Cerita Nakes Myanmar Melawan Junta, Boikot RS Pemerintah dan Rawat Pasien dari “Bawah Tanah”

Kompas.com - 08/01/2022, 15:30 WIB
Para tenaga medis dan pelajar ikut berdemo menentang kudeta Myanmar sejak subuh di Mandalay, pada Minggu (21/3/2021). STR/AFPPara tenaga medis dan pelajar ikut berdemo menentang kudeta Myanmar sejak subuh di Mandalay, pada Minggu (21/3/2021).

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Tenaga kesehatan (nakes) Myanmar, yang menentang junta militer, sekarang memberikan sebagian besar perawatan kesehatan di luar rumah sakit negara.

Sebagian besar dokter dan perawat yang diwawancarai BBC ini, merupakan warga Myanmar yang setia kepada Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) dan menantang legitimasi militer Myanmar.

Nama mereka telah diubah demi keamanannya.

Baca juga: Jokowi Telepon Hun Sen, Ingatkan Tak Undang Junta Myanmar jika Perdamaian Gagal

Perlawanan terorganisir terhadap kudeta 1 Februari di Myanmar dimulai dengan tenaga kesehatan Myanmar mengumumkan boikot terhadap rumah sakit yang dikelola negara.

Mereka memimpin protes jalanan pertama, menyebutnya "revolusi jas putih".

Gerakan itu menempatkan tenaga kesehatan pada jalur yang bertentangan dengan militer Myanmar, dan telah mengakibatkan banyak sistem perawatan kesehatan Myanmar berjalan di bawah tanah.

Di banyak daerah, lebih dari 70 persen petugas kesehatan diyakini telah meninggalkan pekerjaan, rumah sakit, dan pasien mereka. Itu adalah keputusan etis yang sulit, yang dipertahankan oleh dokter senior dalam surat yang mereka kirim ke jurnal medis The Lancet.

"Tugas kita sebagai dokter adalah memprioritaskan perawatan untuk pasien kita. Tetapi bagaimana kita bisa melakukan ini di bawah sistem militer yang melanggar hukum, tidak demokratis, dan menindas?”

"Lima puluh tahun pemerintahan militer sebelumnya gagal mengembangkan sistem kesehatan kita dan malah mengabadikan kemiskinan, ketidaksetaraan, dan perawatan medis yang tidak memadai. Kita tidak dapat kembali ke situasi ini."

Baca juga: KALEIDOSKOP INTERNASIONAL FEBRUARI 2021: Kudeta Myanmar | Penyelidikan WHO di Wuhan

Grace, seorang guru di Yangon Nursing University, mengatakan mereka semua "memilih untuk bergabung dengan CDM (gerakan pembangkangan sipil)".

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Taliban: Presenter TV Perempuan Afghanistan Wajib Kenakan Penutup Wajah

Taliban: Presenter TV Perempuan Afghanistan Wajib Kenakan Penutup Wajah

Global
Ramos-Horta Kembali Jadi Presiden Timor Leste, Janji Perkuat Hubungan dengan China

Ramos-Horta Kembali Jadi Presiden Timor Leste, Janji Perkuat Hubungan dengan China

Global
Di Singapura Dijual Brownies Seharga Rp 637 Ribu, Apa Istimewanya?

Di Singapura Dijual Brownies Seharga Rp 637 Ribu, Apa Istimewanya?

Global
Polisi AS Tembak Bocah 13 Tahun Tak Bersenjata, Diduga Bajak Mobil

Polisi AS Tembak Bocah 13 Tahun Tak Bersenjata, Diduga Bajak Mobil

Global
UAS Ditolak Masuk Singapura, Ini Hikmahnya bagi Penceramah dan Pemerintah Indonesia

UAS Ditolak Masuk Singapura, Ini Hikmahnya bagi Penceramah dan Pemerintah Indonesia

Global
Finlandia dan Swedia Daftar NATO, AS Nyatakan Dukungan Penuh

Finlandia dan Swedia Daftar NATO, AS Nyatakan Dukungan Penuh

Global
Setelah Tertunda, Senat AS Akhirnya Setujui Paket Bantuan Baru Rp586 Triliun untuk Ukraina

Setelah Tertunda, Senat AS Akhirnya Setujui Paket Bantuan Baru Rp586 Triliun untuk Ukraina

Global
China Berencana Beli Minyak Murah dari Rusia untuk Cadangan Strategis

China Berencana Beli Minyak Murah dari Rusia untuk Cadangan Strategis

Global
Kali Pertama Sejak Invasi di Ukraina, Petinggi Militer AS-Rusia Berdialog

Kali Pertama Sejak Invasi di Ukraina, Petinggi Militer AS-Rusia Berdialog

Global
Karena PR, Siswa di Malaysia Ini Dihukum Putari Lapangan 30 Kali Pakai Masker, Berujung Dibawa ke ICU

Karena PR, Siswa di Malaysia Ini Dihukum Putari Lapangan 30 Kali Pakai Masker, Berujung Dibawa ke ICU

Global
Merokok Sambil Mencaci Maki: Gaya Kim Jong Un saat Pimpin Rapat Covid-19

Merokok Sambil Mencaci Maki: Gaya Kim Jong Un saat Pimpin Rapat Covid-19

Global
McDonald's Akan Jual Bisnisnya di Rusia ke Operator Lokal, Ganti Nama Jadi MakDak?

McDonald's Akan Jual Bisnisnya di Rusia ke Operator Lokal, Ganti Nama Jadi MakDak?

Global
Waspada Wabah Cacar Monyet, Sudah Menyebar hingga Spanyol dan AS

Waspada Wabah Cacar Monyet, Sudah Menyebar hingga Spanyol dan AS

Global
Biden Fokus Jalani Agenda Kunjungan ke Korsel di Tengah Ancaman Nuklir

Biden Fokus Jalani Agenda Kunjungan ke Korsel di Tengah Ancaman Nuklir

Global
Tentara Rusia yang Dihukum Mati: Saya Minta Maaf Membunuh Warga Sipil

Tentara Rusia yang Dihukum Mati: Saya Minta Maaf Membunuh Warga Sipil

Global
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.