Penantian Panjang Dibuatnya Vaksin Demam Berdarah…

Kompas.com - 14/02/2020, 19:03 WIB
Ilustrasi demam berdarah kenary820/shutterstockIlustrasi demam berdarah

KOMPAS.com – Di tengah wabah virus corona Wuhan (Covid-19), ada penyakit yang sudah puluhan tahun “menghantui” masyarakat Indonesia dan sampai saat ini belum tertanggulangi dengan baik.

Adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dari nyamuk Aedes aegepti. Pada beberapa kasus, virus dengue juga disebarkan oleh nyamuk Ae. Albopictus yang merupakan penyebar virus cikungunya dan Zika.

“Dari hasil penelitian, Indonesia merupakan negara kedua dengan penderita DBD terbanyak di dunia setelah Brasil,” tutur Dr Tedjo Sasmono, Kepala Unit Penelitian Dengue di Eijkman Institute of Molecular Biology.

Kepada Kompas.com, Kamis (6/2/2020), Tedjo mengatakan epidemi dengue di Indonesia dimulai pada 1968. Tepatnya di Jakarta dan Surabaya.

Baca juga: Lupakan Sejenak Virus Corona, Demam Berdarah Menghantui Kita

“Dulu kasusnya masih sedikit, namun sampai sekarang kasusnya sangat meningkat. Pada tahun 1968, prevalensi pasien yang terkena DBD masih 0,05 per 100.000 jiwa. Namun pada 2016, meningkat sangat pesat menjadi 86 per 100.000 jiwa,” paparnya.

Lebih dari 50 tahun pasca Indonesia terjangkit virus dengue, kasus DBD belum juga bisa diatasi. Bahkan, ada masa-masa di mana terjadinya outbreak DBD yang menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Secara nasional, KLB dilihat terjadi lima tahun sekali. Namun dari data Kementerian Kesehatan, kami bisa melihat puncak dari KLB biasanya terjadi selang enam sampai delapan tahun,” papar Tedjo.

Vaksin yang rumit

Angka kejadian DBD di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Tedjo menyebutkan, ada beberapa faktor yang menentukan jumlah kasus hingga angka kematian akibat DBD.

“Mengapa demam berdarah di Indonesia sulit sekali dibasmi, karena banyak sekali pengaruhnya. Mulai dari iklim, vektor nyamuk dan populasinya, kekebalan komunitasnya. Maka dari itu pencegahan kasus DBD harus dilakukan multi-sektor,” paparnya.

Pada lingkup rumah tangga, hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah 3M Plus (Menguras, Menutup, Menyingkirkan) plus cara lain untuk mencegah DBD seperti menaburkan bubuk abate dan menaruh ikan di kolam.

Baca juga: 4 Jenis Virus Penyebab Demam Berdarah dan Karakteristiknya

Dari segi swasta dan pemerintah, salah satu cara pencegahan DBD yang dinilai paling ampuh adalah pemberian vaksin. Ini karena adanya “populasi naif”, atau bayi baru lahir, yang rentan terkena DBD sehingga penyakit tersebut sulit dibasmi.

Namun, setelah lebih dari 50 tahun DBD merajalela di Indonesia, vaksin untuk penyakit tersebut tak kunjung hadir. Mengapa?

“Vaksin dengue memang agak rumit, karena virus dengue di Indonesia terdiri dari empat jenis. Tidak saling menetralisir,” tutur Tedjo.

Selain Indonesia, pengembangan vaksin dengue juga dilakukan oleh beberapa instansi di luar negeri. Namun, belum ada yang bisa menemukan racikan yang pas untuk menangkal empat jenis virus dengue sekaligus.

Baca juga: Mengapa Nyamuk Demam Berdarah Merajalela di Musim Hujan?

Selain vaksin, lanjutnya, kendala juga berasal dari pembuatan obat yang diberikan kepada pasien DBD. Hal ini disebabkan oleh sifat virus yang self limiting.

“Virus dengue itu self limiting, sangat sebentar. Jadi kalau memang mau diobati, harus pada saat pertama kali virusnya masuk. Tapi kebanyakan orang, ketika terinfeksi dengue, hanya 25 persen pasien yang merasa sakit,” papar ia.

Pasien DBD biasanya masuk rumah sakit ketika ia merasa tidak kuat, umumnya pada hari ketiga atau keempat. Saat itu, kalaupun diberikan obat, efektivitasnya akan menurun karena pada hari ketujuh virus tersebut sudah hilang.

Ilustrasi demam berdarah, nyamuk aedes aegypti. Ilustrasi demam berdarah, nyamuk aedes aegypti.

Menurunkan kasus dengue

Tedjo menyebutkan, bila pengembangan vaksin dengue telah ditemukan kemudian didistribusikan dengan baik, angka kasus DBD pasti akan mengalami penurunan.

“Dengan ditemukannya vaksin, diharapkan akan menurunkan kasus dengue. Tidak akan menghilangkan 100 persen tapi akan menurunkan angkanya,” lanjut ia.

Baca juga: 5 Kesalahpahaman Terbesar tentang DBD dan Nyamuknya

Saat ini, perusahaan farmasi yang memiliki pengembangan vaksin dengue terkini adalah Takeda.

“Takeda sudah punya hasil (vaksin dengue) cukup bagus. Kalau sudah jadi dan masuk program pemerintah, diharapkan akan menekan angka terjangkitnya DBD,” tutup Tedjo.

 

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X