Heru Margianto
Managing Editor Kompas.com

Wartawan Kompas.com. Meminati isu-isu politik dan keberagaman. Penikmat bintang-bintang di langit malam. 

BTS Meal dan Imajinasi Fiktif Homo Sapiens

Kompas.com - 12/06/2021, 08:53 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Jadi, BTS Meal yang fenomenal itu sebenarnya bukan cerita baru. Para pengumpul kapital dengan sangat lihai mampu menstimulasi hasrat manusia untuk tidak berhenti mengonsumsi beraneka ragam komoditas yang dihasilkan oleh mesin-mesin industri kapitalis.

Hasrat mengonsumsi tidak lagi didorong oleh kebutuhan primer atau nilai guna dari sebuah produk, tapi oleh simbol atau tanda yang dilekatkan pada produk itu.

Maka, BTS Meal bukan sekadar nugget atau kentang goreng yang dicocol saus. Ia adalah tanda yang memiliki makna tertentu. Simbol atau tanda ini jauh lebih penting dari nilai gunanya.

Oleh karena itu, jangan heran kalo kardus atau kertas pembungkus BTS Meal dilego dengan harga selangit di toko onlineBaca: Bungkus McD BTS Meal Dijual hingga Rp 599 Juta di Marketplace

Barangkali boleh dibilang, BTS Meal adalah sebuah pengalaman abstrak imajinasi fiktif duduk semeja bersama V, Jeon Jung-kook, Jimin, Suga, Kim Seok-jin, RM, dan J-Hope sambil mencocol cajun atau sweet chilli dan mendengarkan Boy with Luv yang menghentak.

Dalam dunia tanda, realitas sejati dan realitas semu sulit dipisahkan, tak dapat dikenali. Ia berkelindan menciptakan realitas baru dalam bentuk ilusi.

Dalam dunia ilusi, yang saling berhubungan bukan lagi antarmanusia, tapi tanda-tanda imajinatif yang menyerupai pengalaman real.

Tanda-tanda ini diciptakan bukan demi memberikan kebahagiaan kepada konsumen, tapi sebenarnya hanya demi satu tujuan: akumulasi modal.

Namun, masyarakat konsumen memuja nilai tanda itu. Theodore Adorno dari Sekolah Frankfurt mencetuskan istilah yang dapat menggambarkan situasi ini: fetisisme komoditas, pemujaan atas sebuah produk industri.

Fetisisme adalah keyakinan bahwa ada kekuatan sakti tertentu di balik sebuah benda. Fetisisme komoditas adalah keyakinan bahwa ada kekuatan sakti tertentu di balik sebuah produk industri yang dapat meningkatkan kenikmatan citra penggunanya.

Maka, sepatu Otnisuka memiliki kesaktian membuat si pemakai merasa lebih ganteng ketimbang memakai sepatu merk konvensional lainnya, misalnya. Atau, Brompton memiliki aji-aji meningkatkan rasa harkat dan martabat penggowesnya.

Menurut Baudrillard, setiap aspek kehidupan manusia merupakan objek-objek konsumsi yang bisa dijadikan komoditi. Silakan tengok setiap barang yang melekat di tubuh Anda, mulai dari alas kaki hingga penutup kepala, juga tentang apa yang Anda tenteng.

Tak lupa nongkrong di mana dan makan apa. Bahkan, waktu luang pun adalah komoditas yang dimanfaatkan dengan sangat cerdik oleh industri hiburan.

Setiap anggota masyarakat konsumsi memiliki kadar fetisismenya sendiri sesuai dengan level finansial mereka yang seberapapun kecilnya selalu menjadi incaran para pengumpul kapital.

Di abad pertengahan, Rene Decartes menyatakan, eksistensi seorang manusia ditentukan oleh gagasan-gagasannya. Aku berpikir maka aku ada, kata Decartes. Bagi masyarakat konsumsi eksitensi ditentukan dari tanda-tanda yang dikonsumsi. Aku belanja maka aku ada.

Oleh karena itu, masyarakat konsumsi memaknai kehidupan seperti sebuah panggung tontonan. Mereka ingin ditonton dan menonton. Itu memberi rasa bahagia. Kebahagiaan dan kegembiraan ditentukan dari apa yang dikonsumsi. Semu. Tidak sejati.

Imajinasi fiktif Homo sapiens

Kabar baiknya, menurut catatan sejarah, kemampuan imajinasi abstrak penuh ilusi ini adalah faktor yang membuat manusia menjadi penguasa bumi, menyingkirkan para pesaingnya. Ketika saat ini kita menyebut manusia, yang dimaksud hanya satu yaitu kita sebagai Homo sapiens.

Sebenarnya, kita, Homo sapiens ini, memiliki keluarga (famili) dalam kelompok homo. Ada Homo rudolfensis di Afrika Timur, Homo erectus (Asia Timur), Homo neanderthalensis (Eropa dan Asia Barat), Homo soloensis (lembah Solo, Jawa Tengah), Homo floresiensis yang kerdil di Flores, Nusa Tenggara Timur, dan mungkin ada homo-homo lain yang hilang dan tulang belulangnya belum ditemukan sehingga hilang dari catatan kita.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.