Kompas.com - 16/01/2020, 12:00 WIB
Presiden Joko Widodo mengucapkan selamat Hari Puisi Nasional melalui Instagram miliknya, Sabtu (28/4/2018). Repro Bidik Layar InstagramPresiden Joko Widodo mengucapkan selamat Hari Puisi Nasional melalui Instagram miliknya, Sabtu (28/4/2018).
Penulis Ari Welianto
|

KOMPAS.com - Puisi merupakan sebuah karya sastra hasil dari ungkapan dan perasaan seseorang dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik, dan bait.

Isi-isi dalam puisi penuh makna dengan bahasa yang dipakai cukup indah. Banyak orang yang tertarik dengan puisi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Puisi adalah ragam sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat. Sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapn khusus lewat penataan bunyi, irama dan makna khusus.

Baca juga: Menangis, Romahurmuziy Baca Puisi untuk Istri dan Anak di Sidang Pledoi

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), Puisi merupakan sastra yang membangkitkan kesadaran imajinatif dan terkonsentrasi pengalaman atau respon emosional melalui bahasa yang dipilih serta diatur untuk makna, suara, dan ritme.

Puisi adalah subyek yang luas, bahkan setua sejarah dan lebih tuan. Puisi hadir di mana dan bisa oleh siapa pun dibuat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Puisi biasanya dikenali dari ketergantungan pada suku kata, garis, dan berhubungan dengan struktur. Kecil kemungkinan bahwa jenis sastra lain memiliki istilah teknis seperti puisi.

Ungkapan penulis

Biasanya puisi itu mengungkapkan pikiran dan perasaan penulis atau disebut penyair. Ia, secara imajinatif dan disusun dalam mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan struktur fisik dan struktur batinnya.

Dalm puisi mengutamakan bunyi, bentuk, dan juga makna yang disampaikan. Mana makna sebagai bukti puisi baik yang terdapat pada makna mendalam dengan memadatkan segala unsur bahasa.

Baca juga: Masyarakat di Bengkulu Gelar Tadarus Puisi Sepanjang 1 Kilometer

Puisi adalah cara lain menggunakan bahasa. Mungkin dalam beberapa permulaan hipotesis atau anggapan dasar, hal itu merupakan satu-satunya cara menggunakan bahasa atau hanya dengan bahasa singkat.

Penggunaan kata-kata indah dalam puisi modern sudah bukan merupakan acuan utama. Dalam puisi modern ada beberapa karya penyair yang mengesampingkan unsur kata-kata indah.

Tujuan puisi sangat beragam. Beberapa puisi dimaksudkan untuk menghibur, ada juga memberikan informasi.

Beberapa puisi juga mengajarkan moral, sementara yang lain berfungsi sebagai mediasi. Bentuk sastra lain mungkin memiliki tujuan yang sama dengan puisi dengan melakukan kata-kata yang paling sedikit dan dipilih.

Pada tingkat sederhana, puisi terdiri dari sajak anak-anak. pada tingkat yang lebih dalam, puisi mencoba mengatasi kondisi manusia dan mengekspresikan kebenaran.

Jenis puisi

Baca juga: Hari Ayah Nasional, Ini Kumpulan Puisi dari Para Penyair Indonesia

Rian Damariswara dalam buku Konsep Dasar Kesustaraan (2018), ada beberapa jenis puisi, yakni:

1. Puisi Lama

Puisi lama merupakan puisi yang diciptkan pada masa lalu dan terikat oleh aturan-aturan. Aturan yang dimaksud adalah jumlah baris dalam bait, jumlah kata dalam baris, dan jumlah suku kata mauun rima.

Dalam puisi lama terbagi dalam beberapa jenis juga, yakni:

  1. Pantun, adalah puisi yang terdiri dari empat lari dengan rima akhir ab-ab. Pantun bisa dibedakan berdasarkan jenis, seperti pantun lucu, pantun anak, dan sebagaianya.
  2. Mantra, adalah ucapan-ucapan yang dipercaya dapat mendatangkan kekuatan magic. Biasanya dipakai dalam acara tertentu.
  3. Karmina, merupakan jenis pantun pendek yang terdiri dari dua baris. Karena pendek, karmina sering disebut pantun kilat.
  4. Seloka, merupakan pantun berkait yang berasal dari Melayu klasik dan berisi pepatah.
  5. Gurindam, adalah puisi yang terdiri dari dua baik, yang mana tiap bait terdiri dua baris kalimat dengan rima yang sama.
  6. Syiar, adalah puisi yang tersusun atas empat baris dengan bunyi akhiran yang serupa. Biasanya syair menceritakan sebuah kisah dan di dalamnya terkandung amanat.
  7. Talibun, merupakan pantun yang lebih dari empat baris dan memiliki irama abc-abc.

2. Puisi Baru

Baca juga: Ingin Baca Puisi di Depan Presiden, Penyair Ini Jalan Kaki dari Semarang ke Jakarta

Puisi baru merupakan puisi yang tidak terikat aturan. Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Dalam puisi lama juga digolongkan menjadi delapan, yakni:

  1. Ode, adalah puisi lirik bisikan sanjungan kepada orang yang berjasa dengan nada agung dan tema serius.
  2. Balada, adalah sajak sederhana yangmengisahkan tentang cerita rakyat yang mengharukan.
  3. Himne, adalah sejenis nyanyian pujaan yang ditujukan untuk Tuhan, atau Dewa, atau sesuatu yang dianggap penting dan sakral.
  4. Epigram, adalah puisi yang berisi tentang ajaran dan tuntunan hidup.
  5. Romansa, adalah puisi cerita yang berisi tentang kisah-kisah cinta kasih.
  6. Elegi, adalah puisi yang berisi tentang ratap tangis atau kesedihan.
  7. Satire, adalah puisi tentang sindiran atau kritik kepada penguasan.
  8. Distikon, adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari dua baris.
  9. Terzina, adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari tiga baris.
  10. Kuatren, adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari empat baris.
  11. Kuint, adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari lima baris.
  12. Sekstet, adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari enam baris.
  13. Septima, adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari tujuh baris.
  14. Oktaf/ Stanza, adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari delapan baris.
  15. Soneta, adalah puisi yang terdiri dari 14 baris yang dibagi menjadi dua, di mana dua bait pertama masing-masing 4 baris, dan dua bait kedua masing-masing tiga baris.

3. Puisi Kontemporer

Baca juga: Gurindam 12, Puisi Melayu Tentang Kehidupan yang Lahir di Pulau Penyengat

Puisi kontemporer merupakan salah satu jenis puisi yang keberadaannya muncul pada era setelah tahun 2000. Menurut KBBI, bermakna masa kini sesuai dengan keadaan zaman.

Dalam puisi kontempores dibagi tiga, yakni:

  1. Mantra, adalah puisi yang mengambil sifat-sifat dari mantra.
  2. Mbeling, adalah puisi yang sudah tidak mengikuti aturan umum dan ketentuan dalam puisi.
  3. Konkret, adalah puisi yang mengutamakan bentuk grafis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.