Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Taiwan Bersiap Perang Melawan China dan Meminta Bantuan Australia

Kompas.com - 05/10/2021, 22:51 WIB
Bernadette Aderi Puspaningrum

Editor

TAIPEI, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu, mengatakan negaranya sedang mempersiapkan diri untuk berperang melawan China.

Mereka mendesak Australia untuk meningkatkan kerja sama keamanan dan berbagi data intelijen di saat China meningkatkan intimidasi militer.

Baca juga: Presiden Taiwan Peringatkan Konsekuensi Serius jika Negaranya Jatuh ke Tangan China

Belasan pesawat tempur militer China yang disebut People's Liberation Army (PLA) pada Jumat (1/10/2021), terbang di atas kawasan Zona Pertahanan Udara Taiwan (AZIZ).

Ini membuat Taiwan kemudian mempersiapkan armada pesawat militer mereka.

Berbicara dalam program China Tonight di ABC, Menlu Joseph mengatakan bila pesawat PLA melancarkan serangan, maka negaranya akan siap untuk mempertahankan diri.

"Pertahanan Taiwan berada di tangan kami sendiri dan kami sepenuhnya berkomitmen penuh," kata Joseph kepada Stan Grant dalam wawancara yang disiarkan Senin (4/10/2021) malam di ABC.

"Bila China melancarkan perang terhadap Taiwan, kami mempertahankan sampai titik akhir, dan itu adalah komitmen kami."

"Saya yakin bila China melancarkan serangan terhadap Taiwan, mereka juga akan mengalami penderitaan besar."

Baca juga: Rekor Lagi, China Terbangkan 56 Pesawat Militer ke Langit Taiwan


Menlu Joseph berasal dari Partai Demokratik Progresif, partai yang sekarang berkuasa di Taiwan. Dia meminta negara-negara lain, seperti Australia, untuk memberikan bantuan bagi negaranya lewat kerja sama yang lebih erat.

"Kami ingin terlibat dalam pertukaran masalah keamanan dan intelijen dengan negara-negara yang sejalan, termasuk Australia, sehingga Taiwan bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk menjalani situasi seperti perang.

Menurutnya, sejauh ini hubungan Taiwan dengan Australia sangat baik, dan itulah yang sangat pihaknya hargai.

Secara diplomatik Australia tidak mengakui keberadaan Taiwan, namun Pemerintah Australia sudah berulang kali menyerukan adanya "resolusi damai" atas perbedaan antara China dengan Taiwan lewat dialog, bukan lewat ancaman atau penggunaan kekerasan.

Setelah pertemuan para menteri Australia dan Amerika Serikat kedua negara mengatakan berniat memperkuat hubungan dengan Taiwan, yang merupakan kekuatan demokrasi dan mitra penting bagi kedua negara.

Baca juga: AS Risaukan Puluhan Pesawat Militer China Masuki Wilayah Taiwan

Selain hubungan keamanan yang lebih dekat, Menteri Luar Negeri Taiwan juga mengucapkan terima kasih kepada Australia yang mendukung usaha Taiwan menjadi anggota pakta perdagangan Trans-Pacific Partnership yang dikenal dengan nama CPTPP, di mana China juga ingin menjadi anggota.

"Sepanjang yang saya ketahui, Australia sudah menjadi salah satu anggota yang vokal yang mendukung partisipasi Taiwan di CPTPP."

"Kami sudah mendiskusikan satu sama lain secara pribadi dan kami memahami dukungan Australia dan menghargai dukungan Australia."

Beberapa bulan lalu, diplomat paling senior AS yang ditempatkan di Canberra juga mengukuhkan AS dan Australia pernah mendiskusikan rencana darurat seandainya terjadi konflik militer berkenaan dengan Taiwan.

Tahun lalu, Frances Adamson salah seorang pejabat senior di Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) mengatakan dia sekarang mengkhawatirkan adanya krisis di Taiwan dibandingkan di masa-masa sebelumnya.

Baca juga: Setelah Terbangkan 25 Pesawat, China Kerahkan 39 Lagi ke Taiwan

Taiwan mendukung pakta AUKUS

Taiwan juga menyambut baik pembentukan kemitraan strategis AUKUS (Australia-Inggris-Amerika Serikat) yang baru dan kegiatan antara mitra Quad yaitu Amerika Serikat, India, Australia dan Jepang.

"Kami senang melihat mitra Taiwan seperti Australia, Inggris dan Amerika Serikat, bekerja sama lebih dekat satu sama lain guna meningkatkan persenjataan yang lebih canggih, sehingga kita bisa mempertahankan Indo-Pasifik," ujarnya.

"Australia adalah negara hebat dan saya senang Australia akan memikul tanggung jawab lebih besar untuk mempertahankan perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik," kata Menlu Wu.

Namun, menurutnya berbeda dengan Australia, negaranya tidak akan mencoba untuk mendapatkan armada kapal selam bertenaga nuklir karena "memiliki strategi perang yang berbeda".

