Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 13/08/2021, 11:43 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.comVirus Marburg merupakan virus penyebab penyakit ganas dengan rasio kematian hingga 88 persen.

Virus ini menyebabkan demam berdarah Marburg yang jarang terjadi dan menyerang manusia dari primata non-manusia.

Marburg pertama kali diidentifikasi di tahun 1967. Saat itu, wabah demam berdarah terjadi secara bersamaan di Marburg dan Frankfurt, Jerman, serta di Beogard, Serbia.

Wabah tersebut menyebabkan 31 orang jatuh sakit, diawali oleh para pekerja laboratorium, kemudian beberapa tenaga medis dan anggota keluarga mereka.

Orang yang pertama kali terpapar virus Marburg melakukan kontak dengan monyet hijau Afrika saat melakukan penelitian.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), inang reservoir virus Marburg adalah kelelawar buah Afrika, Rousettus aegyptiacus.

Baca juga: Varian Iota Virus Corona New York Tingkatkan Risiko Kematian Covid-19, Studi Jelaskan

Kelelawar yang terserang virus Marburg tidak menunjukkan gejala penyakit yang jelas, namun virus ini mengakibatkan sakit yang parah pada primata, termasuk manusia.

Kelelawar Rousettus ini berhabitat di gua yang tersebar luas di seluruh Afrika sehingga lebih banyak area yang berpotensi berisiko terjangkit wabah Marburg.

Selain di Afrika, kasus virus Marburg jarang ditemukan. Pada tahun 2008, seorang turis Belanda terinfeksi virus Marburg setelah kembali dari Uganda.

Masih di tahun yang sama, turis asal Amerika juga terjangkit virus Marburg setelah kembali dari Uganda. Kedua turis tersebut sama-sama mengunjungi gua di taman nasional di Afrika yang dihuni kelelawar buah.

Gejala virus Marburg

Dilansir dari World Health Organization (WHO), demam berdarah Marburg dimulai secara tiba-tiba dengan demam tinggi, sakit kepala parah, dan malaise parah.

Baca juga: Virus Marburg yang Sangat Menular Muncul Lagi di Afrika, Virus Apa itu?

Nyeri otot adalah ciri yang umum. Kemudian, diare berair yang parah, sakit perut, kram perut, mual, dan muntah dapat terjadi di hari ketiga. Biasanya, ruam non-gatal muncul di permukaan setelat 2-7 hari munculnya gejala.

Pada fase ini, penderita demam berdarah Marburg digambarkan seperti “hantu”; mata yang dalam, wajah tanpa ekspresi, dan kelesuan yang ekstrem.

Banyak pasien yang mengalami pendarahan berat dalam 7 hari. Kasus yang parah biasanya ditandai dengan pendarahan di beberapa area.

Darah segar pada muntahan atau feses disertai dengan pendarahan dari hidung, gusi, dan vagina.

Baca juga: Sejarah Penemuan Virus, Dimulai Tahun 1857 Gara-gara Tembakau

Keterlibatan sistem saraf pusat dapat menyebabkan pasien merasa kebingungan, cepat marah, dan agresif.

Dalam kasus yang fatal, kematian dapat terjadi antara 8 dan 9 hari setelah onset, yang biasanya didahului dengan kehilangan darah yang parah dan syok.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com