Cerita Slank Buka Jalan di Belantika Musik Indonesia, Bimbim: Ibaratnya ke Hutan Bawa Golok

Kompas.com - 17/11/2019, 14:03 WIB
Bimbim dan Kaka Slank saat ditemui di Ms. Jackson music lounge di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (14/11/2019). KOMPAS.com/ANDIKA ADITIABimbim dan Kaka Slank saat ditemui di Ms. Jackson music lounge di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Kamis (14/11/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa yang tak kenal Slank, grup band rock yang bermarkas di Potlot, Jakarta Selatan.

Grup legendaris yang telah terbentuk sejak 26 Desember 1983 ini mampu mempertahankan eksistensinya melintasi zaman.

Lalu, mudahkah Slank melakukannya? Ternyata tidak.

Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim sang penabuh drum yang juga pendiri Slank, mengaku grup bandnya harus melalui jalan berliku untuk bisa seperti saat ini.

Baca juga: Slank Bakal Reuni dengan Para Eks Personel, Siapa Saja?

Bimbim mengibaratkan, ia dan rekan-rekan seperti membuka jalur di hutan yang belum terjamah pada awal bermusik.

"Kami tuh kalau ke hutan bawa golok buat buka jalan, kami ibaratnya gitu, selama tujuh tahun kami baru bisa masuk label," ucap Bimbim saat ditemui di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Setelah berhasil masuk label, kata Bimbim, jalan belum terbuka lebar.

Baca juga: Mantan Gitaris Slank Bentuk RsG, Luncurkan Singel Vitamin

Ia dan kawan-kawan masih harus beradu argumentasi dengan label agar musik yang dibawakan bisa sesuai dengan prinsip yang mereka usung.

"Kami juga sering berkutat sama label soal lagu, gaya bermusik dan lain-lain, di satu sisi label juga punya rencana sendiri, kami harus bisa collaborate itu," ucapnya.

Seiring waktu, Bimbim menyadari, Slank mendapat tempat di hati penikmat musik Indonesia.

Baca juga: Kehabisan Ongkos, 63 Slankers Telantar di Bekasi Usai Nonton Slank

Sebut saja Slankers, nama penggemar Slank yang menjadi salah satu spirit band pelantun "Kamu Harus Pulang" ini.

Sejak saat itu, Bimbim dan kawan-kawan belajar bagaimana membuat Slank bisa lebih mapan secara manajemen.

"Kami di album ke-4 (album Generasi Biru) baru bisa membentuk manajemen, ada road manager, kru, dan fans secara formal," ucap Bimbim.

Baca juga: Slank Sebarkan Virus Perdamaian di Mahakarya Festival

Walau sudah cukup mapan, lanjut Bimbim, Slank bukan tanpa cobaan.

Pernah suatu ketika, Slank harus merasakan pahitnya penjualan kaset di industri musik Tanah Air.

Tak hanya itu, masuknya invasi musik dari negeri lain membuat angka penjualan album Slank menjadi merosot.

Baca juga: Slank: Ambon Pantas Jadi Kota Musik Dunia

"Dulu sekitar tahun 1989, itu penjualan kaset di Indonesia pernah lesu banget, penjualan terjun bebas, banyak band Indonesia merasakan itu," ucapnya.

"Ditambah saat itu ada Malaysia Invasion, awal-awal 90-an, di mana band-band Malaysia booming di Indonesia, musisi lokal pun harus bersaing kalau enggak mau tenggelam," sambungnya.

Setelah melewati jalan berliku, mulai dari jurang gelap bernama narkoba hingga gonta-ganti personel, Slank akhirnya mampu melewati itu semua.

Baca juga: Slank Kangen Konser Intim yang Tak Berjarak dengan Penonton

Bimbim tak memungkiri bahwa itu berhasil dilewati karena semangat para personel Slank yang haus untuk berkarya.

Bahkan, tambah Bimbim, kini tak jarang banyak pihak label menemui Slank untuk sekadar berbincang soal manajemen musik dan sebagainya.

"Bahkan banyak label sekarang belajar dari Slank, gimana mengelola suatu musik dan manajemennya karena untuk menjadi sesuatu itu memang enggak gampang, rumusnya banyak dan belum tentu langsung berhasil juga," ujar Bimbim.

Baca juga: Susi Pudjiastuti Tak Lagi Jadi Menteri, Slank Tidak Ambil Pusing

Diketahui, Slank telah menelurkan 23 album studio sepanjang 36 tahun bermusik.

Terbaru, Slank meluncurkan album teranyar berjudul Slanking Forever yang dirilis pada Agustus 2019 lalu.

Saat ini, Slank beranggotakan Bimbim (drum), Kaka (vokal), Abdee Negara (gitar), Ridho (gitar), dan Ivanka (bas).

Baca juga: Slank Bakal Rayakan Ulang Tahun ke-36 di Padang Savana, di Mana Ya?

Slank berhasil menjadi salah satu musisi bersejarah dan dikenang serta berpengaruh sepanjang masa di Indonesia.

Selain itu, Slank juga menyandang predikat Indonesia's Highest-Paid Music Star (bintang musik berbayaran termahal).

Pada 2008 dan 2009, Slank pernah dibayar dengan honor Rp 500 juta per penampilan.

Baca juga: Slank Godok Rencana Reuni dengan Bongky, Pay, dan Indra Qadarsih


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X