Pandemi Corona, Bagaimana Rukyatul Hilal Penentu Awal Ramadhan Dilaksanakan?

Kompas.com - 22/04/2020, 16:04 WIB
Ilustrasi pengamatan hilal: Tim Lakjnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meneropong untuk melihat rukyat hilal di Jakarta, Senin (8/7/2013). Hasil rukyat hilal ini untuk menetapkan 1 Ramadhan 1434 H.  KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Ilustrasi pengamatan hilal: Tim Lakjnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meneropong untuk melihat rukyat hilal di Jakarta, Senin (8/7/2013). Hasil rukyat hilal ini untuk menetapkan 1 Ramadhan 1434 H.

KOMPAS.com - Sebentar lagi Bulan Ramadhan 1441 H akan segera dimulai. Dalam penentuan awalnya, para ilmuwan dan pemuka agama Islam akan melakukan rukyatul hilal atau observasi (pengamatan) terhadap hilal.

Untuk diketahui, hilal merupakan bulan sabit paling tipis yang berketinggian rendah di atas cakrawala barat saat Matahari terbenam dan bisa diamati.

Akan tetapi, Bulan Ramadhan kali ini akan masih akan dibarengi oleh wabah corona yang telah berlangsung di Indonesia sejak bulan Maret. Alhasil, diperlukan protokol khusus guna mengantisipasi wabah ini.

Dalam artikel opini yang dimuat Kompas.com Sains, Rabu (22/4/2020); KH. Sirril Wafa, MA Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama, memaparkan bahwa PBNU melalui Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) telah menyiapkan protokol kesehatan untuk rukyatul hilal tahun ini.

Baca juga: Pandemi Covid-19 dan Penentuan Awal Ramadhan 2020 dengan Rukyatul Hilal dan Hisab

"Protokol dibangun di atas asas eliminasi kerumunan dan penerapan pembatasan jarak fisis seperti yang ditekankan Kementerian Kesehatan RI," tulisnya.

Pertama, aktivitas rukyatul hilal ditetapkans ebagai kegiatan tertutup yang hanya boleh diikuti oleh petugas dan tidak menyertakan undangan sama sekali.

Jumlah petugas juga dibatasi menjadi maksimum sembilan orang, kecuali pada daerah yang telah menerapkan PSBB sehingga jumlah maksimum hanya lima orang.

Petugas adalah orang yang berpengalaman di bidangnya dan berbadan sehat. Tanggung jawab ini juga diprioritaskan bagi orang-orang berusia di bawah 50 tahun yang tidak menderita penyakit penyerta, seperti diabetes mellitus, jantung, hipertensi, gangguan pernapasan dan kanker.

Baca juga: Apa Itu Hilal, Sabda Nabi SAW dan Penjelasan Ilmiahnya

Petugas juga harus lolos pemeriksaan suhu tubuh dan kesehatan yang melibatkan Satgas NU Peduli Covid-19 sebelum diizinkan berangkat ke lokasi rukyatul hilal dengan mengenakan masker sepanjang masa tugasnya.

Terkait lokasinya, KH. Sirril Wafa menjelaskan bahwa sejauh ini, sudah ada 30 lokasi rukyatul hilal yang menyatakan siap untuk berpartisipasi.

30 lokasi ini berada dalam lingkup kabupaten atau kota di mana cabang LFNU berada, karena petugas tidak diperbolehkan beranjangsana ke sebuah lokasi rukyatul hilal.

Seluruh lokasi juga harus didisinfeksi terlebih dahulu dan dilengkapi titik-titik cuci tangan, serta mempertimbangkan jarak aman minimal satu meter dalam memposisikan instrumen rukyatul hilal yang meliputi teleskop, kamera dan sistem komputer.

Baca juga: Memahami Hilal dan Metode Rukyah, Penanda Awal Bulan Ramadhan

Kemudian, sistem pelaporan dari lokasi–lokasi rukyatul hilal ke PBNU digelar secara daring melalui LFNU.

"Di atas semua langkah teknis tersebut, para petugas rukyatul hilal menggelar shalat hajat dan doa bersama sebagai komponen mitigasi vertikal (hablum min–Allah) dengan harapan bangsa ini terhindar dari marabahaya lebih lanjut," tulis KH. Sirril Wafa.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X