Epidemiolog: Tes Covid-19 Masih Rendah, Jangan Dulu Berpikir New Normal

Kompas.com - 30/05/2020, 20:10 WIB
Ilustrasi new normal. Orang-orang mulai kembali bekerja di kantor. SHUTTERSTOCK/INTERSTIDIlustrasi new normal. Orang-orang mulai kembali bekerja di kantor.

KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia saat ini tengah menggodok wacana untuk memberlakukan  new normal atau pola hidup normal baru kepada masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda.

Meskipun angka kasus Covid-19 hingga Sabtu (30/5/2020), telah mencapai 25.773 kasus, dengan 557 kasus baru.

Jika melihat grafik kasus dari hari ke hari penambahan kasus baru di Indonesia, belum terlihat adanya penurunan yang signifikan hingga akhir Mei ini.

Namun, pemerintah sudah merencanakan akan kembali memberlakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya dengan pola normal yang baru.

Baca juga: Tes Corona di Indonesia Masih Rendah, Ahli Sarankan Pooling Test, Ini Alasannya...

Tes masih rendah

Melihat kondisi ini, ahli epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan ada banyak pertimbangan yang harus diperhatikan dengan seksama sebelum mengambil keputusan memberlakukan new normal.

"Pada daerah-daerah yang cakupan testing-nya masih rendah apalagi dengan positive rate-nya yang masih tinggi, jangan berpikir dulu masalah untuk memberlakukan new normal pada lokasi-lokasi publik," kata Dicky dalam sebuah keterangan video yang diterima Kompas.com, Sabtu (29/5/2020).

Menurut Dicky, uji tes Covid-19 yang masih rendah itu mengindikasikan belum diketahuinya secara persis derajat keparahan atau kondisi suatu wilayah kaitannya dengan persebaran virus corona.

Untuk itu, jika suatu wilayah masih memiliki cakupan pengujian yang rendah, disarankan untuk meningkatkannya terlebih dahulu, baru kemudian mempersiapkan kebijakan new normal.

" New normal apalagi (diberlakukan di) tempat wisata, apalagi yang sifatnya melibatkan banyak masyarakat di sebuah komunitas, harus betul-betul dipertimbangkan dengan matang, karena kondisi tiap daerah berbeda dan tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator saja," ujar Dicky.

Baca juga: Baru Mengetes 52 Orang Per 1 Juta Penduduk, Bagaimana Tes Virus Corona di Indonesia?

Jumlah uji ideal

Beberapa daerah di Indonesia, misalnya Jawa Barat dan Aceh, disebut Dicky masih memiliki tingkat pengujian yang rendah. Lalu apa indikator tinggi, rendah, dan idealnya jumlah tes di satu wilayah?

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X