Silvanus Alvin
Dosen

Silvanus Alvin adalah dosen di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan penulis buku Komunikasi Politik di Era Digital: dari Big Data, Influencer Relations & Kekuatan Selebriti, Hingga Politik Tawa.

Perlunya Sentuhan PR di Holywings

Kompas.com - 28/06/2022, 10:39 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEBANYAK enam pegawai Holywings ditangkap polisi dan terancam hukuman penjara 10 tahun. Nasib malang menimpa mereka akibat melaksanakan strategi promosi yang dianggap menista agama tertentu. Salah satu pemegang saham cum selebriti Hotman Paris membantah adanya keterlibatan pimpinan Holywings atas promosi yang menuai kontroversi tersebut.

Dalam kacamata public relations (PR), kasus yang dihadapi Holywings dapat dikategorikan sebagai krisis. Secara umum, krisis dapat didefinisikan sebagai kejadian terkontrol maupun tidak terkontrol yang dapat merusak citra dan reputasi organisasi di dalam benak para pemangku kepentingan (stakeholder).

Baca juga: 250 Personel Satpol PP Diterjunkan untuk Segel 12 Outlet Holywings di Jakarta

Di setiap krisis, ada tiga upaya yang berusaha dilakukan oleh organisasi, yakni meyakinkan para pemangku kepentingan bahwa tidak ada krisis yang terjadi, meminimalisir asumsi negatif berlebihan atas krisis, dan mengingatkan kembali sisi positif organisasi pra-krisis.

Demi mewujudkan tiga upaya tersebut, Coombs (1998) memetakan tujuh strategi komunikasi krisis. Pertama, menyerang penuduh (attack the accuser) yakni melakukan konfrontasi pada individu atau kelompok yang klaim bahwa terjadi krisis. Tingkat ekstremnya strategi ini bisa dimulai dengan melakukan gugatan hukum hingga ancaman pada penuduh.

Strategi kedua ialah menyangkal (denial), yang umumnya dilakukan ketika organisasi meyakini tidak ada krisis yang terjadi dengan penjelasan-penjelasan logis. Strategi ketiga adalah mengakui adanya krisis disertai alasan (excuse) manakala krisis yang terjadi berada di luar kontrol organisasi. Strategi keempat berfokus pada justifikasi yang berpusat pada sisi positif yang tampak dari krisis.

Strategi kelima yaitu bersikap dan berlaku baik (ingratiation) agar pemangku kepentingan tetap menyukai organisasi. Strategi keenam adalah aksi-aksi untuk mencegah krisis yang sama terulang kembali (corrective action). Terakhir, strategi meminta maaf secara menyeluruh (full apology) dan umumnya menunjukkan keseriusan permintaan maaf dengan memberikan kompensasi bagi yang terdampak atas krisis tersebut.

Melihat penjelasan dari tujuh strategi di atas, secara kasatmata Holywings menerapkan strategi denial dan permintaan maaf. Meski demikian, melihat perkembangan kasus yang masih terjadi, kedua strategi yang diambil masih belum efektif meredam krisis yang terjadi.

Coombs dan Holladay (1996) menjelaskan bahwa krisis tidak hanya dibatasi pada kasus semata, melainkan juga persoalan intepretasi dari para pemangku kepentingan. Masyarakat umum adalah salah satu pemangku kepentingan yang tentunya memiliki pandangan atas kasus Holywings. Misalnya saja, bisa timbul kesan cuci tangan pimpinan Holywings terhadap para pekerjanya.

Dalam penangangan krisis di level organisasi seperti Holywings, sisi internal tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Rasa persatuan (morale) dari para karyawan di Holywings juga perlu mendapat perhatian karena mereka juga termasuk salah satu pemangku kepentingan.

Upacara persiapan penyegelan 12 outlet Holywings oleh Satpol PP DKI Jakarta di Lapangan Balaikota DKI Jakarta, Selasa (28/6/2022).KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONO Upacara persiapan penyegelan 12 outlet Holywings oleh Satpol PP DKI Jakarta di Lapangan Balaikota DKI Jakarta, Selasa (28/6/2022).
Belajar dari Kasus Domino’s Pizza

Pada 2009, Domino’s Pizza di Amerika Serikat (AS) menghadapi krisis yang terjadi di luar kontrol organisasi. Dua pegawai di cabang Conover, Carolina Utara membuat video prank manakala menyiapkan pizza dengan cara-cara tidak higienis. Kemudian, video tersebut diunggah ke YouTube.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.