Film Raya and The Last Dragon Suarakan Pesan Kemanusiaan dan Kesetaraan Gender

Kompas.com - 19/03/2021, 12:45 WIB
Awkwafina akan mengisi suara naga terakhir dalam Raya and the Last Dragon, Sisu. DisneyAwkwafina akan mengisi suara naga terakhir dalam Raya and the Last Dragon, Sisu.

Pecahnya permata sihir sekaligus mengawali bangkitnya Druun dan mengubah semua manusia yang disentuhnya menjadi batu, termasuk Benja.

Sejak itu Raya mulai memburu permata sihir dan mencari Sisu untuk menyatukan pecahan permata sihir demi misi memusnahkan Druun dan menghidupkan kembali orang-orang yang menjadi batu.

Film sebagai komunikasi massa dan sarana kritik sosial

Sebagai artefak budaya populer (Hebdige, 1988), film merupakan media komunikasi massa yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan ke khalayak karena kemampuannya yang melampaui batas teritorial dan segmen sosial.

Dalam bukunya How to Read a Film, James Monaco (2009) mengatakan bahwa film dapat berfungsi sebagai sarana kritik sosial. Begitu pun dengan pesan di balik film Raya and the Last Dragon yang mengangkat dua tema besar yaitu keserakahan dan kepercayaan

Baca juga: Raya and The Last Dragon, Film Animasi yang Terinspirasi dari Keragaman Budaya Asia Tenggara

Berkaca pada realitas sosial, film ini sangat apik dalam menyontohkan dampak buruk dari ketamakan manusia melalui peristiwa perebutan permata sihir sebagai simbol perebutan kekuasaan.

Peristiwa yang berujung pada bangkitnya Druun kemudian mengakibatkan jatuhnya banyak korban.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Fenomena sosial semacam ini sangat lekat dengan sifat manusia di kehidupan sehari-hari. Antroplog asal Inggris, Edward Burnett Taylor, mengatakan bahwa manusia selalu mengembangkan individual situational learning untuk menghindari rasa sakit dan memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia bisa melakukan tindakan menyakiti mahluk hidup lain, termasuk manusia.

Sama halnya dengan segala bentuk penjajahan, di luar dari ekspansi kekuasaan, segala bentuk penjajahan sulit dilepaskan dari konteks pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Perpecahan Kumandra menampilkan berbagai problematika kehidupan, mulai dari keselamatan diri dan kesejahteraan sehingga perebutan permata sihir dapat dimaknai sebagai tindakan penyelamatan diri atau kelompok dengan menyakiti kelompok lain.

Baca juga: Via Vallen Ditunjuk Disney Isi Soundtrack Film Raya and The Last Dragon

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X