Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanaman Rambat Kok Tahu Jalur yang Benar untuk Memanjat? Ini Rahasianya

Kompas.com - 21/09/2023, 17:00 WIB
Usi Sulastri,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

KOMPAS.comTanaman merambat adalah jenis tumbuhan yang tumbuh dengan cara menjalar atau merambat di atas struktur lainnya untuk mencapai cahaya matahari atau dukungan yang diperlukan agar dapat tumbuh dengan baik.

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa tanaman merambat selalu tampak tahu ke mana harus merambat?

Baca juga: Bagaimana Tanaman Tanpa Biji Dapat Berkembang Biak?

Apakah ini hanya kebetulan atau ada penjelasan ilmiah di balik perilaku menarik ini?

Ternyata, evolusi manusia bukanlah satu-satunya hal yang menggelitik keingintahuan Charles Darwin. Ia juga mempelajari tanaman memanjat yang luar biasa ini dan akhirnya menulis sebuah buku lengkap tentang mereka.

Punya organ unik

Dikutip dari Science ABC, Rabu (20/9/2023), tanaman memanjat memiliki organ unik yang membuat mereka unggul dalam hal "pilihan habitat."

Secara sederhana, mereka memiliki sulur. Sulur adalah untaian benang ramping namun kuat yang tumbuh dari batang atau daun tanaman.

Tanaman merambat atau tanaman memanjat bergantung pada struktur pendukung eksternal untuk tumbuh. Berkat sulur yang menjulur keluar untuk mencari dan melekat, tanaman memanjat dapat menemukan dukungan untuk kelangsungan hidup.

Lalu, bagaimana mereka mengetahui apakah ada yang layak untuk dijadikan tempat memanjat? 

Mekanisme tanaman menemukan tempat merambat

Sulur merasa sangat tidak berguna jika mereka tidak dapat menemukan sesuatu yang dapat dipegang, tetapi sulur membantu mereka menemukan sokongan untuk melekat.

Sulur bersifat sensitif terhadap sentuhan. Secara lebih formal, sulur menunjukkan thigmotropisme.

Baca juga: Ilmuwan Buktikan Akar Tanaman Bisa Menjadi Sistem Termometer Alami

Jika dipecah arti kata tersebut, "thigmo" berarti "sentuhan," dan "tropisme" mengacu pada "tindakan pertumbuhan atau pergerakan tanaman sebagai respons terhadap rangsangan eksternal."

Pada dasarnya, thigmotropisme adalah perubahan arah pertumbuhan tanaman sebagai respons terhadap sentuhan benda padat.

Thigmotropisme terbagi menjadi dua jenis: thigmotropisme positif dan negatif. Akar menunjukkan thigmotropisme negatif.

Ketika akar "merasakan" suatu benda di dalam tanah, mereka menjauh dari benda tersebut. Hal ini memungkinkan akar untuk menyebar ke dalam kantong-kantong kosong di mana mungkin terdapat air.

Gerakan dalam sulur bekerja sebaliknya, serupa dengan apa yang terjadi pada akar. Sulur tanaman memanjat menunjukkan thigmotropisme positif. Ketika sulur merasakan benda padat, sulur bergerak menuju rangsangan sentuhan tersebut.

Kemudian, sulur melingkar sendiri di sekitar objek tersebut dan terus tumbuh di atasnya. Melalui pertumbuhan diferensial, tanaman melengkung ke arah objek tersebut dan membungkus dirinya ke sumber sokongan.

Bisa lepaskan diri jika tak sesuai tempat melekatnya

Dikutip dari New Scientist, Rabu (20/9/2023), Yuya Fukano di Universitas Tokyo kini telah menunjukkan bahwa beberapa tanaman merambat juga memiliki kemampuan untuk merasakan bahan kimia.

Baca juga: Bagaimana Tanaman Beradaptasi dengan Lingkungan Gurun?

Fukano menunjukkan bahwa sulur Cayratia japonica dapat merasakan bahan kimia yang disebut oksalat.

C. japonica sendiri mengandung kadar oksalat yang tinggi, sehingga kemampuan sulur dalam mendeteksi bahan kimia ini membantu mereka membedakan apakah mereka bersentuhan dengan anggotanya sendiri atau spesies yang berbeda.

Ketika dihadapkan pada berbagai jenis tanaman, anggur menghindari yang memiliki kandungan oksalat tinggi, sementara juga menghindari tongkat plastik yang dilapisi dengan oksalat.

Namun, mereka tidak menghindari bahan kimia lain seperti agarose dan asam sitrat.

"Ini merupakan laporan pertama mengenai kemampuan tanaman merambat dalam merasakan isyarat kimia melalui kontak langsung," ujar Fukano.

Meskipun beberapa tanaman parasit dapat menghirup bahan kimia yang dipancarkan oleh tanaman lain, oksalat tidak mudah menguap sehingga hanya dapat terdeteksi setelah kontak.

Para ilmuwan percaya bahwa kemampuan untuk merasakan bahan kimia mungkin tersebar luas di antara kelompok tanaman ini.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com