Virus Corona Bencana Nasional, 4 Hal Penting untuk Hindari Penularan Baru

Kompas.com - 16/03/2020, 19:03 WIB
Ilustrasi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona

TREVINO PAKASI

Indonesia kini tergabung dalam barisan 105 negara dan teritori yang terkena serangan SARS-CoV-2 setelah Senin pekan lalu pemerintah mengkonfirmasi ada dua pasien positif terinfeksi COVID-19 dan seminggu kemudian naik drastis menjadi 27 pasien.

Berbeda dari pandemi flu burung yang muncul sejak 2003 akibat kontak manusia dengan unggas, sebuah artikel kolaborasi ilmuwan Jerman dan Cina yang baru-baru dipublikasikan di The Lancet menunjukkan penyebaran virus corona yang awalnya dari Wuhan Cina ini lebih banyak dipengaruhi perilaku migrasi manusia dalam skala besar.

Penyebaran COVID-19 begitu cepat karena penularan dari orang ke orang dan lebih dipercepat lagi oleh jangkauan transportasi udara antardaerah dan antarnegara/benua. Wabah bermula dari Wuhan, kini virus ini telah menyebar ke hampir semua benua.

Karena penyakit ini belum ada obat dan vaksinnya, sangat penting untuk mencegah perluasan penyebaran virus ini.

Anda bisa melakukan setidaknya empat hal ini: menghindari bepergian ke kota atau negara yang telah ditemukan virus ini, menghindari kerumunan massal, meningkatkan imunitas tubuh, dan menjaga kesehatan hewan dan melestarikan lingkungan agar hewan tidak keluar dari habitat.

1. Tunda bepergian ke daerah endemis

Langkah pemerintah Indonesia menghentikan sementara penerbangan dari Cina ke Indonesia dan arah sebaliknya dan larangan sementara kunjungan/transit warga asing dari Italia, Iran, dan Korea Selatan ke Indonesia merupakan keputusan yang tepat untuk menurunkan potensi risiko penyebaran virus ini.

Kewaspadaan ini bukan hanya pada perjalanan internasional, tapi juga pada perjalanan domestik. Karena Indonesia begitu luas dan banyak pintu masuk, serta besarnya kemungkinan kasus-kasus tidak tercatat, maka penting bagi kita untuk tetap waspada.

Agar infeksi ini tidak makin meluas, anggota masyarakat yang akan melakukan perjalanan sebaiknya mengetahui dari awal, apakah daerah tujuannya sedang mengalami pandemi COVID-19. Sebaliknya mereka yang tinggal di daerah endemis, lebih baik menunda perjalanan sampai daerah tersebut dinyatakan bersih.

Selain itu, penting bagi kita yang menempuh perjalanan, baik domestik maupun antarnegara dan benua memperhatikan kesehatan diri sendiri, sebelum, selama, dan sesudah melakukan perjalanan.

Untuk mencegah penularan, WHO menganjurkan untuk mencuci tangan dengan sabun dan menghindari atau mengurangi frekuensi memegang mukosa (lapisan dalam rongga tubuh) seperti hidung, mulut, dan mata.

Dalam perjalanan, orang dapat menjaga kebersihan diri dengan menggunakan antiseptik sebelum dan sesudah bersentuhan dengan orang. Perlu menjaga kebersihan tangan agar kalau ada virus yang melekat di tangan tidak cepat menular ke mukosa tubuh.

Sesudah perjalanan dari daerah berisiko, Anda akan mendapatkan kartu kuning health alert card dari kantor kesehatan pelabuhan di bandara internasional. Kartu ini adalah kartu screening ketika mendarat, disimpan dalam waktu 14 hari sesuai masa inkubasi coronavirus. Kartu ini harus dibawa saat berkonsultasi jika dalam masa inkubasi terjadi gejala-gejala infeksi saluran pernapasan. Selama periode itu kita harus tetap menjaga kesehatan.

Bila Anda harus berpergian pada musim wabah coronavirus seperti saat ini, ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter ahli travel medicine. Mereka dapat memberikan saran yang lebih spesifik terkait perjalanan Anda.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Oh Begitu
Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Fenomena
Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Fenomena
Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Fenomena
Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fenomena
Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Oh Begitu
Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Oh Begitu
Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Oh Begitu
Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Oh Begitu
Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Fenomena
Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Oh Begitu
Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Oh Begitu
Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Oh Begitu
Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Oh Begitu
Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X