Mimpi Buruk Pemanasan Global (6): Kiamat Sudah Dekat

Kompas.com - 08/12/2019, 20:30 WIB
Spanduk kuning dipasang di Patung Dirgantara, Pancoran, Rabu (23/10/2019). Tangkapan layar dari akun @jktinfoSpanduk kuning dipasang di Patung Dirgantara, Pancoran, Rabu (23/10/2019).

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan kelima, Mimpi Buruk Pemanasan Global (5): Keruntuhan Ekonomi, Perang, dan Mafia.

KOMPAS.com - Pada Oktober lalu, warga Ibu Kota dihebohkan dengan aksi memanjat di Patung Dirgantara atau Pancoran dan Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia.

Para aktivis Greenpeace nekat memanjat belasan meter untuk membentangkan spanduk bertuliskan "Orang baik pilih energi yang baik, #Reformasi dikorupsi" dan "Lawan perusak hutan #Reformasi dikorupsi".

Meski diamankan polisi, mereka tak gentar. Mereka sengaja melakukannya untuk mengingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama para menteri yang baru dilantik untuk memprioritaskan dua hal terkait lingkungan di Indonesia.

Di sektor energi, mereka menuntut pemerintah beralih pada energi terbarukan dan meninggalkan energi kotor batu bara. Kemudian, untuk menyelamatkan hutan dan menjaga yang masih tersisa serta melawan para perusak hutan.

Baca juga: Spanduk Juga Dibentangkan di Patung Pancoran, Pemasangnya Bungkam Saat Diperiksa Polisi

"Dua sektor ini menjadi sangat penting. Itu harus jadi prioritas jika pemerintah ingin bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan masalah lingkungan dan juga melawan perubahan iklim, karena ini berkaitan dengan isu global," kata Juru Kampanye Greenpeace Arie Rompas.

Bukan kali ini saja kebijakan lingkungan pemerintah diprotes. Dalam gelombang unjuk rasa selama enam pekan terakhir, stop pembakaran hutan dan tindak tegas korporasi yang terlibat menjadi satu dari delapan tuntutan yang diminta mahasiswa dan rakyat sipil.

Ramai-ramai protes

Protes terkait lingkungan belum pernah sekencang ini. Di barat, ada Greta Thunberg, pelajar berusia 16 tahun dari Swedia yang mengguncang dunia dengan protesnya.

Pada 2018, Ia mulai bolos dari sekolahnya untuk berunjuk rasa di depan gedung parlemen seorang diri. Saat itu, Swedia mengalami musim panas terparah dalam 262 tahun terakhir dengan gelombang panas dan kebakaran hutan.

Baca juga: Pelajar Pedemo Diajak Jenih Melihat Masalah dan Belajar dari Greta

Kini di seluruh dunia, tiap Jumat setidaknya ada sekelompok pelajar yang bolos untuk berunjuk rasa mengikuti Greta, termasuk di Jakarta.

Pada 23 September 2019 lalu, di hadapan para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Greta yang mengidap Asperger syndrome marah-marah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X