Situasi India Saat Ini: Orang-orang Sekarat, Kondisi Tak Terkendali...

Kompas.com - 26/04/2021, 13:40 WIB
Foto pada 23 April 2021 menunjukkan tim medis membawa pasien setelah kebakaran di Rumah Sakit Covid-19 Vijay Vallabh di Virar, dekat Mumbai, India. Saat ini, India berjibaku melawan gelombang kedua virus corona yang begitu cepat penularannya. AP PHOTO/Rajanish KakadeFoto pada 23 April 2021 menunjukkan tim medis membawa pasien setelah kebakaran di Rumah Sakit Covid-19 Vijay Vallabh di Virar, dekat Mumbai, India. Saat ini, India berjibaku melawan gelombang kedua virus corona yang begitu cepat penularannya.

KOMPAS.com - India tengah jadi sorotan dunia karena mengalami gelombang kasus Covid-19 parah dalam beberapa pekan terakhir. 

Tercatat, pada Kamis (22/4/2021), India melaporkan kasus harian Covid-19 sebanyak 314.835 kasus.

Lonjakan ini tentu membuat kebutuhan layanan kesehatan membeludak. Dokter dan tenaga kesehatan kewalahan.

Inilah kesaksian para dokter di India yang berjuang melawan tsunami Covid-19.

Baca juga: Mengapa Krisis Covid-19 India Jadi Masalah Mengerikan bagi Dunia

Kondisi di Rajkot

Rajkot merupakan salah satu kota yang disebut-sebut paling parah terkena dampak pandemi gelombang kedua di India.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Melansir Straits Times, Minggu (25/4/2021), saat koran lokal mengabarkan 285 orang yang meninggal karena Covid-19 minggu lalu, seorang spesialis perawatan intensif di sebuah rumah sakit swasta di Rajkot, Dr. Vivek Jivani mengatakan bahwa 3 dari mereka adalah pasiennya.

Untuk menahan ketidakberdayaan dan kecemasan, Jivani menyediakan waktu untuk doa 10 menit setiap pagi.

"Orang-orang sekarat karena keadaan yang tidak dapat saya kendalikan, tetapi tetap saja, setiap kali pasien meninggal di jam tangan saya, saya berkata pada diri sendiri, berusaha lebih keras untuk orang berikutnya," kata Dr Jivani. 

Seperti Perang Dunia II

Profesional medis di seluruh India menyebutkan kata yang berulang ketika bicara tentang gelombang kedua Covid-19 di India.

Kata itu ialah kewalahan, marah, mengantuk, lapar, kelelahan, takut, mati rasa, tidak berdaya dan yang paling penting, lelah.

Baca juga: Covid-19 di India, Benarkah Mutasi Virus Corona Tak Terdeteksi PCR?

Ahli paru di Rumah Sakit Lilavati di Mumbai, Dr Jalil Parkar mengatakan bahwa tidak seperti gelombang pertama, dokter sekarang sudah mengetahui sifat Covid-19, tetapi berbeda.

"Volume yang sangat besar, mutasi, kecepatan kerusakan pasien yang sesak napas, ketakutan yang luar biasa di sekeliling, dan sumber daya kita yang terbatas membunuh kita," katanya.

Ia menyebut gelombang kedua ini seperti Perang Dunia II. Perang yang lebih mematikan dibanding yang pertama, meski sebenarnya lebih bisa dicegah.

Abai protokol

Ketika infeksi mereda pada Desember 2020, politisi dan warga dinilai mengendurkan kewaspadaan.

Mereka melepas masker dan tidak menjaga jarak. Kerumunan massa memadati berbagai kegiatan, seperti demonstrasi politik, festival keagamaan selama sebulan, dan pernikahan mewah.

Dr Parkar mengatakan inilah yang membuat virus corona jadi merajarela di seluruh India.

Baca juga: Varian Virus Corona di India Disebut Bisa Lolos Tes PCR, Ini Kata Epidemiolog

Dokter bekerja 18 jam sehari

India sekarang mencatat sekitar 347.000 infeksi baru setiap hari. Sistem kesehatan bertekuk lutut. Ada lebih dari 2.500 orang meninggal setiap hari.

Ibukota New Delhi, yang merupakan wilayah dengan kondisi terburuk, mencatat 24.331 kasus harian dan 348 kematian pada Jumat (23/4/2021).

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.