Donald Trump Positif Covid-19, Ini 10 Klaim Bohongnya tentang Virus Corona

Kompas.com - 02/10/2020, 16:02 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat berbicara di konferensi pers virus corona di Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, Senin (11/5/2020). KEVIN LAMARQUE/REUTERSPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat berbicara di konferensi pers virus corona di Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, Senin (11/5/2020).


KOMPAS.com- Sejak pandemi virus corona merebak dari China, menyebar hingga ke seluruh dunia, tak terkecuali Amerika Serikat, serangkaian hoaks dilayangkan Presiden Donald Trump.

Berulang kali Trump berbohong tentang pandemi yang kini telah menginfeksi lebih dari 34,4 juta orang di seluruh dunia, dan menjadikan AS sebagai hotspot virus corona dengan angka kasus mencapai lebih dari 7,4 juta kasus infeksi yang menewaskan 212.660 juta orang, menurut Worldometer.

Berikut sejumlah kumpulan hoaks atau kebohongan terbesar Trump saat negara ini menanggung bencana kesehatan masyarakat seperti dikutip dari The Atlantic, Jumat (2/10/2020).

1. Virus corona melemah April

Klaim: Virus corona akan melemah pada April 2020.

"Ketika kita memasuki bulan April, dalam cuaca yang lebih hangat, (cuaca) yang memiliki efek yang sangat negatif pada (virus) itu, dan jenis virus itu (SARS-CoV-2)," kata Trump.

Baca juga: Riset: Obat yang Dikonsumsi Trump Picu Risiko Kematian Pasien Covid-19

 

Fakta: Klaim itu dianggap terlalu dini, terkait penyebaran virus corona pada kondisi cuaca yang lebih basah atau hangat. Kendati pakar epidemiologi segera skeptis terhadap komentar Trump. Tetapi, saat musim semi dan musim panas berlalu, pandemi hingga kini masih berkecamuk.

2. Wabah Covid-19 hanya sementara

Klaim: Wabah hanya bersifat sementara dengan pernyataan, "Ini akan menghilang. Suatu hari nanti, ini seperti keajaiban," kata dia.

Fakta: Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Anthony Fauci memperingatkan komentar Trump tersebut. Pasalnya, menurut Fauci, dalam satu hingga tiga minggu ke depan, banyak kasus Covid-19 terjadi yang berhubungan dengan komunitas. Ini menegaskan bahwa virus belum hilang.

Baca juga: Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

 

3. Jumlah kasus virus corona menurun

Klaim: Jumlah virus corona terlihat jauh lebih baik, turun hampir di semua tempat dan kasus menurun.

Fakta: Diklaim Trump pada Mei lalu, angka kasus Covid-19 di AS justru meningkat di sebagian besar negara bagian Amerika. Selama musim panas terjadi lonjakanm kedua, bahkan lebih besar dari yang terjadi di awal musim semi.

4. Pandemi mulai terkendali

Klaim: Trump mengklaim pandemi mulai terkendali pada awal Juli lalu.

Fakta: Klaim tersebut muncul saat kasus harian di Amerika Serikat, berlipat ganda menjadi sekitar 50.000 kasus. Lebih tinggi dari yang terlihat pada awal pandemi. Dipicu oleh infeksi di bagian selatan dan barat negara ini.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bulu Beracun Mematikan, Tikus Jambul Afrika Ini bisa Bunuh Manusia

Bulu Beracun Mematikan, Tikus Jambul Afrika Ini bisa Bunuh Manusia

Fenomena
Teknologi Lidar Bantu Arkeolog Ungkap Misteri Percandian Muarajambi

Teknologi Lidar Bantu Arkeolog Ungkap Misteri Percandian Muarajambi

Fenomena
Seri Budidaya Nusantara: Syarat dan Cara Pengembangan Lobster

Seri Budidaya Nusantara: Syarat dan Cara Pengembangan Lobster

Oh Begitu
Berkat Internet, Misteri Monolit Logam di Gurun Utah Mulai Terpecahkan

Berkat Internet, Misteri Monolit Logam di Gurun Utah Mulai Terpecahkan

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Pelajari Bebatuan Mars di Siprus, Ini Alasannya

Ilmuwan Berencana Pelajari Bebatuan Mars di Siprus, Ini Alasannya

Fenomena
Waspada Cuaca Ekstrem Akhir Pekan di Indonesia, Ini 2 Penyebabnya

Waspada Cuaca Ekstrem Akhir Pekan di Indonesia, Ini 2 Penyebabnya

Fenomena
Berusia 800 Tahun, Selimut Kuno Ini Terbuat dari 11.500 Bulu Kalkun

Berusia 800 Tahun, Selimut Kuno Ini Terbuat dari 11.500 Bulu Kalkun

Fenomena
9 Bulan Pandemi Covid-19, Pentingnya Mencari Makna Hidup di Tengah Penderitaan

9 Bulan Pandemi Covid-19, Pentingnya Mencari Makna Hidup di Tengah Penderitaan

Kita
Studi Terbesar Ungkap Risiko Kesehatan Terbesar di Ruang Angkasa

Studi Terbesar Ungkap Risiko Kesehatan Terbesar di Ruang Angkasa

Oh Begitu
Vaksin AstraZeneca-Oxford Alami Kekeliruan Dosis, Apa Maksudnya?

Vaksin AstraZeneca-Oxford Alami Kekeliruan Dosis, Apa Maksudnya?

Oh Begitu
Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Fenomena
Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Fenomena
Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Oh Begitu
Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Oh Begitu
Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X