Kompas.com - 02/09/2021, 20:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meninjau proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Senin (12/4/2021). Humas Kemenko Bidang Kemaritiman dan InvestasiMenteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meninjau proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Senin (12/4/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Biaya proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) membengkak atau mengalami cost overrun (kelebihan biaya) menjadi 8 miliar dolar AS atau setara Rp 114,24 triliun.

Dengan estimasi tersebut artinya terdapat kenaikan sebesar 1,9 miliar dolar AS atau setara Rp 27,09 triliun dari rencana awal pembangunan KCJB sebesar Rp 6,07 miliar dolar AS ekuivalen Rp 86,5 triliun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT KAI (Persero) Salusra Wijaya mengungkapkan sejumlah penyebab terjadinya cost overrun dalam proyek KCJB.

Baca juga: Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung Membengkak Jadi Rp 114 Triliun

Pertama, cost overrun terjadi karena adanya kenaikan biaya konstruksi atau Engineering, Procurement and Construction (EPC) mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 17 triliun.

"Jadi porsi terbesar dari cost overrun ini adalah kenaikan biaya EPC yang mencapai 1,2 miliar dolar AS," kata Salusra dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR di Rabu (01/09/21).

Kedua, terjadi karena adanya kenaikan biaya pembebasan lahan sebesar 300 juta dolar AS atau setara Rp 4,2 triliun.

Salusra menjelaskan bahwa total area lahan yang dibebaskan untuk proyek ini naik sebesar 31 persen menjadi 7,6 juta meter persegi.

Karenanya, total biaya pembebasan lahan juga mengalami kenaikan 35 persen dari anggaran awal.

"Pembebasan lahan ini juga cukup rumit, karena jalur yang dilalui itu sangat banyak, luas dan melewati daerah-daerah komersil. Nah daerah komersil ini bahkan ada beberapa kawasan industi yang dipindahkan, digeser karenanya cukup costly (mahal) untuk penggantiannya," ungkap Salusra.

Ketiga, naiknya financing cost mencapai 200 juta dolar AS atau Rp 2,8 triliun. Kata dia, keterlambatan proyek menyebabkan beban keuangan interest during construction (beban bunga) juga membengkak.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.