Ahli: Pentingnya Akses Tes PCR bagi Masyarakat Guna New Normal Aman

Kompas.com - 11/07/2020, 19:33 WIB
Petugas mengambil sampel cairan dari hidung dan tenggorokan pedagang saat mengikuti swab test di Pasar Pagi, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (11/6/2020). Presiden Jokowi menargetkan pemeriksaan spesimen tes PCR (polymerase chain reaction) COVID-19 mencapai 20 ribu per hari. ANTARA FOTO/Anindira Kintara/Lmo/aww. ANTARA FOTO/Anindira KintaraPetugas mengambil sampel cairan dari hidung dan tenggorokan pedagang saat mengikuti swab test di Pasar Pagi, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (11/6/2020). Presiden Jokowi menargetkan pemeriksaan spesimen tes PCR (polymerase chain reaction) COVID-19 mencapai 20 ribu per hari. ANTARA FOTO/Anindira Kintara/Lmo/aww.

KOMPAS.com - Fase transisi menuju tatanan hidup baru atau new normal mulai diberlakukan di Indonesia, meskipun pandemi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 masih terus berlangsung.

Bersamaan dengan kebijakan tersebut, data jumlah kasus positif penderita Covid-19 di Indonesia pun terus meningkat.

Melihat kondisi ini, pemerhati Genomik dan Molekuler sekaligus dokter peneliti di The Jikei University School of Medicine Tokyo, dr Budiman Kharma, mengungkapkan bahwa akses untuk tes PCR sangat penting dalam memasuki fase tatanan hidup baru ini.

"Memasuki fase tatanan hidup baru atau yang disebut new normal, sangat penting untuk dapat mengetahui apakah seseorang negatif dari penularan Covid-19," kata Budiman dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/7/2020).

Baca juga: Masih Bingung Rapid Test Corona atau Tes PCR, Ini Penjelasan Ahli

Dia melanjutkan, saat ini yang harus menjadi perhatian khusus bagi seluruh masyarakat adalah kesadaran terhadap penularan virus ini, karena tak semua yang positif menunjukkan gejala.

Nah, tes PCR atau tes laboratorium, sejak awal munculnya Covid-19 pada januari lalu hingga saat ini, masih menjadi gold standard (standar emas) karena menunjukkan hasil pasti dalam menentukan apakah seseorang terinfeksi virus SARS-CoV-2 atau tidak.

Sementara itu, rapid test hanyalah pemeriksaan penyaring guna mendeteksi keberadaan antibodi Igm dan IgG yang dihasilkan tubuh ketika terpapar virus corona.

Antibodi Igm dan IgG pun baru bisa terdeteksi 2-4 minggu setelah virus masuk.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X