Manuver Politik Moeldoko dari Kacamata Pengamat dan Peneliti

Kompas.com - 08/03/2021, 10:00 WIB
Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko melambaikan tangan usai memberi keterangan pers di kediamannya kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (3/2/2021). Moeldoko membantah tudingan kudeta kepemimpinan Partai Demokrat di bawah Agus Harimurti Yudhyono (AHY) demi kepentingannya sebagai calon presiden pada pemilihan umum tahun 2024 mendatang. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa. ANTARAFOTO/M RISYAL HIDAYATKepala Kantor Staf Presiden Moeldoko melambaikan tangan usai memberi keterangan pers di kediamannya kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (3/2/2021). Moeldoko membantah tudingan kudeta kepemimpinan Partai Demokrat di bawah Agus Harimurti Yudhyono (AHY) demi kepentingannya sebagai calon presiden pada pemilihan umum tahun 2024 mendatang. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

KOMPAS.com - Kancah perpolitikan Indonesia tengah hangat dengan masalah kepemimpinan yang terjadi di tubuh Partai Demokrat.

Suara partai berlambang bintang Mercy terpecah, yakni kubu yang mendukung Agus Harimurti Yudhoyono maupun kubu di belakang Moeldoko.

Moeldoko sendiri dipilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar pada Jumat (5/3/2021) di Deli Serdang.

Langkah politik Moeldoko pun menuai banyak sorotan dari para pengamat dan peneliti politik.

Baca juga: 7 Hal tentang Sosok Moeldoko, Ketum Demokrat Versi KLB

Preseden buruk

Pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip) Wijayanto mengatakan, perpecahan dan pengambilalihan kekuasaan di Partai Denokrat merupakan preseden yang buruk bagi demokrasi.

Menurut dia, konflik di tubuh Partai Demokrat lebih ekstrem daripada dua konflik sebelumnya, yang melibatkan Partai Golkar dan PPP.

"Yang terjadi justru partai-partai yang pecah akhirnya kalah oleh mereka yang menang dengan KLB dan dekat dengan kekuasaan," kata dia.

"Nah ini menurut saya menjadi preseden yang sangat buruk, dengan begitu habis sudah oposisi, meskipun selama ini demokrat tidak bisa juga disebut oposisi," tambahnya.

Bagi Wijayanto, apa yang terjadi pada Partai Demokrat ini semakin membuat tren buruk bahwa partai sangat mudah diremukkan oleh penguasa.

Baca juga: Apa yang Memicu Api Konflik di Partai Demokrat?

Pertaruhan sikap Istana

Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, Presiden Joko Widodo mesti angkat bicara atas masalah di tubuh Partai Demokrat.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X