Pemerintahan Baru Israel Dikhawatirkan Bisa Lebih Keras ke Palestina

Kompas.com - 14/06/2021, 20:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Lengsernya rezim 12 tahun Benjamin Netanyahu, menimbulkan pertanyaan tentang penyelesaian konflik Israel-Palestina di bawah pemerintahan baru Israel.

Tapi, naiknya Naftali Bennett sebagai Perdana Menteri Israel, justru dikhawatirkan bisa lebih keras pada Palestina untuk memenangkan suara publik.

Baca juga: PM Israel Naftali Bennett Ahli Berbisnis, Pernah Tarik Investor Jutaan Dolar AS

“Karena kedua kubu politik di Israel sama-sama kanan, yang akan kita saksikan, menurut saya adalah persaingan adu keras terhadap Palestina,” ujar Dinna Prapto Raharja, Praktisi dan Pengajar Hubungan Internasional kepada Kompas.com pada Senin (14/6/2021).

Menurut Dinna, sebutan “partai kiri” yang sering dilontarkan untuk koalisi Bennett hanyalah label yang dilontarkan oleh Netanyahu. Sementara pada kenyataannya keduanya tidak berbeda, keduanya sama-sama garis kanan.

Yang terlihat jelas saat ini adalah bahwa Netanyahu dengan kubu partai-partai pendukungnya, rata-rata berisi partai evangelis yang bergaris kanan keras.

Mereka sangat tidak senang dengan penyingkiran Netanyahu, sementara Bennet dilihat sebagai bencana.

Sementara Bennet sendiri adalah garis kanan, meski koalisinya lebih “warna-warni” dibandingkan koalisi Netanyahu.

Baca juga: Israel Ganti Pemerintahan, Palestina Sambut dengan Curiga

“Keduanya berpotensi menggunakan cara-cara populis untuk menarik dukungan massa lewat media, dan cara-cara kekerasan biasanya digunakan untuk menggalang dukungan secara cepat,” terang Dinna yang juga Pendiri Synergy Policies.

“Adu popularitas” ini menurutnya jadi hal yang krusial, mengingat koalisi Bennet hanya menang tipis dari segi mayoritas kursi di Knesset (Parlemen Israel), yaitu beda 1 suara dengan koalisi Netanyahu.

Koalisi Bennet yang isinya “warna-warni” dinilai akan membuat politik dalam negeri Israel sendiri tidak stabil.

Bahkan Dinna menyangsikan jika tokoh kuat lain di kubu tersebut yakni Yair Lapid, sepenuhnya sehati dan sepandangan dengan cara-cara Bennet.

“Netanyahu justru sudah bersuara pada Hamas agar tunggu saja Karena dalam waktu singkat ia akan meruntuhkan koalisi Bennet.”

Jadi menurutnya, belum ada arah perdamaian Israel dengan Hamas meski Pemerintahan Baru Israel berkuasa.

Baca juga: Partai Islam Israel yang Menangkan Naftali Bennett Bersumpah Rebut Kembali Tanahnya

Ada pun rentannya posisi PM Israel yang baru ini dinilai akan membuat Bennet harus beradu popularitas dengan cara keras terhadap Hamas. Itu mengingat publik Israel yang cenderung condong mendukung cara tersebut juga.

Praktisi Hubungan Internasional itu mengamati ketegangan media antar kubu di Israel. Baik koalisi Bennet maupun Netanyahu, diyakini akan fokus ke penguatan citra masing-masing kubunya pada konstituen di dalam negeri.

“Sementara kemungkinan tetangga-tetangga Israel akan “wait and see.” Yang menarik justru bagaimana Bennet maupun Netanyahu berelasi dengan Biden di AS.” ujarnya.

Pasalnya saat ini, Pemerintah Amerika Serikat di bawah Joe Biden terlihat ingin ada suasana dialogis antara Israel-Palestina.

Sementara kubu Netanyahu cukup agresif memastikan AS tetap bertahan dengan posisi dukungan penuh pada Israel, dalam menghadapi Palestina seperti pada masa Donald Trump.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Kompas.com

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota New York Cari Pemburu Tikus, Dibayar Rp 2,6 Milliar

Wali Kota New York Cari Pemburu Tikus, Dibayar Rp 2,6 Milliar

Global
Sekolah Ukraina Tetap Masuk di Tengah Padamnya Listrik akibat Serangan Rusia

Sekolah Ukraina Tetap Masuk di Tengah Padamnya Listrik akibat Serangan Rusia

Global
Protes Iran: Perempuan Minoritas dan Pria Habis Sholat Jumat Kembali Turun ke Jalan

Protes Iran: Perempuan Minoritas dan Pria Habis Sholat Jumat Kembali Turun ke Jalan

Global
Presiden Perancis Diskusi dengan Elon Musk, Bahas Kebijakan Platform

Presiden Perancis Diskusi dengan Elon Musk, Bahas Kebijakan Platform

Global
Bahaya Ideologi Supremasi Kulit Putih di AS, Benarkah Bangkit Kembali?

Bahaya Ideologi Supremasi Kulit Putih di AS, Benarkah Bangkit Kembali?

Global
Letusan Gunung Mauna Loa, Perayaan Spiritual bagi Warga Hawaii

Letusan Gunung Mauna Loa, Perayaan Spiritual bagi Warga Hawaii

Global
Anwar Ibrahim Umumkan Susunan Kabinet, Pilih Wakil PM dengan Gugatan Korupsi

Anwar Ibrahim Umumkan Susunan Kabinet, Pilih Wakil PM dengan Gugatan Korupsi

Global
Kanye West Puji Adolf Hitler, Begini Peringatan Keras Joe Biden

Kanye West Puji Adolf Hitler, Begini Peringatan Keras Joe Biden

Global
Presidensi G20 India: Apa Artinya dan Agendanya?

Presidensi G20 India: Apa Artinya dan Agendanya?

Global
Uang Rp 327 Juta Jatuh di Jalan, Warga Swiss Kembalikan Utuh

Uang Rp 327 Juta Jatuh di Jalan, Warga Swiss Kembalikan Utuh

Global
Media Asing Soroti RKUHP, Sektor Bisnis Sebut Investor Pikir-pikir Masuk Indonesia

Media Asing Soroti RKUHP, Sektor Bisnis Sebut Investor Pikir-pikir Masuk Indonesia

Global
Xi Jinping Akui Rakyatnya Frustrasi, Isyaratkan Pelonggaran Aturan Covid-19

Xi Jinping Akui Rakyatnya Frustrasi, Isyaratkan Pelonggaran Aturan Covid-19

Global
Resmi, Uni Eropa Sepakat Batasi Harga Minyak Rusia, Tekan Pendapatan Moskwa

Resmi, Uni Eropa Sepakat Batasi Harga Minyak Rusia, Tekan Pendapatan Moskwa

Global
Kunjungan Utusan Khusus AS untuk LGBTQI+ Jessica Stern ke Indonesia Resmi Dibatalkan

Kunjungan Utusan Khusus AS untuk LGBTQI+ Jessica Stern ke Indonesia Resmi Dibatalkan

Global
Rangkuman Hari Ke-282 Serangan Rusia ke Ukraina: Kyiv Kehilangan 13.000 Tentara, Putin Terbuka Negosiasi

Rangkuman Hari Ke-282 Serangan Rusia ke Ukraina: Kyiv Kehilangan 13.000 Tentara, Putin Terbuka Negosiasi

Global
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.