Kompas.com - 17/01/2022, 11:00 WIB
Ilustrasi teori pelanggaran harapan Kompas.com/VANYA KARUNIA MULIA PUTRIIlustrasi teori pelanggaran harapan

KOMPAS.comTeori pelanggaran harapan menjelaskan bahwa tiap manusia memiliki harapan mengenai perilaku nonverbal orang lain.

Judee Burgoon selaku penggagas teori ini berargumen jika perubahan tak terduga yang terjadi dalam perbincangan antarkomunikator dapat menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan rasa marah, dan sering kali ambigu.

Bagaimana konsep harapan dalam teori pelanggaran harapan?

Nur Hidayah dan Drajat Tri Kartono dalam jurnal Pelanggaran Harapan Terkait Edukasi Kecantikan di Realitas Tiktok (2021), menuliskan bahwa konsep harapan dalam teori pelanggaran harapan adalah komunikasi yang menunjukkan pola bertahan dari perilaku yang diantisipasi.

Tiap individu punya harapan tertentu tentang bagaimana sepatutnya lawan bicara berinteraksi dengan dirinya. Harapan tersebut memengaruhi percakapan dan kesan individu dengan orang lain.

Asumsi teori pelanggaran harapan

Dikutip dari jurnal Analisis Pelanggaran Harapan Nonverbal dalam Jarak Personal Karyawan Riau Pos Pekanbaru (2016) karya M. Syukri, teori pelanggaran harapan melihat komunikasi sebagai proses pertukaran informasi yang bisa dianggap positif atau negatif, tergantung rasa suka atau harapan antarorang yang terlibat dalam interaksi.

Baca juga: Teori Disonansi Kognitif, Saat Manusia Tidak Menyukai Inkonsistensi

Teori pelanggaran harapan berpegang pada bagaimana pesan disampaikan kepada orang lain dan jenis perilaku yang akan dipilih individu dalam sebuah interaksi.

Menurut Richard West dan Lynn H. Turner dalam buku Introducing Communication Theory: Analysis and Application (2008), asumsi teori pelanggaran harapan adalah:

Asumsi 1: harapan mendorong terjadinya interaksi antarmanusia

Harapan (expectancy) bisa diartikan sebagai pemikiran dan perilaku yang diantisipasi dan disetujui dalam percakapan dengan orang lain. Munculnya harapan dapat mendorong terjadinya interaksi.

Burgoon menjelaskan bahwa individu tidak memandang perilaku orang lain sebagai hal acak, melainkan mereka berharap bagaimana seharusnya orang lain berbicara dan berperilaku.

Contohnya, seseorang yang sedang diwawancarai saat melamar pekerjaan juga diharapkan menjaga jarak yang sesuai menurut pewawancara.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.