Jalan Panjang Warga Sukoharjo Tuntut Bau Menyengat Pabrik Rayon PT RUM

Kompas.com - 28/10/2019, 21:00 WIB
 BERORASI--Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya berorasi memberikan penjelasan kepada ribuan pengunjuk rasa yang menuntut PT RUM ditutup permanen di halaman Pemkab Sukoharjo, Kamis (22/2/2018). KOMPAS.com/Muhlis Al Alawi BERORASI--Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya berorasi memberikan penjelasan kepada ribuan pengunjuk rasa yang menuntut PT RUM ditutup permanen di halaman Pemkab Sukoharjo, Kamis (22/2/2018).

KOMPAS.com – Rumah Dinas Bupati Sukoharjo, Jawa Tengah, Wardoyo Wijaya sempat didatangi 40 warga. Tak hanya itu, warga yang datang bahkan bermalam di rumah dinas bupati tersebut, Jumat (25/10/2019).

Aksi warga tersebut sebagai bentuk protes karena bau limbah dari pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Sukoharjo kembali tercium.

Protes warga bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, sudah ada beberapa kali protes warga terhadap bau yang ditimbulkan PT RUM

Protes Panjang warga sejak 2017

Limbah PT RUM sendiri menimbulkan efek bau di sekitar pemukiman warga sejak mulai beroperasi akhir Oktober 2017.

Sejumlah protes sudah dilayangkan warga sejak Oktober 2017 silam. Diberitakan Harian Kompas pada Jumat (27/10/2017), ratusan warga Desa Gupit, Plesan, dan Celep Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah berunjuk rasa di pabrik serat rayon tersebut.

Penanggung jawab unjuk rasa saat itu, Antoni Rangga mengatakan bau menyengat muncul sepekan terakhir.

Baca juga: Protes Bau Limbah PT RUM Sukoharjo, Tidur di Depan Rumdin Bupati hingga Desak Izin Dicabut

”Di Dukuh Tawang Krajan, Desa Gupit, ada 50-an warga pusing, mual, bahkan ada yang pingsan,” katanya.

Dalam pemberitaan tersebut, Presiden Direktur PT Rayon Utama Makmur, Pramono menyampaikan, bau menyengat muncul akibat kegagalan proses awal produksi serat rayon PT RUM yang saat itu masih baru.

Menurutnya, untuk memproses serat rayon, harus mencairkan bahan baku berupa bubur kertas berbentuk lembaran menggunakan cairan kimia menjadi larutan yang disebut viscose.

Larutan tersebut kemudian diproses menggunakan mesin dengan banyak lubang kecil hingga membentuk serat rayon.

Namun kemudian, lubang-lubang mesin banyak tersumbat sisa pengelasan. Akibatnya, proses produksi pabrik serat rayon di bawah PT Sritex Tbk ini terganggu.

Cairan viscose yang digunakan diketahui mengental sehingga tak bisa diproses menjadi serat. Larutan pun dibuang ke instalasi pengolahan limbah.

Untuk mencairkan larutan tersebut, kemudian ditambahkan asam sulfat, yang kemudian menimbulkan bau menyengat.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X