Bahaya, Laut Dalam di Dunia Telah Tercemar Merkuri

Kompas.com - 11/10/2020, 16:29 WIB
Ilustrasi laut, samudra Ilustrasi laut, samudra

BEIJING, KOMPAS.com - Sebuah studi yang dipimpin tim peneliti China menunjukkan bahwa metil merkuri, zat racun yang cukup kuat, ditemukan dalam sampel-sampel biologis yang diambil dari Palung Mariana, bagian terdalam dari lautan dunia.

Demikian menurut temuan Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS) sebagaimana dilansir dari Xinhua, Sabtu (10/10/2020).

Para peneliti dari Institut Teknik dan Ilmu Laut Dalam yang berada di bawah naungan CAS, bersama Universitas Tianjin dan sejumlah institusi lainnya, menggunakan wahana pendaratan laut dalam untuk mengumpulkan fauna dan sedimen permukaan dari palung Mariana dan Yap.

Mereka kemudian mengukur komposisi isotop merkuri pada sampel-sampel itu guna melacak sumber dan rute migrasi metil merkuri.

Baca juga: Selundupkan 200 Kg Merkuri, Pasutri di Maluku Ditangkap Polisi

Hasilnya menunjukkan bahwa metil merkuri terkandung dalam udang yang hidup di palung-palung itu.

Kandungan merkuri dalam tubuh hewan palung berasal dari metil merkuri yang dihasilkan di bagian atas laut.

Zat racun tersebut lalu masuk masuk ke dalam rantai makanan di laut dalam melalui partikel yang tenggelam.

Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.

Baca juga: Bisa Sebabkan Keracunan Merkuri, Begini Cara Aman Konsumsi Ikan

Sebelumnya, sebuah tim penelitian yang dipimpin Peng Xiaotong dari Institut Teknik dan Ilmu Laut Dalam membuat kemajuan dalam studi tentang pencemaran lingkungan laut dalam.

Mereka melaporkan penyebaran plastik mikro di Palung Mariana, yang menunjukkan bahwa plastik mikro sudah mengontaminasi bagian terdalam dari laut dunia.

Mereka juga melaporkan penyebaran dan dampak kumulatif dari sisa polutan organik di area tersebut.

Baca juga: Mengenal Penyebab Keracunan Merkuri dan Cara Mengatasinya

Studi-studi ini menunjukkan bahwa kemungkinan polutan buatan manusia, termasuk plastik mikro dan metil merkuri, untuk mencapai laut dalam lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya.

Peng menambahkan hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi ekosistem laut dalam yang rentan.


Sumber Xinhua
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X