Alami Kondisi Langka, Tes Swab Covid-19 Membuat Cairan Otak Wanita Ini Bocor

Kompas.com - 02/10/2020, 18:02 WIB
Warga dengan kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan tenaga medis di wilayah Lampulo dan Kuta Alam mengikuti tes swab Covid-19 massal yang dipusatkan di Puskesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (17/6/2020). Tes swab massal yang digelar gratis dan diikuti seratusan orang ini merupakan program Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala dalam upaya menekan penyebaran virus corona. KOMPAS.com/RAJA UMARWarga dengan kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan tenaga medis di wilayah Lampulo dan Kuta Alam mengikuti tes swab Covid-19 massal yang dipusatkan di Puskesmas Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (17/6/2020). Tes swab massal yang digelar gratis dan diikuti seratusan orang ini merupakan program Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala dalam upaya menekan penyebaran virus corona.


KOMPAS.com- Dilaporkan dalam jurnal medis, seorang perempuan memiliki kondisi langka yang tidak terdiagnosis dan menderita bocor cairan otak akibat tes swab Covid-19 yang dilakukannya.

Tes swab atau tes usap adalah metode yang dilakukan untuk mengambil sampel cairan pada hidung atau tenggorokan untuk mengetahui seseorang memiliki virus atau tidak.

Namun, tes ini justru membuat seorang wanita di Amerika Serikat mengalami kebocoran cairan otak dan menempatkannya pada risiko infeksi yang mengancam jiwa.

Penulis senior makalah yang dipublikasikan di JAMA Otolaryngology, Jarrett Walsh memperingatkan agar tenaga medis profesional harus berhati-hati dalam mengikuti protokol pengujian dengan cermat, seperti dilansir dari Science Alert, Jumat (2/10/2020).

Baca juga: Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

 

Dokter bedah kepala dan leher ini mengatakan orang yang pernah menjalani operasi sinus atau dasar tengkorak yang ekstensif harus mempertimbangkan melakukan tes usap, dan mempertimbangkan tes oral jika tersedia.

"Ini menggarisbawahi bahwa perlunya pelatihan yang memadai bagi mereka yang melakukan tes dan perlunya kewaspadaan setelah tes dilakukan," imbuh spesialis THT Dennis Kraus dari Lenox Hill Hospital di New York yang tidak terlibat dalam makalah studi ini.

Walsh, dokter di University of Iowa Hospital mengatakan wanita tersebut telah menjalani tes swab hidung sebelum operasi hernia elektif, dan kemudian melihat cairan bening keluar dari satu sisi hidungnya.

Setelah itu, wanita tersebut mengalami sakit kepala, muntah, leher kaku dan kerentanan pada cahaya.

Baca juga: Inggris Mulai Uji Tes Air Liur No Swab untuk Temukan OTG Corona

 

"Sebelumnya, dia pernah melakukan swab untuk prosedur lain, di sisi yang sama, tidak ada masalah sama sekali. Dia merasa mungkin swab kedua tidak menggunaan teknik yang baik, dan terlalu masuk (ke dalam hidung) terlalu dalam," jelas Walsh.

Fakta lain mengungkapkan bahwa wanita tersebut pernah dirawat bertahun-tahun karena hipertensi intrakranial, yakni tekanan terlalu tinggi dari cairan serebrospinal yang melindungi otak.

Penanganan yang dilakukan dokter saat itu menggunakan pintasan untuk mengalirkan sebagian cairan dan kondisi itu dapat diatasi.

Ilustrasi tes swab Covid-19 untuk mendeteksi infeksi virus corona.Shutterstock Ilustrasi tes swab Covid-19 untuk mendeteksi infeksi virus corona.

Namun, itu kemudian menyebabkan pasien mengembangkan kondisi lain yang disebut encephalocele, atau cacat di dasar tengkorak yang membuat lapisan otak menonjol ke hidung, di mana itu rentan pecah.

Kondisi ini awalnya tidak diketahui sampai dokter kembali meninjau hasil CT scan lama. Dokter barunya kemudian melakukan operasi untuk memperbaiki cacat tersebut pada Juli dan kini wanita tersebut telah pulih sepenuhnya.

Walsh mengatakan dia meyakini gejala yang dikembangkan wanita tersebut adalah hasil dari iritasi pada selaput otak.

Baca juga: UI Bikin Bilik Swab Test, Kurangi Risiko Tenaga Medis Terpapar Corona

 

Apabila masalah itu tidak ditangani, maka pasien tersebut dapat mengembangkan infeksi otak yang berpotensi mengancam nyawa dari bakteri yang menyebar melalui hidung. Atau, udara bisa masuk ke tengkorak dan memberi tekanan berlebih pada otak.

Oleh sebab itu, sebagian besar protokol pengujian, termasuk tes swab, meminta dokter untuk mengikuti jalur dasar hidung, yang terletak di atas langit-langit mulut, daripada mengarahkan alat tes usap ke atas.

Walsh menyarankan jika itu harus diarahkan ke atas, maka harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Lebih lanjut Walsh mengatakan meski kemungkinan kejadian ini sangat langka, tetapi itu adalah pengingat perlunya pelatihan pengujian berkualitas tinggi, mengingat ratusan juta tes swab Covid-19 lagi akan dilakukan sebelum pandemi global ini selesai.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Fenomena
Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Fenomena
Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Oh Begitu
Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Oh Begitu
Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Oh Begitu
Remaja Wajib Tahu, Kehamilan Usia Dini Berisiko Biologis hingga Psikologis

Remaja Wajib Tahu, Kehamilan Usia Dini Berisiko Biologis hingga Psikologis

Kita
Polemik Lobster, Bagaimana Potensi Benih Lobster Alam di Laut Indonesia?

Polemik Lobster, Bagaimana Potensi Benih Lobster Alam di Laut Indonesia?

Oh Begitu
Jutaan Rumput Laut Menginvasi Samudra Atlantik, Ini Dampaknya

Jutaan Rumput Laut Menginvasi Samudra Atlantik, Ini Dampaknya

Fenomena
Kapan Vaksin Covid-19 Tersedia di Negara-negara Asia? Ini Perkiraannya

Kapan Vaksin Covid-19 Tersedia di Negara-negara Asia? Ini Perkiraannya

Oh Begitu
Rahasia Alam Semesta: Bagaimana Aurora Si Cahaya Warni-warni Menari Terjadi?

Rahasia Alam Semesta: Bagaimana Aurora Si Cahaya Warni-warni Menari Terjadi?

Oh Begitu
4 Mitos Seputar Imunisasi, Sebabkan Demam hingga Autisme

4 Mitos Seputar Imunisasi, Sebabkan Demam hingga Autisme

Kita
Hingga Besok, Wilayah Ini Berpotensi Alami Gelombang Tinggi 4 Meter

Hingga Besok, Wilayah Ini Berpotensi Alami Gelombang Tinggi 4 Meter

Fenomena
Mengenal Penyakit Paru Obstruksi Kronik, dari Gejala hingga Faktor Risiko

Mengenal Penyakit Paru Obstruksi Kronik, dari Gejala hingga Faktor Risiko

Kita
Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Fenomena
Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Kita
komentar
Close Ads X