Kompas.com - 01/02/2021, 14:43 WIB
Biksu Buddha naik truk setelah ikut serta dalam aksi protes untuk menuntut penyelidikan untuk menyelidiki Komisi Pemilihan Umum (UEC) di Yangon pada Sabtu (30/1/2021), karena kekhawatiran  tentang kemungkinan kudeta oleh militer atas kekhawatiran penipuan pemilu. AFP/SAI AUNG MAINBiksu Buddha naik truk setelah ikut serta dalam aksi protes untuk menuntut penyelidikan untuk menyelidiki Komisi Pemilihan Umum (UEC) di Yangon pada Sabtu (30/1/2021), karena kekhawatiran tentang kemungkinan kudeta oleh militer atas kekhawatiran penipuan pemilu.

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Suhu politik di Myanmar kembali memanas dengan kudeta militer yang terjadi pada Senin dini hari waktu setempat (1/2/2021).

Para pemimpin sipil seperti Aung San Suu Kyi maupun Presiden Win Myint diserbu di kediamannya dan ditangkap.

Pihak militer kemudian mengumumkan bahwa mereka mengangkat Wakil Presiden Myint Swe sebagai penjabat presiden.

Baca juga: Kudeta Militer Myanmar dan 10 Tahun Demokrasi yang Penuh Gejolak

Selain itu, mereka juga mengumumkan status darurat selama setahun, dengan segala urusan sementara akan diserahkan ke Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

Kudeta militer itu jelas mengagetkan seluruh dunia, dengan banyak pemimpin negara yang melontarkan kecaman, berikut di antaranya seperti dikutip AFP.

1. Amerika Serikat (AS)

Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki menyatakan, Washington akan bertindak jika sampai kudeta itu tetap dilaksanakan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Psaki menjelaskan AS menentang segala bentuk upaya untuk membatalkan kemenangan partai Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Dalam pemilihan November 2020, NLD meraih kemenangan telak, yang kemudian mendapatkan oposisi dari partai yang disokong militer.

Baca juga: Kudeta Militer Terjadi di Myanmar, Ini Fakta yang Berhasil Terhimpun

Menteri Luar Negeri Antony Blinken menyerukan agar junta melepaskan seluruh pemimpin sipil yang mereka tangkap.

"Mereka juga harus menghormati kehendak rakyat Burma (nama lama Myanmar), seperti yang ditunjukkan dalam pemilu 8 November," papar Blinken.

Halaman:

Sumber AFP
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X