BMKG: Tak Ada Gangguan Anomali Iklim Global pada 2020

Kompas.com - 09/12/2019, 07:00 WIB
ilustrasi cuaca BMKG.go.idilustrasi cuaca

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) memprediksi musim hujan sepanjang tahun 2020 cenderung mempunyai pola yang sama dengan normal (klimatologisnya).

Meskipun begitu, awal musim hujan akhir 2019 telah diperkirakan akan lebih mundur dari normalnya dan pada tahun 2018.

"Periode musim hujan (November 2019–Maret 2020) masih sesuai dengan normalnya (klimatologi 1981-2010). Namun, dapat lebih basah dibandingkan tahun 2019, khususnya Sumatera dan Kalimantan bagian utara," kata Kepala Biro Humas BMKG Akhmad Taufan Maulana kepada Kompas.com, Minggu (8/12/2019).

Taufan menjelaskan, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2020.

Sementara, awal musim kemarau diprakirakan mirip dengan normalnya, yaitu sekitar April - Mei 2020, dan berlangsung hingga Oktober 2020.

Baca juga: Belum Seluruh Wilayah Indonesia Masuki Musim Hujan, Ini Kata BMKG

Taufan menuturkan, peluang terjadinya bencana hidrometeorologis (siklon tropis, hujan ekstrem, puting beliung, angin kencang, gelombang ekstrem, dan kekeringan iklim) tetap perlu diwaspadai meskipun diprediksi berkurang jumlah kejadian maupun kekuatannya pada kondisi iklim yang normal.

"Memperhatikan pemutakhiran prediksi saat ini terkait prospek curah hujan yang cenderung normal sesuai klimatologisnya, serta tidak adanya ancaman potensi anomali iklim global, multi pihak mitra kerja BMKG dan juga masyarakat umum secara luas hendaknya dapat memanfaatkan informasi iklim ini untuk perencanaan jangka pendek tahun 2020," ujar dia.

Pemenuhan dan penyimpanan cadangan air pada waduk-waduk, embung-embung, kolam retensi, sistem polder, lanjut Taufan dapat dilakukan lebih dini pada saat puncak musim hujan hingga peralihan musim.

Sehingga, dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kebutuhan pertanian.

Tidak ada potensi gangguan anomali iklim global pada 2020

Kekeringan yang menyertai musim kemarau tahun 2019 menimbulkan dampak signifikan terhadap ketersediaan kebutuhan air baku, kekeringan lahan pertanian yang berujung gagal panen, kebakaran hutan dan lahan yang diikuti bencana kabut asap.

Taufan menambahkan, kejadian kekeringan parah di Indonesia umumnya dipicu oleh kejadian anomali iklim di Samudera Pasifik berupa El Nino, dan/atau di Samudera Hindia berupa Dipole Mode positif (IOD+).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Bullying yang Diduga Menjadi Penyebab Siswi di Jaktim Loncat dari Lantai 4 Sekolahan

Mengenal Bullying yang Diduga Menjadi Penyebab Siswi di Jaktim Loncat dari Lantai 4 Sekolahan

Tren
Virus Misterius Baru Merebak di China, Diperkirakan Infeksi 1.700 Orang

Virus Misterius Baru Merebak di China, Diperkirakan Infeksi 1.700 Orang

Tren
Saat Jaksa Agung dan Komnas HAM Berseberangan soal Tragedi Semanggi...

Saat Jaksa Agung dan Komnas HAM Berseberangan soal Tragedi Semanggi...

Tren
Boeing Ungkap Temukan Masalah Baru pada Sistem Komputer 737 MAX

Boeing Ungkap Temukan Masalah Baru pada Sistem Komputer 737 MAX

Tren
Gunung Ijen Alami Peningkatan Aktivitas Vulkanik, Ini Imbauan BNPB

Gunung Ijen Alami Peningkatan Aktivitas Vulkanik, Ini Imbauan BNPB

Tren
Jokowi Akui Tak Kuat Gaji Putra Mahkota UEA, Ini Profil Mohamed bin Zayed

Jokowi Akui Tak Kuat Gaji Putra Mahkota UEA, Ini Profil Mohamed bin Zayed

Tren
BMKG: Hujan Lebat hingga 20 Januari di Jabodetabek Berpotensi Banjir

BMKG: Hujan Lebat hingga 20 Januari di Jabodetabek Berpotensi Banjir

Tren
Mengenal Demam Babi Afrika dan Hog Cholera di Sumut

Mengenal Demam Babi Afrika dan Hog Cholera di Sumut

Tren
Musim Penghujan tapi Cuaca Cerah di Beberapa Wilayah, Apa Penyebabnya?

Musim Penghujan tapi Cuaca Cerah di Beberapa Wilayah, Apa Penyebabnya?

Tren
Tony Blair, Mantan Perdana Menteri Inggris yang Jadi Anggota Dewan Pengarah Ibu Kota Baru

Tony Blair, Mantan Perdana Menteri Inggris yang Jadi Anggota Dewan Pengarah Ibu Kota Baru

Tren
Buruan Daftar, BPJS Ketenagakerjaan Buka Lowongan untuk Lulusan D3-S1

Buruan Daftar, BPJS Ketenagakerjaan Buka Lowongan untuk Lulusan D3-S1

Tren
Ditunjuk sebagai Kepala Bakamla, Ini Sepak Terjang Laksdya Aan Kurnia

Ditunjuk sebagai Kepala Bakamla, Ini Sepak Terjang Laksdya Aan Kurnia

Tren
Kerusakan Ekosistem Picu Banjir dan Longsor Besar di Kabupaten Bogor

Kerusakan Ekosistem Picu Banjir dan Longsor Besar di Kabupaten Bogor

Tren
Profil Masayoshi Son, Dewan Pengarah Ibu Kota Baru Berharta Rp 295,4 Triliun

Profil Masayoshi Son, Dewan Pengarah Ibu Kota Baru Berharta Rp 295,4 Triliun

Tren
Ramai Kerajaan Fiktif, Mengapa Masyarakat Mudah Percaya dan Tergoda Jadi Anggotanya?

Ramai Kerajaan Fiktif, Mengapa Masyarakat Mudah Percaya dan Tergoda Jadi Anggotanya?

Tren
komentar
Close Ads X