Kompas.com - 20/01/2022, 21:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020 telah mengakibatkan menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Hingga akhir tahun 2021 kunjungan Wisman hanya mencapai 1.58 juta orang atau turun 60,98 persen dibanding tahun 2020.

Wisatawan nusantara pun menjadi harapan sekaligus roda penggerak pariwisata Indonesia di masa pandemi.

“Di tengah pandemi ini, terdapat secercah harapan yaitu tingginya antusiasme wisatawan nusantara yang menjadi roda penggerak geliat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif saat ini,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dalam diskusi virtual Tourism & Hospitality Outlook 2022 New Normal Saatnya Bangkit dari Tidur Pulas di Jakarta, Kamis,(20/1/2022).

Baca juga: Cara Menggunakan Warna Cat untuk Mengubah Tampilan Ruangan

Menurut Sandiaga, jika dilihat sisi positifnya, pandemi justru mempercepat perubahan paradigma pembangunan pariwisata dari Quantity Tourism menjadi Quality and sustainable Tourism sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo pada tahun 2019.

“Kita menekankan kepada prinsip sustainable tourism yang bergantung pada apa yang kita tawarkan kepada para wisatawan sesuai tren pariwisata ke depan yaitu more personalized, customized, localized dan smaller in size,” jelas Sandiaga.

Salah satu variabel penting dalam quality tourism adalah penyediaan infrastruktur pariwisata yang memadai. Wisatawan tentu akan membelanjakan uangnya lebih besar untuk destinasi yang berkualitas, baik dari segi 3A (atraksi, akses dan amenitas) maupun infrastruktur pendukungnya.

Trisnadi Yulrisman, Direktur Keuangan dan Operasional PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menyoroti industri homestay yang bisa menjadi penggerak perekonomian di desa wisata baik desa wisata prioritas maupun non prioritas.

Baca juga: 3 Warna Cat yang Dapat Menghadirkan Suasana Tenang di Kamar Mandi

Menurut Trisnadi, SMF telah melakukan inisiatif strategis produk KPR Rumah Usaha dalam bentuk program pembiayaan homestay sejak tahun 2018 dan dalam masa inkubasi hingga sekarang, program ini masih menggunakan dana PKBL/TJSL.

“Total anggaran pembiayaan homestay mencapai 20 milyar dengan realisasi hingga 2021 mencapai 7.747 milyar dengan total debitur 96,” tutur Trisnadi.

Kehadiran SMF dalam pembiayaan homestay, lanjutnya, merupakan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan usaha sesuai dengan rencana pengembangan bisnis, membantu kelancaran arus kas usaha sesuai dengan perkembangan arus kas bisnis, membantu terhindar dari jeratan pinjaman dengan bunga tidak wajar dan mewujudkan kemandirian usaha.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.