Kompas.com - 15/10/2021, 19:30 WIB
Ilustrasi gempa ShutterstockIlustrasi gempa

KOMPAS.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan isu siklus gempa 100 tahunan di Selatan Jawa tidak benar.

Sebelumnya, beredar kabar bahwa BMKG meminta agar warga yang tinggal ataupun beraktivitas di pesisir selatan Jawa untuk mewaspadai potensi gempa besar yang berdampak tsunami mengacu siklus 100 tahunan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono memastikan bahwa isu ini tidak benar dan belum bisa diprediksi dengan pasti oleh para peneliti.

"Jadi isu yang berkembang adanya siklus gempa 100 tahunan di Selatan Jawa itu tidak benar dan BMKG tidak pernah memberikan pernyataan terkait hal ini," ujar Daryono kepada Kompas.com, Jumat (15/10/2021).

Baca juga: Mengapa Indonesia Kerap Dilanda Gempa Bumi?

Baru-baru ini, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang Makmuri memberi peringatan ada potensi gempa besar magnitudo 8,7 yang bisa berdampak tsunami di pesisir Selatan Jawa.

Disebutkan pula bahwa itu merupakan siklus 100 tahunan yang harus diwaspadai. Meski demikian, Makmuri menyebut hal tersebut adalah potensi yang bisa terjadi dan bisa tidak terjadi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ilmuwan mengatakan itu siklus 100 tahunan, tapi belum tentu pas 100 tahun. Belum ada yang tahu kapan itu terjadi, tapi harus diwaspadai bersama," ucapnya dikutip Antara, Kamis (14/10/2021).

Daryono menjelaskan, yang dimaksud oleh Makmuri mengenai periode ulang gempa 100 tahun, bukan berarti di selatan Jawa setiap seratus tahun ada gempa.

"Perulangan gempa besar atau "return period" itu dalam keyakinan saya, pasti terjadi, karena peristiwa gempa besar adalah siklus," kata dia.

Baca juga: 6 Fakta Gempa Pacitan Hari Ini, Berikut Penjelasan BMKG

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh DARYONO BMKG (@daryonobmkg)

Daryono menekankan, masih sulit untuk memastikan kapan terjadinya perulangan gempa besar itu.

Ia menyebutkan, memang ada metode statistik untuk menghitung periode ulang gempa.

Akan tetapi, belum ada yang tepat menghasilkan informsi kapan gempa besar akan terjadi.

Misalnya, pada tahun berapa, bulan apa, atau bahkan tanggal berapa.

"Dengan metode statistik, para ahli dapat melakukan perhitungan periode ulang gempa (return period) tersebut. Tetapi kenyataanya, hitungan yang dilakukan belum ada yang sukses dengan tepat mampu menjawab kapan terjadi perulangan gempa terjadi, karena tingkat error hasil perhitungan yang dilakukan selama ini besar," kata Daryono.

Dengan demikian, lanjut Daryono, masalah perulangan gempa ini masih menjadi bahan kajian dan riset mahasiswa jurusan gempa (seismologi).

"Operasionalnya belum ada untuk prediksi gempa," ujar Daryono.

Baca juga: BMKG: Gempa M 4,8 Guncang Pacitan Jawa Timur, Terasa hingga Trenggalek

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.