"Kami harus menganut paham asimetris dan kami memiliki filosofi yang berbeda dalam mengalahkan China bila memang ada perang, jadi kapal selam bertenaga nuklir bukan sesuatu yang ingin kami dapatkan".

Baca juga: Rayakan HUT RRC, China Terbangkan 25 Pesawat Militer ke Taiwan

Pakar pertahanan Professor Clinton Fernandes dari University of New South Wales di Sydney memperingatkan akan sulit bagi AS dan sekutunya untuk mencegah usaha invasi yang dilakukan China.

"Pusat kekuatan militer China adalah sistem pertahanan udara di selatan, yang memiliki kemampuan untuk mencegah AS menguasai udara. Bila AS tidak bisa menguasai udara, mereka tidak bisa menang di darat atau di laut."

Professor Fernandes memperkirakan China tidak akan melancarkan serangan militer ke Taiwan sebelum Olimpiade Musim Dingin yang akan dilangsungkan di Beijing pada Januari.

Namun besar kemungkinan akan melakukan tindakan agresif menjelang pemilihan presiden di Taiwan pada 2024.

"Pertahanan Taiwan akan didasarkan pada invasi China, namun bila tindakan utama China bukan invasi tapi blokade, kemudian apa yang terjadi? Taiwan tidak memiliki rencana lain, itulah masalah utamanya."

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Turkiye Setop Perdagangan dengan Israel sampai Gencatan Senjata Permanen di Gaza

Turkiye Setop Perdagangan dengan Israel sampai Gencatan Senjata Permanen di Gaza

Global
Dirjen WHO: Rafah Diserang, Pertumpahan Darah Terjadi Lagi

Dirjen WHO: Rafah Diserang, Pertumpahan Darah Terjadi Lagi

Global
Cerita Dokter AS yang Tak Bisa Lupakan Kengerian di Gaza

Cerita Dokter AS yang Tak Bisa Lupakan Kengerian di Gaza

Global
Asal-usul Yakuza dan Bagaimana Nasibnya Kini?

Asal-usul Yakuza dan Bagaimana Nasibnya Kini?

Global
Hujan Lebat di Brasil Selatan Berakibat 39 Orang Tewas dan 68 Orang Masih Hilang

Hujan Lebat di Brasil Selatan Berakibat 39 Orang Tewas dan 68 Orang Masih Hilang

Global
Rangkuman Hari Ke-800 Serangan Rusia ke Ukraina: '150.000 Tentara Rusia Tewas' | Kremlin Kecam Komentar Macron

Rangkuman Hari Ke-800 Serangan Rusia ke Ukraina: "150.000 Tentara Rusia Tewas" | Kremlin Kecam Komentar Macron

Global
Hamas Sebut Delegasinya Akan ke Kairo Sabtu Ini untuk Bahas Gencatan Senjata di Gaza

Hamas Sebut Delegasinya Akan ke Kairo Sabtu Ini untuk Bahas Gencatan Senjata di Gaza

Global
[POPULER GLOBAL] Pelapor Kasus Boeing Tewas | Pria India Nikahi Ibu Mertua 

[POPULER GLOBAL] Pelapor Kasus Boeing Tewas | Pria India Nikahi Ibu Mertua 

Global
Saat Warga Swiss Kian Antusias Belajar Bahasa Indonesia...

Saat Warga Swiss Kian Antusias Belajar Bahasa Indonesia...

Global
Lulus Sarjana Keuangan dan Dapat Penghargaan, Zuraini Tak Malu Jadi Pencuci Piring di Tempat Makan

Lulus Sarjana Keuangan dan Dapat Penghargaan, Zuraini Tak Malu Jadi Pencuci Piring di Tempat Makan

Global
Bendungan di Filipina Mengering, Reruntuhan Kota Berusia 300 Tahun 'Menampakkan Diri'

Bendungan di Filipina Mengering, Reruntuhan Kota Berusia 300 Tahun "Menampakkan Diri"

Global
Pria India Ini Jatuh Cinta kepada Ibu Mertuanya, Tak Disangka Ayah Mertuanya Beri Restu Menikah

Pria India Ini Jatuh Cinta kepada Ibu Mertuanya, Tak Disangka Ayah Mertuanya Beri Restu Menikah

Global
Perbandingan Kekuatan Militer Rusia dan Ukraina

Perbandingan Kekuatan Militer Rusia dan Ukraina

Internasional
Setelah Punya Iron Dome, Israel Bangun Cyber Dome, Bagaimana Cara Kerjanya?

Setelah Punya Iron Dome, Israel Bangun Cyber Dome, Bagaimana Cara Kerjanya?

Global
Protes Pro-Palestina Menyebar di Kampus-kampus Australia, Negara Sekutu Israel Lainnya

Protes Pro-Palestina Menyebar di Kampus-kampus Australia, Negara Sekutu Israel Lainnya

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com