Garin Nugroho, Obsesi dan Perjalanan Menuju Planet Sebuah Lament

Kompas.com - 17/01/2020, 19:52 WIB
Pementasan Planet-Sebuah Lament karya Sutradara Garin Nugroho di teater Taman Ismail Marzuki, Cikini,Jakarta Kamis(16/1/2020). Pertunjukan ini berkisah tentang sebuah lament atau ratapan dalam nyanyian mencari sebuah planet, di mana peradaban dituntut mencari pangan dan energi baru. KOMPAS.com/DIENDRA THIFAL RAHMAHPementasan Planet-Sebuah Lament karya Sutradara Garin Nugroho di teater Taman Ismail Marzuki, Cikini,Jakarta Kamis(16/1/2020). Pertunjukan ini berkisah tentang sebuah lament atau ratapan dalam nyanyian mencari sebuah planet, di mana peradaban dituntut mencari pangan dan energi baru.

JAKARTA, KOMPAS.com - Seniman Garin Nugroho mengaku sudah tujuh tahun terobsesi dengan lagu ratapan atau lament.

Obsesi itulah yang menggerakan Garin untuk melahirkan sebuah pertunjukan bertajuk Planet: Sebuah Lament.

Baca juga: Bicara Peluang Kucumbu Tubuh Indahku di Oscar, Garin Nugroho Merasa Dilema

Pementasan yang mengangkat keindahan budaya Indonesia Timur atau Milanesia ini digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada 17-18 Januari 2020.

"Karya ini sebetulnya saya sudah obsesi dengan lagu lament sejak 7 tahun lalu dan tidak ketemu jalan terus," kata Garin usai pementasan pada Kamis (16/1/2020).

"Karena sesungguhnya lament ini menjadi ratapan sejarah purba dunia, baik ratapan hilangnya kota-kota dan rusaknya peradaban larena perang atau bencana alam," lanjutnya.

Baca juga: Planet-Sebuah Lament, Karya Garin Nugroho yang Siap Pentas Awal 2020

Kemudian, sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku itu memadukan perjalanan panjangnya menyusuri kota-kota di bagian Timur Indonesia.

Ia merangkumnya menjadi sebuah cerita sederhana tentang kondisi peradaban manusia saat ini.

"Lalu saya melakukan perjalanan panjang sejak 1985 di NTT khususnya Flores. Saya juga banyak sekali jalan di Papua, orang Papua bahasa tubuhnya luar biasa sekali. Dan saya mengalami semua hal, tsunami Aceh, gempa di Yogyakarta, mulailah menemukan sebuah cerita sedehana," tutur Garin.

Baca juga: 38 Tahun Berkarya, Garin Nugroho Akhirnya Genggam Piala FFI 2019

"Idenya adalah membuat cerita sederhana, tapi membawa perasaan dan simbol tentang kehidupan," tambahhnya.

Pertunjukan ini mengisahkan ratapan alam karena keserakahan manusia yang menghancurkan alam.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X