Langkah-langkah Pemerintah agar Corona Tak Merajalela

Kompas.com - 23/03/2020, 10:09 WIB
Ilustrasi virus corona (COVID-19). KemenkesIlustrasi virus corona (COVID-19).

JUMLAH pasien yang dinyatakan positif terjangkit Virus Corona terus menanjak signifikan. Minggu (22/3/2020), total pasien yang dinyatakan positif COVID-19 mencapai 514 orang.

Jumlah ini naik berkali-kali lipat dari jumlah pasien pada pekan lalu, Minggu (15/3/2020), yang masih 117 kasus.

Beragam cara dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan jajarannya guna menangkal dan menahan laju penyebaran virus ‘mematikan’ ini.

Salah satu cara yang ditempuh adalah melakukan rapid test (tes cepat).

Jokowi sepertinya lebih tertarik meniru cara Korea Selatan dalam menangani COVID-19, yakni melakukan rapid test bukan lockdown.

Rapid test adalah metode pemeriksaan cepat untuk melihat suatu infeksi di tubuh.

Ada berbagai cara rapid test yang bisa dilakukan. Namun pada kasus COVID-19, Indonesia akan menggunakan metode pemeriksaan IgG dan IgM yang diambil dari sampel darah.

Penapisan cepat

Presiden Jokowi mengatakan, rapid test untuk COVID-19 sudah mulai dilakukan pada Jumat (20/3/2020) sore di Jakarta Selatan.

Juru Bicara penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengklaim, hasil tes akan ketahuan kurang dari dua menit. Namun tak semua orang akan dites. Hanya mereka yang berisiko saja yang akan dicek.

Jika hasilnya berpotensi positif, maka yang bersangkutan akan diminta mengisolasi diri.

Sementara, bagi orang yang berpotensi positif akan dicek lebih lanjut dengan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) gen N.

Jika tes cepat menggunakan darah, PCR menggunakan cairan di tenggorokan. Jika tes PCR menunjukkan hasil positif, yang bersangkutan akan langsung dirawat.

Karena hasilnya bisa diketahui lebih cepat, cara ini diyakini bisa lebih efektif mencegah penyebaran Virus Corona.

Pasalnya, tiap orang dapat langsung ditindak sesuai hasil tes dan dapat menghindari penyebaran lebih luas ke orang lain.

Kritik

Namun cara ini dikritik sejumlah kalangan.

Pertama, karena langkah ini dinilai terlambat.

Kedua, akurasi dari rapid test dipersoalkan. Pemerintah mengakui, tes cepat yang menggunakan pengambilan sampel darah ini bukan untuk mendiagnosis apakah seseorang positif atau tidak terkena COVID-19 melainkan baru tahap skrining (deteksi dini).

Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS LatKLIn) melalui keterangan tertulisnya mengingatkan, rapid test belum diketahui validitas dan akurasinya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

1.677 Orang Terinfeksi Covid-19, Kapan Virus Corona di RI Berakhir?

1.677 Orang Terinfeksi Covid-19, Kapan Virus Corona di RI Berakhir?

Tren
Virus Corona: Efek ke Sistem Pernafasan, Gejala, dan Orang Paling Berisiko Terinfeksi Covid-19

Virus Corona: Efek ke Sistem Pernafasan, Gejala, dan Orang Paling Berisiko Terinfeksi Covid-19

Tren
Update: Perkembangan Wabah Corona di ASEAN, Kamboja, Laos, dan Vietnam Laporkan 0 Kematian

Update: Perkembangan Wabah Corona di ASEAN, Kamboja, Laos, dan Vietnam Laporkan 0 Kematian

Tren
Update: 6 Kabar Baik Soal Penanganan Virus Corona di Indonesia

Update: 6 Kabar Baik Soal Penanganan Virus Corona di Indonesia

Tren
Ramai Penolakan Warga, Berbahayakah Pemakaman Jenazah Positif Virus Corona di TPU?

Ramai Penolakan Warga, Berbahayakah Pemakaman Jenazah Positif Virus Corona di TPU?

Tren
INFOGRAFIK: Beda PSBB dengan Karantina Wilayah

INFOGRAFIK: Beda PSBB dengan Karantina Wilayah

Tren
Update 5 Provinsi dengan Kasus Terbanyak di Indonesia

Update 5 Provinsi dengan Kasus Terbanyak di Indonesia

Tren
5 Kebijakan  Jokowi Tangani Covid-19, Gratiskan Tarif Listrik hingga Keringanan Kredit

5 Kebijakan Jokowi Tangani Covid-19, Gratiskan Tarif Listrik hingga Keringanan Kredit

Tren
INFOGRAFIK: Protokol Layanan Nikah Kemenag untuk Cegah Penyebaran Virus Corona

INFOGRAFIK: Protokol Layanan Nikah Kemenag untuk Cegah Penyebaran Virus Corona

Tren
Kecepatan Berita Versus Kecepatan Virus

Kecepatan Berita Versus Kecepatan Virus

Tren
Tekan Penyebaran Corona, Seberapa Efektif Physical Distancing dan Harus Sampai Kapan?

Tekan Penyebaran Corona, Seberapa Efektif Physical Distancing dan Harus Sampai Kapan?

Tren
Jaga Daya Tahan Tubuh, Cukupkah Hanya Konsumsi Vitamin C Setiap Hari?

Jaga Daya Tahan Tubuh, Cukupkah Hanya Konsumsi Vitamin C Setiap Hari?

Tren
FDA Keluarkan Izin Terbatas Penggunaan Klorokuin untuk Pengobatan Covid-19 di AS

FDA Keluarkan Izin Terbatas Penggunaan Klorokuin untuk Pengobatan Covid-19 di AS

Tren
Work from Home, Berikut Tips Lindungi Keluarga Anda di Rumah dari Virus Corona

Work from Home, Berikut Tips Lindungi Keluarga Anda di Rumah dari Virus Corona

Tren
[HOAKS] Meletakkan 2 Butir Amoxicillin di Tandon Air Jadi Penangkal Corona

[HOAKS] Meletakkan 2 Butir Amoxicillin di Tandon Air Jadi Penangkal Corona

Tren
komentar
Close Ads X