UGM: 3 Persoalan Besar Kesehatan Mental di Pandemi Covid-19

Kompas.com - 15/10/2020, 11:04 WIB
Ilustrasi virus corona, Covid-19 ShutterstockIlustrasi virus corona, Covid-19

KOMPAS.com - Tiga persoalan besar kesehatan mental banyak muncul di tengah pandemi Covid-19. Hal ini ditakutkan dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat Indonesia.

"Pertama, pembatasan sosial membuat kecenderungan mental yang rentan, sehingga rentan terjadi kekerasan dalam keluarga," ucap Pakar Kesehatan Jiwa UGM, Ronny Tri Wirasto dalam keterangannya, melansir laman UGM, Rabu (14/10/2020).

Baca juga: Mitigasi Covid-19, 230 Tenaga Kependidikan Unpad Lakukan Tes Swab

Dia menjelaskan, pembatasan sosial berpengaruh pada kesehatan mental, karena manusia harus beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Jika sebelum pandemi terbiasa berinteraksi langsung dengan orang lain, tetapi situasi saat ini menyebabkan seseorang tiba-tiba harus membatasi melakukan interaksi secara langsung.

Situasi ini, bilang dia, bukanlah hal yang mudah, terlebih di tengah suasana yang penuh dengan ketidakpastian memunculkan rasa cemas, khawatir, ketakutan, stres, hingga depresi.

"Dengan kata lain kondisi mental menjadi lebih rentan atau labil. Keadaan itu tak jarang memicu perilaku kekerasan di dalam keluarga," tutur dia.

Hal kedua, pandemi Covid-19 menjadikan penggunaan internet meningkat. Kebijakan pembatasan sosial membuat internet sebagai bagian penting dalam aktivitas masyarakat hingga menimbulkan adiksi/kecanduan.

"Perilaku adiksi internet ini salah satunya karena seseorang mencari informasi terkait Covid-19," ungkap dia.

Masalah ketiga, lanjut dia, pandemi ini juga memunculkan fenomena kecanduan pada game online. Sebab, kondisi yang memaksa harus banyak beraktivitas di rumah menjadikan waktu untuk menyalurkan hobi bermain game online menjadi lebih banyak.

"Kalau ini berlangsung terus-menerus bisa mengakibatkan kelelahan, over atensi atau perhatian berlebihan terhadap sesuatu, dan menurunnya kesadaran terhadap stimulasi sekitar," tegas dia.

Selain ketiga masalah yang muncul tersebut, kerentanan mental pada pasien yang telah sembuh dari Covid-19 juga menjadi persoalan besar dalam kesehatan mental di tengah pendemi ini.

Hal tersebut terjadi, karena masih adanya stigma atau pelabelan pada pasien di masyarakat.

"Stigma di masyarakat ini menjadikan pasien yang sembuh dari Covid-19 memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi dibanding saat belum terpapar Covid-19," jelas Ronnny.

Baca juga: 1.108 Mahasiswa Siap Terjun Jadi Duta Perubahan Perilaku Covid-19

Melihat masih banyaknya persoalan kesehatan mental di masyarakat, Ronny mengimbau kepada setiap individu atau masyarakat untuk menciptakan suasana yang ramah dan penuh kasih bagi sekitar.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X