Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dokter RS Eropa di Gaza Sebut Anak-anak Jadi Sasaran Penembak Jitu Israel

Kompas.com - 03/04/2024, 16:30 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Guardian

YERUSALEM, KOMPAS.com - Dr Fozia Alvi sedang berkeliling di unit perawatan intensif pada hari terakhirnya di rumah sakit umum Eropa yang hancur di Gaza selatan.

Saat itu, dia berhenti di samping dua pasien muda dengan luka di wajah dan selang pernapasan di tenggorokan mereka.

"Saya bertanya kepada perawat, bagaimana bisa seperti ini? Dia mengatakan bahwa mereka dibawa beberapa jam yang lalu. Mereka terkena tembakan penembak jitu di bagian otak. Mereka berusia tujuh atau delapan tahun," katanya, seperti dilansir dari Guardian.

Baca juga: Mengenal World Central Kitchen, Organisasi Nirlaba yang 7 Krunya Tewas Ditembak Israel di Gaza

Hati dokter asal Kanada itu pun terenyuh. Ini bukanlah anak-anak pertama yang dirawat oleh Alvi, yang menjadi sasaran tentara Israel.

Dia tahu kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh satu peluru berkaliber tinggi pada tubuh anak-anak yang masih rapuh.

"Mereka tidak dapat berbicara, lumpuh. Mereka benar-benar terbaring seperti sayuran di tempat tidur itu. Mereka bukan satu-satunya. Saya bahkan melihat anak-anak kecil dengan luka tembak penembak jitu di kepala dan dada. Mereka bukan kombatan, mereka anak kecil," kata Alvi.

Menurut kementerian kesehatan Palestina, satu dari tiga dari 32.000 orang yang tewas dalam serangan Israel selama berbulan-bulan di Gaza adalah anak-anak.

Puluhan ribu anak lainnya menderita luka parah, termasuk di antaranya diamputasi.

Sembilan dokter memberikan laporan kepada Guardian tentang pengalaman mereka bekerja di rumah sakit Gaza tahun ini, semuanya kecuali satu dari mereka adalah sukarelawan asing.

Penilaian umum mereka adalah bahwa sebagian besar anak-anak yang tewas dan terluka yang mereka rawat terkena pecahan peluru atau terbakar selama pengeboman besar-besaran Israel di lingkungan pemukiman, dalam beberapa kasus, seluruh anggota keluarga tewas.

Baca juga: Kelaparan di Gaza Kian Mencekik, Israel Tak Menggubris, PBB Kelimpungan

Sebagian lainnya tewas atau terluka akibat tertimpa reruntuhan bangunan, dan masih banyak lagi yang hilang di bawah reruntuhan.

Namun, para dokter juga melaporkan bahwa mereka merawat sejumlah anak-anak, orang tua, dan orang lain yang jelas-jelas bukan kombatan yang mengalami luka tembak di kepala atau dada.

Beberapa dokter mengatakan bahwa jenis dan lokasi luka, serta keterangan warga Palestina yang membawa anak-anak ke rumah sakit, membuat mereka yakin bahwa para korban menjadi sasaran langsung pasukan Israel.

Para dokter lain mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui keadaan penembakan, namun mereka sangat terganggu dengan banyaknya anak-anak yang terluka parah atau terbunuh oleh satu tembakan, terkadang oleh peluru berkaliber tinggi yang menyebabkan kerusakan parah pada tubuh anak-anak.

Pada pertengahan Februari, sekelompok ahli PBB menuduh militer Israel menargetkan warga sipil Palestina yang jelas-jelas bukan kombatan, termasuk anak-anak, saat mereka mencari perlindungan.

Baca juga: Isi Resolusi Gencatan Senjata Gaza Tanpa Batas Waktu yang Diusulkan Perancis

"Kami dikejutkan oleh laporan-laporan mengenai penargetan yang disengaja dan pembunuhan di luar hukum terhadap perempuan dan anak-anak Palestina di tempat-tempat di mana mereka mencari perlindungan, atau ketika melarikan diri. Beberapa dari mereka dilaporkan memegang kain putih ketika mereka dibunuh oleh tentara Israel atau pasukan yang berafiliasi dengannya," kata kelompok tersebut.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Sumber Guardian

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com