Selongsong Peluru Artileri Asal China Diubah Pria Ini jadi 400.000 Pisau Dapur

Kompas.com - 30/10/2020, 17:41 WIB
Foto yang diambil pada 21 Oktober 2020 ini menunjukkan pandai besi Taiwan Wu Tseng-dong (kanan), pemilik pabrik pisau, memberikan demonstrasi kepada wisatawan cara membuat pisau dari selongsong peluru artileri China yang ditembakkan beberapa dekade lalu dari Xiamen di daratan di pulau Kinmen Taiwan - yang terletak di lepas pantai daratan China. Dalam sentuhan kontemporer pada pemukulan pedang menjadi mata bajak, pandai besi Taiwan Wu Tseng-dong telah menempa karir mengubah peluru artileri China yang pernah ditembakkan menjadi pisau dapur dengan amarah. SAM YEH/AFPFoto yang diambil pada 21 Oktober 2020 ini menunjukkan pandai besi Taiwan Wu Tseng-dong (kanan), pemilik pabrik pisau, memberikan demonstrasi kepada wisatawan cara membuat pisau dari selongsong peluru artileri China yang ditembakkan beberapa dekade lalu dari Xiamen di daratan di pulau Kinmen Taiwan - yang terletak di lepas pantai daratan China. Dalam sentuhan kontemporer pada pemukulan pedang menjadi mata bajak, pandai besi Taiwan Wu Tseng-dong telah menempa karir mengubah peluru artileri China yang pernah ditembakkan menjadi pisau dapur dengan amarah.

TEIPEI, KOMPAS.com - Seorang pandai besi Taiwan, Wu Tseng-dong membuat 400.000 pisau dari bahan peluru meriam propaganda China yang pernah menyerang rumahnya sejak 1949. 

Dikenal sebagai "Maestro Wu" oleh warga lokal, Wu Tseng-dong memiliki bengkel besi di rumahnya di pulau Kinmen yang terletak 3,2 kilometer dari pusat daratan China, yang dibayangi ancaman perang terus-menerus.

China memandang Taiwan sebagai wilayah pemerintahannya sendiri dan bersumpah suatu hari akan merebutnya, jika perlu dengan kekerasan.

Seperti banyak generasi tua yang tinggal di Kinmen, Wu tumbuh di bawah bersama dengan banyaknya serangan bom.

Bahkan setelah China perang saudara pada 1949, ditinggalkan Komunis Mao Zedong yang bertanggung jawab atas daratan dan Nasionalis Chiang Kai-shek di Taiwan, pulau itu terus ditembaki oleh pasukan komunis.

Wu lahir tak lama sebelum pemboman terburuk terjadi pada 1958, ketika hampir setengah juta peluru ditembakkan ke Kinmen dan pulau-pulau terdekat lainnya selama periode 44 hari, yang menewaskan 618 orang dan melukai lebih dari 2.600 orang.

Baca juga: 200 Hari Tanpa Kasus Covid-19, Ini Rumus Keberhasilan Taiwan

Melansir AFP pada Jumat (30/10/2020), amunisi masih berjatuhan hingga 1970-an, meskipun pada saat itu amunisi hanya sebagai propaganda dan tidak berisi bahan peledak. 

Wu memiliki kenangan masa kecil yang jelas saat bersembunyi di tempat penampungan serangan udara bersama keluarganya di malam hari sambil memungut pecahan logam di siang hari.

"Saya ingat ketakutan yang kami rasakan di malam hari," katanya kepada AFP.

"Penembakan mungkin terlihat menarik di film, semakin intens semakin menarik, tetapi pada kenyataannya itu sangat berbahaya," ujarnya.

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X