Perusahaan Minyak Perancis dan AS Tinggalkan Myanmar

Kompas.com - 22/01/2022, 16:31 WIB
Kantor pusat perusahaan minyak Perancis TotalEnergies di pinggiran Paris. AFP/ERIC PIERMONT via VOA INDONESIAKantor pusat perusahaan minyak Perancis TotalEnergies di pinggiran Paris.

Penulis: VOA Indonesia

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Perusahaan minyak Perancis TotalEnergies dan perusahaan minyak Amerika Chevron telah mengumumkan bahwa mereka akan menarik diri dari proyek gas bersama di Myanmar.

Keduanya merujuk pada kudeta militer 1 Februari 2021 ketika junta militer merebut kekuasaan, menangkap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dan sebagian besar pejabat pemerintahannya. Sejak itu kelompok-kelompok HAM lokal dan internasional mengatakan pasukan keamanan telah menewaskan lebih dari 1.400 orang dan menahan ribuan lainnya.

Dalam sebuah pernyataan di situs web-nya, TotalEnergies mengatakan, meskipun sejak awal telah mengutuk kudeta Februari dan menghentikan semua proyek baru di negara itu, TotalEnergies dan Chevron masih terus memproduksi gas dari ladang Yadana, yang penting untuk memasok listrik pada warga lokal dan sekaligus melindungi karyawan mereka dari risiko persekusi atau kerja paksa.

Baca juga: Cerita Nakes Myanmar Melawan Junta, Boikot RS Pemerintah dan Rawat Pasien dari “Bawah Tanah”

Tetapi pernyataan itu menambahkan, situasi di negara itu – “dalam hal hak asasi manusia dan secara lebih umum terkait aturan hukum – terus memburuk” dan “tidak lagi memungkinkan TotalEnergies memberikan kontribusi yang cukup positif di negara ini.”

Pernyataan itu mengatakan TotalEnergies masih akan terus beroperasi hingga kontraknya berakhir dalam enam bulan.

Secara terpisah, Chevron – mitra lain dalam proyek itu – mengatakan, “mengingat keadaan di Myanmar, kami telah mengkaji ulang minat kami dalam proyek gas alam Yadana untuk memungkinkan transisi yang terencana dan teratur, yang akan mengarah keluar dari negara ini.”

TotalEnergies dan Chevron, bersama beberapa perusahaan lain, adalah bagian dari usaha patungan yang mengoperasikan proyek gas Yadana di lepas pantai barat daya Myanmar-Thailand. Keduanya kini menjadi perusahaan Barat terbaru yang memutuskan keluar dari Myanmar setelah kudeta militer tahun lalu.

Tulisan ini pernah ditayangkan VOA Indonesia dengan judul Perusahaan Minyak Prancis dan AS Tinggalkan Myanmar

Baca juga: Jokowi Telepon Hun Sen, Ingatkan Tak Undang Junta Myanmar jika Perdamaian Gagal

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Anak Diktator Bisa Jadi Presiden Filipina, Begini Taktik Ferdinand Marcos Jr

Kenapa Anak Diktator Bisa Jadi Presiden Filipina, Begini Taktik Ferdinand Marcos Jr

Global
Sepatu Rusak Balenciaga: Ini Sosok Pencipta dan Kisah di Baliknya

Sepatu Rusak Balenciaga: Ini Sosok Pencipta dan Kisah di Baliknya

Global
Rencana Swedia Jadi Anggota NATO Terhambat Keberatan Turki

Rencana Swedia Jadi Anggota NATO Terhambat Keberatan Turki

Global
Di Balik Pengerahan Kembali Pasukan AS ke Somalia, Untuk Apa?

Di Balik Pengerahan Kembali Pasukan AS ke Somalia, Untuk Apa?

Global
Taliban Janjikan Kabar Baik Buka Kembali Sekolah Menengah untuk Anak Perempuan

Taliban Janjikan Kabar Baik Buka Kembali Sekolah Menengah untuk Anak Perempuan

Global
McDonald's Resmi Jual 850 Restorannya di Rusia

McDonald's Resmi Jual 850 Restorannya di Rusia

Global
4 Kasus Langka Cacar Monyet Ditemukan di Inggris, Total Ada 7 Pasien

4 Kasus Langka Cacar Monyet Ditemukan di Inggris, Total Ada 7 Pasien

Global
Ukraina Terkini: Misi Pertahankan Pabrik Baja Azovstal Selesai, Tentara Luka Parah Dievakuasi

Ukraina Terkini: Misi Pertahankan Pabrik Baja Azovstal Selesai, Tentara Luka Parah Dievakuasi

Global
50 Tahun Kembalinya Okinawa dari Cengkeraman AS dan Serpihan Luka Lama

50 Tahun Kembalinya Okinawa dari Cengkeraman AS dan Serpihan Luka Lama

Global
Sempat Dipisahkan, Salah Satu dari Kembar Siam Yaman Meninggal Usai Operasi 15 Jam

Sempat Dipisahkan, Salah Satu dari Kembar Siam Yaman Meninggal Usai Operasi 15 Jam

Global
Kim Jong Un Kerahkan Tentara, Geram dengan Penanganan Covid Korea Utara

Kim Jong Un Kerahkan Tentara, Geram dengan Penanganan Covid Korea Utara

Global
Biden Kirim 500 Tentara AS untuk Bantu Amankan Somalia

Biden Kirim 500 Tentara AS untuk Bantu Amankan Somalia

Global
Sri Lanka Kehabisan Bensin dan Tidak Bisa Impor karena Tak Punya Dollar

Sri Lanka Kehabisan Bensin dan Tidak Bisa Impor karena Tak Punya Dollar

Global
Rangkuman Hari Ke-82 Serangan Rusia ke Ukraina, Swedia Daftar NATO hingga Evakuasi Tentara dari Azovstal

Rangkuman Hari Ke-82 Serangan Rusia ke Ukraina, Swedia Daftar NATO hingga Evakuasi Tentara dari Azovstal

Global
[POPULER GLOBAL] Disinformasi Pilpres Filipina | Banjir Selamatkan Desa Ukraina dari Invasi Rusia

[POPULER GLOBAL] Disinformasi Pilpres Filipina | Banjir Selamatkan Desa Ukraina dari Invasi Rusia

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.