Angin Revolusi Arab Spring Berembus Kembali?

Kompas.com - 30/11/2019, 14:47 WIB
Para demonstran Irak berlari membawa bendera nasional dalam demonstrasi menentang pemerintah yang terjadi di Nasiriyah, ibu kota Provinsi Dhi Qar, pada 25 Oktober 2019. AFP/-Para demonstran Irak berlari membawa bendera nasional dalam demonstrasi menentang pemerintah yang terjadi di Nasiriyah, ibu kota Provinsi Dhi Qar, pada 25 Oktober 2019.

KOMPAS.com - Gelombang aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah Negara Arab dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi ekonomi negara yang tak kunjung membaik, angka pengangguran tinggi, dan korupsi yang merajalela melatarbelakangi aksi protes tersebut.

Di Irak, demonstrasi mulai berlangsung sejak 1 Oktober 2019 lalu ketika ribuan warga turun ke jalanan Bagdad untuk melakukan aksi protes kepada pemerintah.

Aksi protes yang bermula di Baghdad itu kemudian meluas di berbagai daerah, seperti Baqudah, al-Mutsanna, ad-Diwaniyah, Najaf, Dhi Qar, dan Basrah.

Para demonstran menganggap pemerintah acuh terhadap masalah negara serta lebih mementingkan kehidupan pribadinya.

Sejak 2004, diyakini hampir 450 miliar dollar AS dana publik mengalir ke para politisi dan pengusaha.

Hal tersebut menempatkan Irak sebagai negara paling korup ke-12 di dunia, berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi Internasional 2018.

Sayangnya, aksi yang bermula secara spontan dan damai itu berubah menjadi aksi berdarah. Pasalnya, pihak keamanan justru menembakkan peluru tajam ke arah demonstran.

Hingga saat ini, aksi demonstrasi yang berlangsung selama dua bulan itu menelan korban sekitar 400 orang meninggal dunia dan ribuan lainnya terluka.

Baca juga: Protes di Irak Masih Berlanjut, 46 Orang Dikabarkan Tewas

Mengundurkan Diri

Demonstran Irak ketika berkumpul di depan Kantor Konsulat Iran yang berlokasi di kota suci Najaf pada 27 November 2019. Insiden itu terjadi saat negeri itu dihantam krisis dalam dua bulan terakhir.AFP/- Demonstran Irak ketika berkumpul di depan Kantor Konsulat Iran yang berlokasi di kota suci Najaf pada 27 November 2019. Insiden itu terjadi saat negeri itu dihantam krisis dalam dua bulan terakhir.

Hasilnya, Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengajukan pengunduran diri pada Jumat (29/11/2019).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X