Sophia Latjuba: Ujian Nasional Dibuat karena Kemalasan Pemerintah

Kompas.com - 20/12/2019, 10:45 WIB
Artis peran Sophia Latjuba dalam jumpa pers Peluncuran Teaser dan Trailer Film Mata Batin 2 di kantor Soraya Intercine Films, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/12/2018). KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG Artis peran Sophia Latjuba dalam jumpa pers Peluncuran Teaser dan Trailer Film Mata Batin 2 di kantor Soraya Intercine Films, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Artis peran Sophia Latjuba turut menanggapi langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim yang menghapus Ujian Nasional (UN).

Sebagai gantinya, Nadiem akan menerapkan kebijakan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter mulai tahun 2021.

Dikutip dari kanal YouTube Mata Najwa Trans 7, Sophia Latjuba menyayangkan banyak anak-anak yang menjadi korban sebelum penyelenggaraan ujian nasional.

Baca juga: Tak Ingin Miliki Rumah, Sophia Latjuba: Aku Punya Darah Gipsi dan Keturunan Ken Dedes

“Saya juga lupa kenapa saya bisa terlibat ya dan di situ Ujian Nasional penentu kelulusan 100 persen. Banyak sekali anak-anak yang bisa saya bilang korban ya,” kata Sophia Latjuba.

Bahkan, momok dari UN, Sophia menemukan murid yang berprestasi terpaksa tidak lulus lantaran nilai UN dijadikan patokan kelulusan.

“Hampir setiap hari ada anak yang datang SMP, SMA. Bahkan, ada anak yang International Sains Champion yang tidak lulus SMA karena matematika-nya. Jadi, kalau kita bicara Ujian Nasional bisa berjam-jam sih,” ucapnya lagi.

Sophia menambahkan, seharusnya pendidikan dapat membentuk pribadi manusia seperti adanya intelektual dalam sosial, moral, hingga spiritual.

“Kalau kita berbicara sebuah pendidikan adalah sebuah proses pembentukan pribadi manusia. Banyak unsur yang kita lihat ada intelektualitas dalam sosial, moral, fisik, spiritual,” tuturnya.

Baca juga: Impian Sophia Latjuba Ingin Meninggal Didampingi Suami

Tak hanya itu, Sophia juga menyoroti soal-soal Ujian Nasional yang dibuat oleh pihak lain. Padahal, guru di kelas yang lebih mengetahui pelajaran yang didapat oleh muridnya.

Kemudian, semakin tidak pas karena hasil dari UN menjadi penentu kelulusan anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

“Dengan latar belakang berbeda-beda, orang-orang mungkin memberikan UN ini bukan guru juga, mungkin yang tidak tahu meng-handle anak. Betapa stress full-nya meng-handle di class room. Jadi menurut saya assessment itu it's a classroom job, it's a teacher's job,” tuturnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X