Kompas.com - 26/12/2020, 17:54 WIB
Ilustrasi debat ShutterstockIlustrasi debat

KOMPAS.com - Dilansir dari buku Debat: Berpikir Kritis, Berwawasan Luas, Persuasif, Argumentatif (2018) karya Fegy Lestari, debat merupakan aktivitas yang dilakukan untuk membahas sesuatu dan mempertahankan pendapat.

Debat pada dasarnya berangkat dari teks. Seperti teks pada umumnya, debat juga memiliki struktur yang membangun narasi suatu debat. Berikut struktur yang terdapat dalam debat:

  • Pengantar: menjelaskan posisi si penyampai debat mengenai topik yang jadi permasalahan (mosi). Pengantar ini menentukan apakah penyampai debat ada di kubu afirmasi atau oposisi. Dari penegasan posisi tersebut, debat dapat disampaikan dengan memberi awalan berupa gambaran umum atas topik yang diangkat.
  • Argumen: menjelaskan alasan mengapa setuju atau tidak setuju akan suatu hal. Sertakan fakta dan bukti yang mendukung. Fakta dan bukti tersebut harus sejalan dengan alasan agar argumen menjadi logis.
  • Simpulan: menegaskan kembali posisi si penyampai debat dalam mosi yang diangkat.

Untuk lebih memahami struktur teks debat, perhatikan contoh berikut:

Pihak afirmasi

(Pengantar) Saya mendukung industri sawit. Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor sawit terbesar. Kita harus memanfaatkan sebaik mungkin potensi negeri demi kemajuan ekonomi.

(Argumen) Industri sawit dapat menjadi penopang perekonomian Indonesia. Pada 2017 industri sawit menjadi penghasil devisa sebesar US$ 22,97 miliar. Sedangkan pada 2020 tercatat, ekspor kelapa sawit mencapai 14,6 juta ton atau setara dengan 13,82 miliar dolar AS. Industri ini juga dapat menyerap tenaga kerja bagi masyarakat.

(Simpulan) Dari segi ekonomi, sawit sangat menguntungkan. Maka, saya mendukung sepenuhnya industri sawit di Indonesia.

Baca juga: Contoh Debat tentang Belajar Online

Pihak oposisi

(Pengantar) Saya menolak adanya industri sawit. Setiap tahun Indonesia mengalami kebakaran hutan karena pembukaan lahan untuk industri sawit. Hutan heterogen semakin sempit, kehidupan masyarakat adat terancam, belum lagi krisis iklim yang semakin parah.

(Argumen) Krisis iklim sudah menjadi sorotan dan fokus permasalahan negara-negara di dunia. Indonesia, yang dinilai sebagai lumbung oksigen dunia malah dipusingkan dengan kebakaran hutan. Kementrian Lingkungan Hidup mencatat pada 2020, seluas 292.922 hektar lahan hutan terbakar. Sementara angka tertinggi ada pada 2005, yaitu seluas 2.611.411,44 hektar dilahap api. Kebakaran tersebut timbul karena berkurangnya hutan heterogen dan pembukaan lahan untuk industri sawit. Industri sawit hanya menguntungkan perusahaan dan korporasi, sementara warga negara menjadi korban.

(Simpulan) Dampak buruk yang ditimbulkan industri sawit sangat besar. Mulai dari polusi, gangguan kesehatan, ketimpangan sosial, bahkan ketimpangan ekonomi. Maka, saya menolak industri sawit, karena merugikan dan mengancam nyawa warga negara.

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X