Kompas.com - 27/10/2019, 16:56 WIB
PA, perempuan yang diamankan dalam penggerebekan praktik prostitusi di Kota Batu, Jawa Timur. KOMPAS.com/A. FAIZALPA, perempuan yang diamankan dalam penggerebekan praktik prostitusi di Kota Batu, Jawa Timur.

KOMPAS.com – Seorang publik figur berinisial PA (23) ditangkap aparat kepolisian karena kasus prostitusi di Kota Batu, Jawa Timur pada Jumat (25/10/2019) malam.

Figur publik tersebut disebut polisi berasal dari Balikpapan dan pernah menjadi kontestan Putri Pariwisata 2016.

Sosok publik figur yang tertangkap karena masalah prostitusi bukan kali pertama ini terjadi.

Sebelumnya, terdapat sosok artis berinisial VA yang ditangkap karena kasus yang sama.

VA ditangkap karena terlibat dalam kasus prostitusi online dengan tarif kencan mencapai Rp 80 juta.

Diberitakan Kompas.com (10/01/2019), ES, mucikari VA saat itu mengaku tidak pernah menawarkan jasa prostitusi kepada kalangan artis, Ia menyebut justru kalangan artislah yang meminta tolong mencarikan “user”.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat itu, polisi mendeteksi 5 artis yang dicurigai polisi aktif bertransaksi dengan ES.

Lantas, kenapa publik figur terutama artis kerap terlibat dalam kasus "menjual diri" atau prostitusi?

Padahal dari kacamata publik, sosok artis dipandang memiliki penghasilan yang berkecukupan.

Menanggapi hal itu, Sosiolog dari Universitas Airlangga (UNAIR) Bagong Suyanto mengatakan prostitusi dipilih sebagai jalan pintas para artis yang kurang populer.

“Keartisan mereka ditawarkan, supaya lebih mahal,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Minggu (27/10/2019).

Baca juga: Deretan Artis yang Terjerat Narkoba Sepanjang Oktober 2019

Naik kelas

Hal tersebut menurut Bagong, karena dalam dunia prostitusi memang terdapat kelas-kelas tertentu.

Seperti pelajar, mahasiswa, maupun artis, yang banyak dianggap sebagai “primadona”.

“Artis harganya paling mahal. Orang mau bayar mahal karena menyangkut sensasi dan ketidakpecayaan dirinya,” kata dia.

Menurut Bagong, umumnya, para “user” merasa apabila bisa mem-booking artis, maka para “user” tersebut akan merasa naik kelas.

Selain itu, menurut dia, gaya hidup para artis juga mempengaruhi.

“Gaya hidup hedonis tentu menjadi salah satu pendorong,” ujarnya.

Lebih lanjut Bagong juga menyoroti tentang bagaimana respons masyarakat.

“Artis yang ketangkap basah biasanya bukan makin meredup, justru semakin populer. Dikontrak untuk main sinetron, dan sebagainya,” ujar dia.

Menurut Bagong, hal tersebut terjadi karena Indonesia semakin permisif.

Seperti biasa, topik mengenai PA ini langsung ramai menjadi perbincangan warganet. Bahkan topik perihal PA menjadi trending topic di Twitter hingga Minggu (27/10/2019) sore.

Baca juga: Selain Imam Nahrawi, Berikut Artis, Politisi hingga Pejabat yang Ditahan di Jumat Keramat


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.