Mengenal tentang Antifa, Kelompok yang Disebut Teroris oleh Donald Trump

Kompas.com - 01/06/2020, 14:55 WIB
Seorang pengunjuk rasa yang berasal dari kelompok Antifa ditangkap dalam pergerakan di Portland, Oregon, 17 Agustus 2019. Akhir pekan, Presiden Donald Trump mengumumkan Antifa akan dikategorikan sebagai teroris buntut demonstrasi memprotes kematian pria kulit hitam bernama George Floyd di Minneapolis. AFP PHOTO/JOHN RUDOFFSeorang pengunjuk rasa yang berasal dari kelompok Antifa ditangkap dalam pergerakan di Portland, Oregon, 17 Agustus 2019. Akhir pekan, Presiden Donald Trump mengumumkan Antifa akan dikategorikan sebagai teroris buntut demonstrasi memprotes kematian pria kulit hitam bernama George Floyd di Minneapolis.

Anggota Antifa berkampanye menentang tindakan yang mereka pandang otoriter, homofobik, rasial, atau xenofobik.

Meski tidak berafiliasi dengan kelompok kiri lain, sejumlah anggotanya terkadang bekerja dengan jaringan aktivis lokal lain yang berkumpul di sekitar permasalahan yang sama, seperti gerakan Occupy atau Black Lives Matter.

Tujuan

Para pendukung Antifa umumnya berusaha menghentikan apa yang mereka lihat sebagai kelompok fasis, rasial, dan sayap kanan.

Mereka beranggapan bahwa ide-ide tersebut mengarah pada penargetan kaum marginal, termasuk ras minoritas, perempuan, dan anggota komunitas LGBTQ.

"Argumennya adalah bahwa militan anti-fasisme secara inheren membela diri mereka karena kekerasan yang didokumentasikan secara historis yang diajukan oleh kaum fasis," kata Mark Bray, seorang dosen sejarah di Dartmouth College dan penulis Antifa: The Anti-Fascist Handbook.

Banyak anggota Antifa juga berpartisipasi dalam bentuk pengorganisasian masyarakat yang lebih damai, tetapi mereka percaya bahwa menggunakan kekerasan dapat dibenarkan.

Sebab, mereka menganggap jika kelompok rasial atau fasis dibiarkan berorganisasi dengan bebas, maka akan menghasilkan kekerasan terhadap kaum marginal.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Benito Mussolini Dirikan Partai Fasis

Apa bedanya dari kelompok lain?

Bray mengatakan, kelompok Antifa sering menggunakan taktik yang mirip dengan kelompok-kelompok anarkistis, seperti berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng.

Dikutip dari BBC, taktik itu dikenal dengan "blok hitam" yang memungkinkan mereka untuk bergerak bersama sebagai satu kelompok anonim.

Kelompok-kelompok itu juga memiliki ideologi yang tumpang tindih, karena sering mengkritik kapitalisme dan berupaya membongkar struktur otoritas, termasuk pasukan polisi.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X