sama-sama Mewabah di Indonesia, Ini Beda Gejala DBD dan Covid-19

Selain kondisi yang mengharuskan anak-anak berlajar di rumah dan daya tubuh yang rentan terinfeksi, ketidakdisiplinan dalam mengelola kebersihan lingkungan menjadi faktor lainnya kasus DBD pada anak ini meningkat.

Menurut Nadia, saat ini warga banyak berada di rumah, tetapi pemberantasan sarang nyamuk yang dilaksanakan masyarakat kurang optimal.

"Sehingga kasus DBD kadang-kadang banyak, bahkan menimbulkan kejadian luar biasa," ujar dia.

Oleh sebab itu, di tengah pandemi Covid-19 yang masih masif terjadi ini, Nadia mengingatkan perlunya meningkatkan kewaspadaan.

Kewaspadaan tidak hanya terhadap Covid-19 saja, melainkan penyakit lainnya yang juga masih sangat berpotensi terjadi di tengah pandemi dan perubahan cuaca saat ini.

Contohnya adalah genangan air ataupun tumpukan sampah yang sangat besar sehingga bisa menjadi sarang atau tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X